Reza Gunawan Tutup Usia, Bankir yang Beralih ke Penyembuhan Holistik
Pakar penyembuhan holistik sekaligus suami penulis dan penyanyi Dewi Lestari, Reza Gunawan, 46, meninggal dunia pukul 11.53 WIB, Selasa (6/9). Sebelum meninggal, Reza sempat dirawat di rumah sakit akibat stroke pendarahan selama lebih dari sebulan.
Kabar duka tersebut pertana kali dikabarkan di media sosial oleh presenter Alvin Adam. "Telah berpulang mas Reza Gunawan, Selasa 6 September 2022 pukul 11.53 WIB. Jenazah saat ini disemayamkan di rumah duka Delatinos BSD City Tangerang Selatan,"kata Alvin dalam postingan Instagramnya, Selasa (6/9).
Empat hari sebelumnya, Dewi Lestari baru saja mengabarkan kondisi Reza Gunawan yang terkena stroke pendarahan. Reza sebenarnya telah dirawat sebulan lebih di rumah sakit, tapi Dewi sengaja membatasi kabar tentang kondisi suaminya.
"Sebelumnya saya segaja membatasi kabar ini agar privasi Reza selama di rumah sakit terjaga dan kami sekeluarga dapat lebih tenang mengelola berbagai hal yang harus kemai hadapi. Mohon dimaklumi," ujar Dewi Lestari dalam postingan Instagramnya.
Reza sempat dirawat di rumah untuk menjalani pemulihan. Hingga akhirnya dia dikabarkan meninggal dunia.
Profil Reza Gunawan
Reza gunawan lahir di Jakarta pada 21 Januari 1976. Dia merupakan pakar penyembuhan holistik Indonesia yang banyak memberikan bimbingan dan seminar mengenai pengobatan alternatif.
Dia sempat mengambil kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Reza bahkan sempat bekerja selama lima tahun sebagai profesional perbankan dan pasar modal.
Namun demikian, Reza sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia kesehatan sejak anak-anak. Saat ini dia dikenal sebagai terapis dan pengajar penyembuhan holistik yang memelopori berkembangnya kesehatan alami serta industri kesadaran di Indonesia. Reza juga merupakan pendiri dan pelopor klinik True Nature Holistic Healing.
Dikutip dari situs True Nature Holistic Healing, ketertarikan Reza pada dunia penyembuhan berawal pada 1988. Saat itu, Reza yang masih berusia 12 tahun bertemu seorang guru yang memperkenalkan terapi refleksi.
Dia begitu antusias untuk menyerap ilmu dari guru tersebut dan langsung mempraktekannya. Sayangnya pertemuan dengan guru ini tidak lama. Namun, bagaikan menemukan hobi utamanya, Reza pun meneruskan perjalanannya menekuni berbagai teknik penyembuhan.
Pada tahun 1990, Reza tergabung dalam angkatan pertama penyembuhan prana di Indonesia dan sekaligus menjadi peserta termuda. Saat itu, tidak terlintas sama sekali bahwa penyembuhan akan menjadi jalur hidup utamanya. Setahun kemudian, Reza belajar meditasi dan yoga. Dia juga memutuskan untuk menjadi vegetarian pada usianya yang hanya 15 tahun.
Saat kuliah, Reza semakin mendalami ajaran penyembuhan seperti olah nafas, meditasi, reiki, yoga, akupresur, dan lainnya. Dia menganggap hal itu bagaikan serangkaian sekolah informal yang perlahan mempersiapkannya untuk membantu selarasnya tubuh, pikiran dan jiwa.
Pada 2000, Reza menemukan titik balik dalam hidupnya setelah sempat sakit berat. Dia bertemu dengan Merta Ada, guru meditasi kesehatan dari Bali yang menjadi sumber inspirasi hidupnya. Reza memutuskan untuk berhenti bekerja dari dunia keuangan, lalu mengikuti sekolah akupunktur hingga memperoleh izin praktek.
Dalam perkembangannya, Reza pun mendalami studi berbagai teknik penyembuhan yang relatif baru di Indonesia seperti terapi CranioSacral, Jin Shin Jyutsu, Clinical Hypnotherapy, dan sebuah kelompok terapi baru yang sangat efektif yaitu Energy Psychology.
Ketertarikannya pada bidang baru ini mendorongnya untuk memelopori berkembangnya Energy Psychology di Indonesia, dengan berbagai teknik yang dipelajarinya seperti TAT (Tapas Acupressure Technique), EFT (Emotional Freedom Technique), BIT (Bodymind Integration Therapies), BST (Brain Synchronization Therapies), serta PEAT (Primordial Energy Activation and Transcendence).
Pada 2006, Reza turut berpartisipasi sebagai pengajar teknik TAT untuk mengatasi trauma dan rasa takut akibat gempa di Yogyakarta. Ajaran ini telah memberikan kedamaian dan kelegaan pada lebih dari 6000 korban gempa secara langsung. Reza juga seorang Certified TAT Trainer pertama di Indonesia, yang meneruskan niatnya untuk mencetak terapis penyembuhan holistik baru.
Dari semua pembelajaran yang dijalaninya, Reza pun telah menyusun berbagai program penyembuhan diri sendiri, yang lazim dikenal sebagai Self Healing. Program ini bertujuan agar setiap individu mampu dan terampil menyembuhkan diri sendiri secara fisik, mental, emosional dan spiritual.
Reza berkeyakinan bahwa “Kita adalah penyembuh terbaik bagi diri sendiri”. Berangkat dari prinsip tersebut, ia selalu menekankan betapa pentingnya mencapai kesehatan sejati, yaitu terciptanya keharmonisan lahir batin yang utuh, bukan sekadar mencapai hilangnya keluhan penyakit saja.
