8 Kandidat Berebut Kursi Bos PBB, dari Mantan Presiden hingga Diplomat

Ahmad Islamy
23 Agustus 2026, 10:55
PBB
un.org
Logo Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB (ilustrasi).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemilihan sekretaris jenderal (sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-10 akan berlangsung tahun ini. Pemenangnya akan menjalani masa jabatan lima tahun mulai 1 Januari 2027, menggantikan Antonio Guterres yang masa jabatannya segera berakhir.

Reuters melansir, jajak pendapat informal kedua yang digelar pada Jumat (21/8) menunjukkan Carolyn Rodrigues Birkett dari Guyana unggul tipis, menurut sumber yang mengetahui proses tersebut.

Sejumlah kandidat dari berbagai negara kini bersaing untuk menduduki posisi tertinggi di organisasi internasional tersebut. Berikut profil para kandidat yang sejauh ini masuk dalam persaingan:

Rafael Grossi

Rafael Grossi, 65 tahun, merupakan diplomat karier asal Argentina yang selama enam tahun terakhir memimpin Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebagai direktur jenderal.

IAEA telah lama mengawasi program nuklir Iran. Grossi turut memimpin diplomasi untuk mempertahankan sebagian kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan negara-negara besar setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menarik Washington dari kesepakatan tersebut pada 2018.

Namun, pendekatannya terhadap Iran juga menuai kritik. Sejumlah pihak menilai Grossi terlalu jauh dalam upayanya mencapai kesepakatan dengan Teheran.

Grossi, yang memiliki delapan anak dan menguasai sejumlah bahasa, meningkatkan profilnya melalui diplomasi dalam berbagai krisis internasional.

Salah satu pencapaian utamanya adalah keberhasilan menempatkan tim kecil IAEA di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang berada di bawah pendudukan Rusia di Ukraina.

Sejumlah diplomat menilai Grossi sebagai salah satu kandidat terkuat setelah bertahun-tahun berupaya mempertahankan hubungan dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Dukungan kelima negara tersebut dinilai sangat penting untuk memenangkan posisi sekretaris jenderal.

Namun, Rusia telah menyatakan keberatan terhadap pencalonannya.

Rebeca Grynspan

Rebeca Grynspan, 70 tahun, menggambarkan dirinya sebagai seorang multilateralist reformis yang sepanjang kariernya menghadapi hambatan berbasis gender dan memiliki komitmen terhadap PBB, perdamaian, pembangunan serta hak asasi manusia.

Mantan wakil presiden Kosta Rika tersebut saat ini memimpin Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD). Grynspan mengatakan telah menarik diri dari tugasnya hingga September untuk menghindari potensi konflik kepentingan selama kampanye.

Jika terpilih, Grynspan akan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai sekretaris jenderal PBB.

Ia mengatakan perjalanan kariernya di PBB menuntut sejumlah kompromi antara kehidupan keluarga dan pelayanan publik. Pengalamannya sebagai perempuan pertama yang memimpin UNCTAD juga disebut membentuk gaya kepemimpinannya.

“Saya tidak mengharapkan perlakuan khusus. Saya menginginkan perlakuan yang setara,” kata Grynspan kepada Reuters.

Sebagai seorang ekonom, Grynspan menyebut dirinya sebagai “pemimpin yang matang” yang akan mendorong PBB menjadi organisasi yang lebih gesit melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya.

Michelle Bachelet

Michelle Bachelet, 74 tahun, merupakan mantan presiden Cile selama dua periode dan pernah menjabat sebagai Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Ia juga pernah menjadi direktur eksekutif UN Women pada 2010-2013.

Bachelet mendapat dukungan dari Brasil dan Meksiko. Namun, pada Maret 2026, Cile menarik dukungannya setelah terjadi pergeseran haluan politik ke garis kanan di negara tersebut.

Pencalonannya juga menghadapi penolakan dari kalangan konservatif di AS karena pandangannya yang mendukung hak aborsi.

Pada April, utusan AS untuk PBB Mike Waltz tampaknya turut menghambat pencalonannya dengan menyatakan kekhawatiran terkait kelayakan Bachelet.

Senator Partai Republik AS, Pete Ricketts, sebelumnya mengkritik Bachelet karena dinilai tidak cukup tegas saat menjabat sebagai kepala badan HAM PBB dalam menyebut perlakuan Cina terhadap kaum muslim Uighur sebagai genosida. Pemerintah Cina sendiri belum menyatakan sikap mengenai pencalonannya.

Macky Sall

Macky Sall, 64 tahun, adalah ahli geologi yang menjabat sebagai presiden Senegal selama 12 tahun hingga 2024.

Sall dikenal mendorong agenda negara-negara berkembang, termasuk terkait beban utang. Ia juga menyerukan reformasi Dewan Keamanan PBB agar negara-negara berkembang memperoleh representasi yang lebih besar, termasuk kemungkinan mendapatkan kursi tetap.

“Lebih dari sebelumnya, multilateralisme yang diperbarui tetap menjadi cara terbaik untuk menanggapi tantangan dunia yang sedang mengalami transformasi penuh,” tulis Sall di X.

Sall dicalonkan oleh Burundi. Jika terpilih, ia akan menjadi sekretaris jenderal PBB ketiga dari Afrika setelah Boutros Boutros-Ghali dan Kofi Annan.

Maria Fernanda Espinosa

Maria Fernanda Espinosa, 61 tahun, adalah diplomat asal Ekuador yang pernah menjabat sebagai menteri luar negeri dan menteri pertahanan di pemerintahan mantan Presiden Rafael Correa.

Ia dicalonkan oleh Antigua dan Barbuda.

Espinosa juga pernah memberikan nasihat kepada PBB dan berbagai organisasi nonpemerintah mengenai keanekaragaman hayati, perubahan iklim dan kebijakan masyarakat adat.

Pengalamannya sebagai duta besar Ekuador untuk PBB serta presiden Majelis Umum PBB dinilai memberinya pemahaman mendalam mengenai organisasi tersebut.

Dalam pernyataan visinya, Espinosa mengatakan pencalonannya didasarkan pada kebutuhan untuk memperkuat kembali efektivitas dan otoritas PBB.

“Saya mengajukan pencalonan yang didasarkan pada keyakinan sederhana: PBB harus memulihkan keberanian untuk memprioritaskan, disiplin untuk memberikan hasil, dan kepercayaan politik untuk bertindak dengan tujuan,” katanya.

Carolyn Allison Farida Rodrigues Birkett

Carolyn Allison Farida Rodrigues Birkett merupakan diplomat karier dan mantan politikus Guyana yang telah menjabat sebagai perwakilan tetap negara tersebut untuk PBB sejak 2020.

Ia merupakan perempuan pertama dan orang pribumi berpangkat tertinggi yang pernah menjabat sebagai menteri luar negeri Guyana.

Rodrigues Birkett juga pernah menduduki sejumlah posisi senior di Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Jika terpilih, ia akan menjadi perempuan pertama sekaligus warga negara Karibia pertama yang memimpin PBB.

Dalam kampanyenya, Rodrigues Birkett berjanji meningkatkan efektivitas PBB dengan memperkuat upaya pencegahan konflik dan mendorong aksi terhadap perubahan iklim.

Dalam jajak pendapat informal kedua yang digelar Jumat (21/8), ia dilaporkan unggul tipis di antara para kandidat.

Olara Otunnu

Olara Otunnu, 75 tahun, adalah diplomat Uganda dan mantan wakil sekretaris jenderal PBB yang dicalonkan oleh Uganda.

Otunnu menyerukan pemulihan otoritas moral PBB di tengah berbagai konflik dan krisis global. Ia merupakan kandidat tertua dalam persaingan saat ini.

Dalam pernyataan visinya, Otunnu menekankan pentingnya melanjutkan reformasi kelembagaan PBB. Ia juga berjanji memprioritaskan upaya untuk membantu mengakhiri konflik internasional utama.

Otunnu turut mengusulkan pembentukan badan yang mengawasi pekerjaan PBB di bidang kecerdasan buatan (AI). Ia juga menekankan pentingnya kebijakan perubahan iklim yang tetap mempertimbangkan kebutuhan pembangunan ekonomi.

Ivonne Baki

Ivonne Baki, 75 tahun, merupakan diplomat Ekuador yang lahir dari orang tua imigran Lebanon. Ia dicalonkan oleh Tonga pada Agustus.

Baki tinggal di Lebanon selama perang saudara pada 1975-1990. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar kampanyenya yang berfokus pada pencegahan konflik.

“Saya akan berada di lapangan, bukan hanya di meja di New York, di zona perang, di daerah-daerah yang tegang, melibatkan setiap pihak secara langsung untuk menghentikan konflik sebelum meletus,” kata Baki.

Baki sebelumnya mengatakan kepada radio Ekuador bahwa pencalonannya mendapat dukungan AS. Ia juga secara terbuka menyebut kedekatannya dengan Presiden Donald Trump dan mantan Presiden Bill Clinton.

Pemerintah AS belum memberikan komentar mengenai klaim dukungan tersebut.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...