Puan Ajak Pemerintah Terima Kritik dari Indonesia Gelap hingga Bendera One Piece

Ade Rosman
15 Agustus 2025, 11:33
Presiden Prabowo Subianto (bawah) dengan disaksikan Ketua MPR Ahmad Muzani (kedua kiri), Ketua DPR Puan Maharani (kedua kanan), dan Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin (kanan) membungkukkan badan sebelum menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI dan
ANTARAFOTO/Dhemas Reviyanto/app/rwa.
Presiden Prabowo Subianto (bawah) dengan disaksikan Ketua MPR Ahmad Muzani (kedua kiri), Ketua DPR Puan Maharani (kedua kanan), dan Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin (kanan) membungkukkan badan sebelum menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani menyinggung beragam kritik yang disampaikan publik belakangan ini. Puan menyinggung hal itu dalam pidato pengantar sidang bersama DPR-DPD 2025 yang disampaikannya pada Jumat (15/8).

Puan mengatakan kritik yang disampaikan masyarakat saat ini hadir dalam berbagai bentuk yang kreatif dan memanfaatkan kemajuan teknologi, khususnya media sosial, sebagai corong suara publik.

"Ungkapan tersebut dapat berupa kalimat singkat seperti 'kabur aja dulu', sindiran tajam 'Indonesia Gelap', lelucon politik 'negara Konoha', hingga simbol-simbol baru seperti 'bendera One Piece', dan banyak lagi yang menyebar luas di ruang digital," kata Puan.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mengatakan, fenomena tersebut menunjukkan aspirasi dan keresahan rakyat kini disampaikan dengan bahasa zaman mereka sendiri.

Puan lalu berpesan pada pemerintah bahwa semua suara rakyat yang disampaikan bukanlah sekadar kata atau gambar, tapi terdapat pesan di baliknya.

"Karena itu, yang dituntut dari kita semua adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga memahami. Kebijaksanaan untuk tidak hanya menanggapi, tetapi merespons dengan hati yang jernih dan
pikiran yang terbuka," kata dia.

Fenomena pengibaran bendera Jolly Roger belakangan ramai di media sosial. Dalam semesta One Piece, bendera tersebut melambangkan kebebasan dan perlawanan terhadap World Government atau lembaga fiktif yang digambarkan korup dan otoriter.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Budi Gunawan merespon beredarnya narasi pengibaran bendera One Piece sebagai bentuk provokasi yang dapat menurunkan kewibawaan dan derajat bendera merah putih.

"Sebagai bangsa besar yang menghargai sejarah, sepatutnya kita semua menahan diri untuk tidak memprovokasi dengan simbol-simbol yang tidak relevan dengan perjuangan bangsa," kata pria yang akrab disapa BG dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (2/8).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...