Prabowo di WEF Davos: Program Efisiensi Hemat Rp 302 T, Utamakan Kesejahteraan
Presiden Prabowo Subianto menceritakan Indonesia telah menghemat US$ 18 miliar atau sekitar Rp 302,9 triliun dari program efisiensi dalam dua bulan masa awal pemerintahannya. Ia menyampaikan hal itu saat menyampaikan pidato di World Economic Forum di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1), sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden.
"Kami menjalankan program efisiensi agresif. Kami menghemat US$ 18 miliar dengan menghentikan program yang tidak efisien dan meragukan," kata Prabowo.
Dana hasil penghematan itu kemudian dialihkan ke sejumlah program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu di antaranya adalah makan bergizi gratis (MBG). Prabowo mengatakan
"Sebagai hasilnya, pada 6 Januari 2025, kami memulai program makan bergizi gratis bagi ibu hamil dan menyusui, bayi, serta seluruh anak Indonesia," kata Prabowo.
Prabowo menyampaikan pihak pemerintah sudah menyasar kepada 59,8 juta penerima sasaran seperti siswa sekolah, balita, ibu hamil dan lansir setiap harinya. Distribusi paket makanan tersebut kini disalurkan oleh 21.102 dapur MBG.
Ketua Umum Partai Gerindra itu menyatakan, penyaluran paket MBG dapat melampaui kapasitas produksi McDonald's saat ini sekitar 68 juta konsumen dalam satu bulan ke depan.
Prabowo menyebut McDonald's membutuhkan lebih dari lima dekade untuk mencapai kapasitas produksi saat ini. Sementara, menurut Prabowo, MBG dapat mencapai angka tersebut dalam waktu satu tahun. "Kami memulai pada Januari tahun lalu. Tahun ini, kami bertujuan untuk menyajikan 82,9 juta makanan per hari," ujarnya.
Prabowo juga menyampaikan Indonesia telah memberikan layanan cek kesehatan gratis (CKG) kepada lebih dari 70 juta warga. Ia menjelaskan, program pemeriksaan medis ini bukan sekadar layanan sosial, tetapi juga instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik yang impresif.
"Saat ini, 70 juta warga Indonesia mendapat pemeriksaan medis gratis tahunan, dan program ini akan mencakup semua anak dan orang dewasa di Indonesia," kata Prabowo.
Ia menyebut, pemerintah dapat menekan pengeluaran di masa depan sekaligus meningkatkan produktivitas masyarakat melalui deteksi penyakit sejak dini. "Program ini bukan populis, melainkan rasional. Dengan deteksi dini penyakit, kita menghemat biaya jangka panjang, sekaligus meningkatkan produktivitas. Para ahli saya memperkirakan bahwa dalam jangka panjang, negara akan menghemat miliaran dolar AS," ujarnya.
Langkah ini sejalan dengan visi Indonesia untuk menjadi negara modern yang terintegrasi dengan ekonomi global dan memberikan kualitas hidup tinggi. Visi itu juga menekankan bebas dari kemiskinan dan kelaparan melalui pemerintahan bersih, tata kelola baik, serta investasi cerdas di sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.
