Profil Estadio Azteca: Arena Pembuka Piala Dunia 2026, Saksi Gol Tangan Tuhan

Muhamad Fajar Riyandanu
14 Mei 2026, 05:00
Piala Dunia
Instagram/stadiums.de
Pemandangan umum Estadio Azteca di Mexico City, Meksiko, yang akan menjadi arena laga pembuka Piala Dunia 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Piala Dunia kerap menjadi panggung yang bukan hanya menghadirkan persaingan antarnegara, tetapi juga meromantisasi stadion-stadion bersejarah.

Estadio Azteca adalah salah satunya. Venue ini menjadi panggung laga pembuka antara tuan rumah Meksiko dan Afrika Selatan yang akan berlangsung pada 12 Juni nanti.

Penetapan Meksiko melawan Afrika Selatan sebagai laga pembuka Piala Dunia 2026 menciptakan jembatan nostalgia yang kuat dengan Piala Dunia 2010. Pertandingan di Johannesburg 16 tahun silam, yang dikenang melalui gol Siphiwe Tshabalala dan tiupan vuvuzela, kini dipindahkan ke dataran tinggi Kota Meksiko.

Nuansa nostalgia itu kian lengkap dengan kembalinya Shakira yang dulu melekat lewat lagu Waka Waka. Ia kini membawa tembang baru berjudul "Dai Dai" bersama Burna Boy sebagai lagu resmi yang digadang-gadang mewarnai turnamen Piala Dunia edisi 2026.

Saksi Bisu 'Gol Tangan Tuhan' Maradona

FIFA mencatat Estadio Azteca menyimpan gema masa lalu yang paling agung dalam sepak bola. Stadion ini bersiap untuk mengukir sejarah sebagai satu-satunya venue yang menyelenggarakan tiga pertandingan pembukaan Piala Dunia, setelah sebelumnya menjadi panggung perdana pada 1970 dan 1986.

Signifikansi Azteca tidak hanya terletak pada kapasitasnya yang mencapai 83 ribu penonton, tetapi pada "kemagisan" tanahnya yang pernah menyaksikan Pelé dan Diego Maradona mengangkat trofi Jules Rimet dan FIFA World Cup.

Pada final 1970, sebanyak 100 ribu penonton di stadion ini menyaksikan puncak sepak bola indah saat Brasil melumat Italia 4-1. Enam belas tahun kemudian, di bawah terik matahari Juni 1986, Azteca menjadi saksi "Gol Tangan Tuhan" karya Maradona yang mengalahkan Inggris di perempat final. Goal.com mendefinisikan gol "the Hand of God" itu sebagai batas antara kecurangan dan kejeniusan.

Konstruksi dari Batu Vulkanik

Pembangunan Stadion Azteca pada awal 1960-an merefleksikan ambisi Meksiko untuk tidak sekadar menjadi tuan rumah Piala Dunia. Tetapi juga menghadirkan turnamen terbaik yang pernah disaksikan dunia.

Petinggi federasi sepak bola Meksiko saat itu, Guillermo Canedo, menjadi motor utama proyek ini dengan visi melampaui kemegahan Maracanã di Brasil. Untuk mewujudkannya, arsitek Pedro Ramírez Vázquez menghadapi tantangan geologis yang tidak ringan. Ia harus memastikan fondasi stadion tetap kokoh di kawasan Santa Úrsula yang mewajibkan peledakan sekitar 180 juta kg batu vulkanik.

Upaya itu menghasilkan sebuah "Colosseum" modern dengan tribun curam yang dirancang secara presisi. Desain tersebut mengarahkan dan memperkuat gema suara penonton hingga membentuk dinding kebisingan—sebuah atmosfer yang mampu menekan mental lawan sejak mereka menginjakkan kaki di lapangan.

"Ada sesuatu yang sangat istimewa tentang Azteca," kata Pele. "Anda perlu berada di dalamnya, merasakannya untuk memahaminya. Stadion ini unik."

Estadio Azteca mengalami renovasi besar-besaran yang rampung pada awal 2026. Peremajaan itu mencakup pemasangan layar LED, panel surya, dan penggunaan permukaan lapangan hibrida. Kombinasi rumput stadion alami dan sintetis menjadi upaya untuk merawat warisan Estadio Azteca tanpa mengorbankan tuntutan kenyamanan dan standar modern.

'Kutukan' Laga Pembuka Meksiko

beIN SPORTS menuliskan, bagi Meksiko, laga pembuka Piala Dunia bukan sekadar pertandingan pertama—melainkan panggung dengan beban sejarah yang tak ringan.

Sebagai salah satu negara yang paling sering tampil di laga pembuka, Meksiko justru memiliki catatan yang kurang menggembirakan. Dalam tujuh kesempatan sebelumnya, El Tricolor, julukan Timnas Meksiko, belum pernah sekalipun meraih kemenangan.

Sejarah itu dimulai pada edisi perdana Piala Dunia FIFA 1930, ketika Meksiko harus mengakui keunggulan Prancis dengan skor 1-4. Kekalahan demi kekalahan kemudian berlanjut, termasuk saat menghadapi Tim Samba Brasil pada 1950 (0-4) dan 1954 (0-5). Tren negatif itu terus berlanjut di edisi-edisi berikutnya, antara lain kalah dari Swedia pada 1958 (0-3) dan dari Cile pada 1962 (0-2).

Perbaikan nasib terlihat pada 1970 ketika Meksiko menjadi tuan rumah. Mereka dapat menghentikan rentetan kekalahan tersebut dengan menahan imbang Uni Soviet tanpa gol. Hasil serupa kembali terulang puluhan tahun kemudian, saat bermain imbang 1-1 melawan Afrika Selatan di Stadion Soccer City, Johannesburg, pada 11 Juni 2010 lalu.

Kini, pada edisi Piala Dunia FIFA 2026, Meksiko dijadwalkan tampil lagi di laga pembuka dengan kembali menghadapi Afrika Selatan.

Pertandingan pembuka di Estadio Azteca tak lagi sekadar laga perdana Grup A, melainkan menjelma sebagai ritual simbolik untuk mengusir bayang-bayang kegagalan masa lalu di hadapan publik sendiri yang menuntut kejayaan. Meksiko tergabung dalam Grup A yang berisi tiga peserta lainnya, yakni Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Ceko. Pada gelaran piala dunia tahun ini, FIFA yang memperbanyak jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim nasional.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...