Pakar Keamanan Siber dan Psikolog Bagikan Tips Terhindar dari Phishing

Tim Publikasi Katadata
21 Februari 2026, 22:06
Ilustrasi praktik kejahatan siber ransomware
Djkn.kemenkeu.go.id
Ilustrasi praktik kejahatan siber ransomware
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kejahatan phising banyak dikeluhkan masyarakat. Modus kejahatan ini memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat yang tanpa sadar mengeklik tautan palsu perbankan.

Jebakan tautan palsu itu, kemudian membuat nasabah membagikan data rahasia bank miliknya, yang menjadi jalan bagi pelaku menguras saldo milik nasabah.

Pakar Keamanan Siber Alfons Tanujaya meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan pada kejahatan penipuan dengan modus phishing.

Menurut Alfons, berdasarkan pengakuan dari beberapa korban phishing, pintu awal bencana salah satunya adalah ketika korban hendak masuk ke website tertentu dan tidak mengecek dengan cermat alamat yang dituju ketika menge-klik link dari mesin pencarian.

Karena terbukti banyak hasil pencarian dan iklan di mesin pencarian yang mengarahkan ke situs phishing

Dia pun meminta masyarakat menggunakan antivirus dan pastikan tidak ada malware yang bisa mengalihkan akses internet banking.

Hal ini adalah kebiasaan personal yang penting, meskipun perbankan sudah membangun sistem keamanan mereka di aplikasi internet banking.

“Ini fenomena menarik dan menunjukkan kalau pameo ‘security is a process’ itu benar. Perlindungan yang hari ini aman tidak menjamin aman besok atau bulan depan, selalu waspada dan jangan pernah overconfidence dengan security,” ujar dia, dalam keterangan resmi, Sabtu (21/2).

Selain itu, masyarakat juga diminta memastikan akses internet banking sudah sesuai dengan alamat resmi dan bukan situs phishing.

“Jangan mudah percaya kalau Anda dihubungi oleh siapa pun yg mengaku CS bank atau kepala cabang bank sekalipun. Apalagi minta OTP Appli 1 atau Appli 2,” jelas Alfons.

Dia pun menyarankan supaya menyimpan alamat internet banking di Favorites dan pastikan tidak ada add-on yang tidak dikenal terpasang pada peramban yang digunakan untuk internet banking.

Sementara itu, Dosen Psikologi Media Universitas Indonesia (UI), Laras Sekarasih menyampaikan, maraknya penipuan dengan modus phishing dapat terjadi karena pelaku kerap menyasar kelemahan psikologis korban.

Jadi celah kejahatan itu bukan semata-mata akibat adanya kesempatan dan celah teknologi di industri jasa keuangan, khususnya perbankan.

“Mungkin kemajuan teknologi juga mempermudah pelaku melancarkan aksi. Tetapi, di sini yang dieksploitasi adalah keterbatasan kognitif atau kemampuan berpikir nasabah maupun konsumen. Di sini bukan keterbatasan IQ tetapi bagaimana kita memproses informasi itu tidak optimal ketika (dalam kondisi) tertekan,” kata Laras.

Menurutnya, keadaan tertekan kerap diciptakan pelaku saat melancarkan phishing. Contohnya, pelaku kerap berpura-pura menghubungi korban dan mengabarkan adanya peristiwa genting.

Korban yang menerima kabar tersebut dapat terbawa modus apabila tidak konsentrasi.

Jika hal itu terjadi, lantas pelaku menggiring korban untuk membagikan beberapa informasi rahasia dan sensitif.

“(Korban) diberikan impresi bahwa keputusannya harus diberikan sekarang. Misalkan korban digiring memberikan nama, nama ibu kandung, dan NIK dengan dalih untuk melindungi nasabah,” kata dia.

Anggota Laboratorium Psikologi Ekonomi, Konsumen, dan Komputasi itu menyebutkan bahwa dalam keadaan tersebut yang dieksploitasi atau dimanipulasi adalah keterbatasan kita sendiri.

“Bisa terjadi kepada semua orang. Pada situasi di mana kita dipaksa atau merasa dipaksa membuat keputusan terburu-buru dan cepat dengan informasi terbatas semua orang akan rentan penipuan,” ungkap Laras.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, nasabah diimbau harus lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap pihak asing yang menghubunginya.

Salah satu kebiasaan yang penting dilakukan adalah crosscheck informasi kepada pihak berwenang.

“Misalkan pelaku menghubungi dan bilang ada yang membobol rekening Anda maka kita bisa mulai berprasangka buruk dan segera tutup telponnya. Setelah itu, cek kepada CS resmi,” kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...