Anak-anak dalam Bayang Kekerasan Seksual: Seberkas Harapan dari Kampung Cherry
Di balik gemuruh kawasan industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi, berdiri sebuah kampung kecil yang terpinggirkan dari denyut pertumbuhan kota. Kawasan itu kerap disebut Kampung Cherry, sebutan yang terinspirasi dari banyaknya pohon kersen, mirip buah cherry, yang tumbuh di wilayah itu.
Kampung Cherry menawarkan pemandangan yang kontras dengan kawasan industri di sebrang kawasan tersebut. Jalan tanah rusak, genangan air kotor, bangunan semi permanen dari kayu dan lembaran asbes, serta udara panas yang menyengat menjadi pemandangan sehari-hari. Di pinggir sungai yang tak lagi jernih, berdiri bedeng-bedeng yang menjadi tempat tinggal warga.
Sebagian dari bangunan itu berfungsi sebagai warung remang-remang. Tempat-tempat ini menyediakan layanan karaoke hingga prostitusi, yang biasanya mulai beroperasi sejak siang dan baru benar-benar berhenti menjelang subuh.
Para pemandu karaoke yang dikenal dengan sebutan “nona”, tidak hanya bekerja tetapi juga tinggal di kawasan ini bersama dengan penduduk lainnya. Sebagian dari mereka bahkan membawa serta anak-anaknya dan membesarkannya di tengah suasana yang jauh dari ideal bagi tumbuh kembang anak.
Begitu juga dengan anak-anak lainnya yang tumbuh di kawasan tersebut hidup berdampingan dengan realitas yang sulit mereka maknai. Aktivitas warung remang-remang, musik keras hingga dini hari, serta lalu lintas orang dewasa yang keluar-masuk tanpa kendali, menjadi bagian dari keseharian yang mereka saksikan sejak kecil. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang minim ruang aman, tanpa akses memadai terhadap pendidikan yang layak.
Mushola Tempat Berlindung
Namun, di tengah realitas yang penuh kerentanan itu, masih ada ruang harapan yang tumbuh. Tepat di seberang deretan warung remang-remang, berdiri sebuah mushola kecil yang menjadi pusat kegiatan warga dan tempat anak-anak mengaji. Mushola ini bahkan menjadi ruang belajar bagi anak-anak di sekitarnya yang kurang mendapatkan pendidikan yang layak. Salah satunya dilakukan oleh Perkumpulan Tapal Batas (PTB), organisasi kepemudaan di Bekasi yang fokus pada hak-hak kaum muda dalam mengakses kesehatan hingga pendidikan.
Salah satu warga sekaligus aktivis pemberdayaan perempuan, Ida Zakiyah, menyebut bahwa para pelaku usaha warung remang-remang menunjukkan penghormatan terhadap mushola meskipun memiliki situasi yang kontras. Mereka kerap mematikan musik saat adzan magrib dan isya berkumandang. Bahkan, mereka tak jarang menyumbangkan makanan saat ada acara keagamaan.
“Kadang malah ada yang tanya, boleh nggak ikut pengajian? Ya saya persilakan,” ujar Ida saat ditemui Katadata di Kampung Cherry, Bekasi, Sabtu (21/6).
Pentingnya Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual
Kesadaran akan kerentanan anak-anak di Kampung Cherry memantik inisiatif dari para mahasiswa Magister Komunikasi Korporat Universitas Paramadina untuk menyelenggarakan Program Pemberdayaan Sosial melalui kegiatan CARE (Clean, Awareness, Resilient, Empowerment). Program ini merupakan sebuah aksi menanamkan kebersihan dan perlindungan diri pada anak-anak di kawasan tersebut.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Irfan Nugraha, mengatakan mereka mengundang pemateri dari Dinas Kesehatan dan Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Bekasi untuk memberikan edukasi terhadap kebersihan dan pentingnya menjaga diri dari kekerasan seksual.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun kesadaran anak-anak akan pentingnya menjaga diri di tengah lingkungan yang rentan seperti tempat tinggal mereka saat ini,” kata Irfan.
Pada kegiatan tersebut, sebanyak 40 anak-anak usia sekolah diberikan edukasi bahwa kekerasan tidak hanya berbentuk fisik dan verbal, namun juga kekerasan seksual. Anak diberikan informasi tentang bagian tubuh mana saja yang harus dilindungi dan tidak boleh disentuh orang lain. Anak juga diberikan edukasi untuk melindungi diri dari kekerasan seksual dengan mengatakan tidak, menjauh, atau melaporkan ke orang dewasa yang bisa dipercaya.
Tak hanya edukasi soal perlindungan diri, anak-anak juga mendapat pengetahuan seputar pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Para mahasiswa juga membantu membenahi mushola sehingga tercipta ruang belajar, tempat membaca dan bermain yang nyaman bagi anak-anak.
Tanamkan Pola Pikir Baru
Upaya serupa juga dilakukan oleh Perkumpulan Tapal Batas (PTB) Bekasi yang telah lebih dulu hadir di kawasan ini. Koordinator PTB, Catur Dhony, menjelaskan bahwa sebagian anak di Kampung Cherry tidak mendapatkan pendidikan formal, atau telah putus sekolah. Sebagian lainnya memang bersekolah, tetapi tidak memperoleh ruang tumbuh yang memadai.
Kondisi itu membuat PTB berinisiatif menyelenggarakan kelas informal untuk memberikan edukasi. Ia menyebutkan bahwa anak-anak selalu antusias mengikuti kelas-kelas informal ini. Bahkan, saat kegiatan sempat vakum, mereka kerap menanyakan kapan kelas akan dimulai kembali.
Namun demikian, Menurut Catur, kebutuhan anak-anak di kawasan ini bukan sekadar pendidikan formal, melainkan juga pemahaman tentang standar kehidupan yang lebih baik. Hal itu yang coba mereka tanamkan dalam setiap kelas mengajar.
“Jangan sampai mereka tumbuh dengan mengira bahwa dunia yang mereka lihat sehari-hari, yang dekat dengan kawasan remang-remang, adalah satu-satunya dunia yang ada. Padahal, masih banyak dunia lain yang lebih baik dan bisa mereka raih,” ucapnya.



