Hasil Pertemuan Prabowo dan PM Australia: RI Buka Kans Tambah Impor Litium

Muhamad Fajar Riyandanu
15 Mei 2025, 15:18
Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese (kanan) memeriksa pasukan saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Jakarta, Kamis (15/5/2025). Presiden Prabowo menerima kunjungan kenegaraan Anthony Albanese di
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/sgd/Sp
Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese (kanan) memeriksa pasukan saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Jakarta, Kamis (15/5/2025). Presiden Prabowo menerima kunjungan kenegaraan Anthony Albanese di Istana Kepresidenan Jakarta setelah Albanese memenangkan pemilu dan terpilih kembali sebagai Perdana Menteri Australia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Prabowo Subianto menerima lawatan dinas Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (15/5). Salah satu topik yang dibahas yakni membuka peluang meningkatkan porsi impor litium dari Australia untuk proyek baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, saat ini Indonesia mengimpor 70 ribu sampai 80 ribu ton litium per tahun dari Australia.

Airlangga mengatakan, peningkatan porsi impor litium itu masih bersifat tentatif dan bergantung pada kebutuhan smelter di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Menurut Airlangga, kondisi tersebut bisa memicu peningkatan kebutuhan bahan baku litium nantinya.

“Nanti lihat tergantung kapasitas pabriknya, kan ada yang melakukan ekspansi,” kata Airlangga setelah agenda pertemuan Prabowo dan Albanese.

Ia menjelaskan Indonesia saat ini mengembangkan dua jenis teknologi baterai EV berbasis litium dan nikel. Airlangga mengatakan Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan ekosistem manufaktur baterai EV domestik.

“Soal mineral kritis tentunya akan bicara mengenai ekosistem EV. Tadi Pak Presiden juga bicara mengenai hal itu,” ujarnya.

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan Indonesia dan Australia tengah melakukan finalisasi aksi kemitraan strategis komprehensif periode 2025-2029. Aspek tersebut mencakup penguatan kerja sama bidang pertanian, pertahanan, perikanan, hingga perdagangan dan investasi serta UMKM.

“Indonesia menyambut baik sejumlah capaian kerja sama dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik,” ujar Prabowo saat menyampaikan keterangan pers seusai pertemuan bilateral dengan Albanese.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...