Adaptif, Kiat Sababay Winery Bertahan Menghadapi Persaingan dan Perubahan Zaman
Pada awalnya, Mulyati Gozali berniat terjun ke dunia properti di Bali. Dia ingin menikmati masa-masa pensiun di Pulau Dewata sambil mengelola hotel. Sebelum mewujudkan mimpinya itu, Mulyati melakukan survei kecil-kecilan. Ternyata, para pemain properti di Bali sudah terlalu banyak.
Sambil mencari alternatif usaha baru, Mulyati bersama putrinya Evy yang baru pulang dari studi di Amerika Serikat berkunjung ke daerah perkebunan anggur di kawasan Banjar, Grogak, Buleleng. Mereka terkejut ketika melihat para petani anggur tidak mau memetik hasil panennya.
Ternyata, para petani itu mogok kerja karena harga anggur yang hanya Rp500 per kilogram. Mulyati dan putrinya kemudian berpikir usaha apa yang bisa dibuat dengan menggunakan anggur petani tersebut. Setelah berdiskusi dengan sejumlah pihak, Mulyati memutuskan untuk membuka kilang anggur yang diberi nama Sababay (baca: Saba-bei) Winery.
Lokasi yang dipilih di Jalan Professor Doktor Ida Bagus Mantra, Desa Keramas, Kelurahan Medahan, Kecamatan Blahbatuh. Mulyati memastikan akan membeli hasil panen petani di perkebunan anggur seluas 80 hektare di kawasan Banjar.
Peristiwa itu terjadi pada 2010. Selang 15 tahun kemudian, Sababay Winery sudah sangat terkenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Sejumlah penghargaan berhasil diraih Sababay Winery, seperti AWC Vienna International Wine Challenge (2015), Singapore Wine & Spirtis Awards (2014), Japan Wine Challenge (2015), China Wine & Spirits Awards 2015 hingga London Spirit Competition 2023.
Director Of Corporate Relation Sababay Winery Yoke Darmawan mengungkapkan, kemampuan Sababy Winery untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi kiat untuk bisa terus bertahan selama 15 tahun terakhir.
“Aku bilang adaptability, beradaptasi, ya kita harus buka mata telinga untuk tren, kita harus buka mata telinga untuk expectation dari market gitu. Karena perubahan itu begitu cepat, tapi yang bisa kita pertahankan adalah bagaimana kita punya dignity of the brand. Jadi kita mengubah aktivasinya, kita mengubah bagaimana kita menyampaikan pesannya, tetapi kita nggak kehilangan identity. Karena perubahan boleh, tapi identity jangan. Untuk identity yang kuat pasti orang membangun brand trust. Kalau udah trust, everything around you can change, tapi your persona remain,” kata Yoke saat menerima Katadata Indonesia, OMG Consulting dan juga TrendWatching di pabrik Sababay Winery yang asri di wilayah Blahbatuh, Bali, Jumat (28/11/2025).
Yoke menambahkan, Sababay Winery juga selalu membuat creative movement dan juga inovasi. Hal ini dillakukan agar Sababay Winery bisa terus bersaing menghadapi kompetitor dari lokal dan juga internasional.
“Inovasi terus, karena kita lihat dari brand-brand yang sudah begitu comfortable dengan posisinya, mereka akan stop berinovasi, karena mereka yakin market akan terus loyal. Padahal di trend sekarang adalah kreativitas yang connect sama emotional value atau emotional part dari marketnya itu sendiri,” ungkap Yoke.
Kata Yoke, salah satu cara yang ampuh untuk bersaing adalah dekat dengan pelanggan dan juga komunitas. Sababay Winery, kata dia, menghindari bermain harga tetapi lebih memilih loyalitas. Melalui sejumlah aktivitas yang terus berganti-ganti serta target pasar yang tepat di event-event nasional dan juga internasional.
“Misalnya event yang untuk anak muda, lagi trendnya apa, musiknya kayak gimana, gaya presentasinya kayak gimana, yang lagi in itu kayak gimana. Nah itu kita bagian dari itu. Jadi itu boleh dari segi fashion, dari segi art, dari segi budaya, dari segi musik, dari segi film. Nah itu kita ada di sana,” jelas Yoke.
Di pabrik Sababay Winery, ada ruangan khusus yang menampilkan plakat penghargaan yang sudah diterima sejak pertama kali berdiri hingga saat ini. Salah satu penghargaan paling bergengsi yang pernah diraih Sababay Winery adalah London Spirits Competiton pada 2023 untuk anggur merek SABA.
Yoke mengungkapkan, kontrol kualitas semua produk anggur yang dihasilkan Sababay Winery ditangani langsung oleh pakar anggur dari Bordeaux, Prancis yaitu Guillerme Queron. Sejak 2020, Queron diberi tanggung jawab untuk mengecek kualitas anggur.
Pabrik Sababay Winery memiliki puluhan tangki pendingin yang berfungsi untuk menyimpan anggur yang sudah diproses. Tangki tersebut bisa menampung 20 ribu liter angggur. Tangki yang dingin berarti berisi anggur sedangkan yang tidak dingin berarti kosong. Tiap tangki menampung satu merek anggur.
Ada berbagai merek anggur yang diproduksi Sababay Winery mulai dari Fiorosa, Moscarosa, Pink Blossom, Reserve White hingga Mascetti. Namun, ada satu merek yang tidak dijual untuk umum yaitu Sacramental Wine.
“Merek itu memang khusus kami buat untuk Gereja Katolik di Indonesia. Awaknya Gereja di Vatikan memesan anggur dari Australia untuk acara sakramen. Namun, setelah mencoba anggur dari Indonesia, mereka memutuskan untuk memesan anggur dari Sababay Winery. Jadi khusus untuk merek Sacramental Wine kami buat khusus untuk gereja Katolik di Indonesia hasil kerja sama dengan Konferensi Wali Gereja Indonesia,” jelas Yoke.
Anggur produksi Sababay Winery dengan tingkat alkohol paling tinggi adalah Mascetti dengan kadar 19%. Yoke menjelaskan, nama Mascetti bukan diambil dari bahasa Italia, melainkan nama dari sebuah desa di Bali.
Yoke mengungkapkan, Sababay Winery berproduksi setiap Maret dan September menyesuaikan dengan panen anggur. Kerja sama antara Sababay Winery dengan petani anggur di Buleleng masih terus berlanjut hingga saat ini.
“Kami rutin membeli anggur dari mereka, bahkan ketika terjadi gagal panen kami tetap membeli dengan harga yang sama. Ini merupakan komitmen kami untuk membantu petani anggur. Karena tujuan awal berdirinya Sababay Winery adalah untuk meningkatkan taraf hudup petani anggur. Jadi, ketika terjadi musibah seperti gagal panen, kami akan tetap membeli dengan harga normal,” pungkas Yoke.




