Korban Tewas Topan Kalmaegi di Filipina Capai 114 Orang, Badai Menuju Vietnam
Korban tewas di Filipina akibat Topan Kalmaegi meningkat menjadi 114 orang, dengan 127 orang lainnya masih hilang pada Kamis (6/11). Badai yang menghancurkan wilayah tengah negara itu kembali menguat dan kini tengah bergerak menuju Vietnam.
Mengutip Reuters, sekitar 350.000 orang di Provinsi Gia Lai, Vietnam telah dievakuasi pada siang hari. pihak berwenang memperingatkan hujan lebat dan angin kencang yang dapat menyebabkan banjir di daerah dataran rendah dan mengganggu aktivitas pertanian.
Di provinsi Cebu yang paling parah dilanda banjir di Filipina, skala kerusakan semakin jelas ketika air banjir mulai surut dan memperlihatkan rumah-rumah yang rata dengan tanah. Kendaraan terbalik dan jalanan dipenuhi puing-puing.
Lebih dari 200.000 orang dievakuasi di Filipina menjelang Topan Kalmaegi pada Selasa (4/11). Beberapa orang telah kembali dan mendapati rumah mereka hancur, sedangkan yang lain telah memulai pembersihan yang berat, membersihkan lumpur dari rumah dan jalanan mereka.
"Tantangannya saat ini adalah pembersihan puing-puing.. Ini perlu segera dibersihkan, tidak hanya untuk memastikan mereka yang hilang yang mungkin berada di antara puing-puing atau mungkin telah mencapai daerah aman, tetapi juga untuk memungkinkan operasi bantuan berlanjut," ujar Raffy Alejandro, seorang pejabat senior pertahanan sipil, kepada radio DZBB.
Meski Topan Kalmaegi telah meninggalkan zona pemantauan Filipina, para peramal cuaca memantau badai yang sedang terbentuk di sebelah timur Mindanao yang tengah menguat menjadi topan dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi dampak awal minggu depan. Kehancuran akibat Kalmaegi, badai ke-20 yang melanda Filipina tahun ini, terjadi hanya sebulan setelah gempa bumi berkekuatan 6,9 melanda Cebu utara dan menewaskan puluhan orang.
Saat Kalmaegi bergerak melintasi Laut Cina Selatan sebelum mencapai daratan di Vietnam, kekuatannya kembali pulih. Badai ini diperkirakan akan berdampak pada beberapa provinsi di wilayah tengah, termasuk daerah penghasil kopi utama, tempat musim panen sedang berlangsung.
Pihak berwenang mengerahkan ribuan tentara untuk membantu evakuasi, operasi penyelamatan, dan upaya pemulihan.
