Susul Pati, Gelombang Protes Kenaikan PBB Meluas ke Cirebon hingga Bone
Gerakan protes masyarakat terkait kenaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) kembali terjadi. Teranyar, aksi ptotes terjadi di Bone, Sulawesi Selatan, yang menolak kenaikan PBB-P2 sebesar 300% pada Selasa (19/8).
Sebelum naik 300%, tarif PBB-P2 di Bone juga telah naik 100% pada 2024.
Unjuk rasa dilakukan di depan kantor Bupati di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Aksi ini diwarnai kericuhan karena Bupati Bone Andi Asman Sulaiman tak menemui massa aksi.
Pj Sekda Bone Andi Saharuddin membantah adanya kenaikan PBB-P2 hingga 300%. Ia mengatakan, setelah berkomunikasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Pemkab Bone memutuskan untuk menunda kenaikan PBB-P2 tersebut.
"Pimpinan menyampaikan pada kami untuk menunda dan melakukan evaluasi secara total terkait dengan penyesuaian tersebut," kata Andi dalam keterangannya.
Pekan lalu, gelombang penolakan kenaikan PBB-P2 juga muncul di Cirebon. Sejumlah warga Cirebon yang tergabung dalam Paguyuban Pelangi Cirebon menuntut Wali Kota Cirebon membatalkan kenaikan PBB yang disebut hingga 1.000% karena dinilai memberatkan masyarakat.
Rencananya, masyarakat Cirebon akan menggelar aksi unjuk rasa pada 11 September mendatang.
Sebelumnya, aksi unjuk rasa menolak kenaikan PBB telah dilakukan di Pati, Jawa Tengah. DPRD Kabupaten Pati pun sepakat untuk membentuk pansus untuk pemakzulan Bupati Pati Sudewo usai ribuan masyarakat Pati berunjuk rasa pada Rabu (13/8). Massa aksi menuntut Bupati Pati Sudewo mengundurkan diri dari jabatannya. Alasannya, Sudewo dianggap arogan.
Demonstrasi berawal dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Pati yang menaikkan tarif pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen. Meski akhirnya pajak batal naik, Sudewo tetap didesak meletakkan jabatannya karena dinilai bersikap arogan.
Inisiator demonstrasi, Husen, serta orator aksi yang bernama Syaiful Ayubi mengajak para demonstran bertahan di depan pintu masuk Pendopo Kabupaten Pati hingga malam hari. Sudewo menemui pendemo yang melakukan aksi di depan kantor bupati, Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8).
Meski demikian, dialog tak bisa dilakukan karena massa melempari sang bupati. Sudewo muncul dari atap mobil rantis, mengenakan kemeja putih dan peci serta kacamata hitam.
Menggunakan pengeras suara, Sudewo menyampaikan permintaan maaf dan berjanji akan berbuat lebih baik. Namun, ia langsung dihujani lemparan botol air mineral dan sandal. “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya akan berbuat yang lebih baik, terima kasih,” kata Sudewo dikutip dari tayangan Kompas TV.
Di sisi lain, Sudewo enggan melepaskan jabatannya sebagaimana yang disampaikan massa aksi demonstrasi yang digelar di Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8).Sudewo beralasan, dirinya dipilih oleh rakyat sesuai dengan mekanisme yang ada. Sehingga ia tak akan melepaskan jabatannya
"Saya kan dipilih rakyat secara konstitusional dan secara demokratis, jadi tidak bisa saya berhenti dengan tuntutan itu, semua ada mekanismenya," kata Sudewo di Kantor Bupati Pati, Rabu (13/8).
