Di Depan Ulama Prabowo Janji Keluar dari BoP Jika Tak Penuhi Syarat, Apa Saja?
Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan sinyal untuk keluar dari Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. Aksi itu akan dilakukan jika BoP tidak membantu cita-cita rakyat Palestina untuk merdeka dari zionis Israel.
Janji keluar BoP itu disampaikan Prabowo di hadapan 160 lebih kiai dan ulama dalam acara silaturahmi dan dialog di halaman tengah Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (5/3) malam. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Cholil Nafis mengatakan Prabowo menjelaskan niat dan tujuan utama Indonesia bergabung BoP ialah untuk kemerdekaan Palestina.
“Jika tidak untuk kemerdekaan Palestina, Beliau siap mundur. Itu yang terbaru dari beliau. Beliau berkomitmen semua yang dilakukan untuk Palestina, untuk kemerdekaan Palestina," kata Cholil seperti dikutip Jumat (6/3).
Menurut Cholil, dalam pertemuan dengan para ulama Prabowo beberapa kali menjelaskan bahwa ia akan keluar jika BoP melenceng dari tujuan awal. Ia pun menyebut Indonesia bergabung di BoP lantaran ingin turut memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Cholil melanjutkan dalam pertemuan itu tidak ada pembahasan yang mengaitkan antara masa depan BoP dengan serangan sepihak terhadap Iran yang dilakukan Amerika Serikat selaku penggagas BoP dan zionis Israel, anggota BoP. "BoP spesifik untuk Palestina," kata Kiai Cholil.
Di lokasi yang sama dalam kesempatan terpisah, Cholil Nafis meyakini BoP tidak lagi efektif dijadikan alat perjuangan untuk membantu kemerdekaan Palestina. Cholil menilai Indonesia lebih baik membantu memaksimalkan organisasi seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Kami melihatnya tidak efektif BoP itu karena ternyata penggagasnya juga tidak memberikan semacam gambaran baik, track record maupun sekarang yang memihak kepada perdamaian," kata Kiai Cholil menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui sebelum acara.
Opsi untuk keluar BoP pernah disampaikan Presiden Prabowo di hadapan para kiai dan ulama dalam pertemuan di Istana pada 3 Februari 2026.
Tunda Keaktifan di BoP
Sementara itu Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menangguhkan keanggotaan Indonesia dalam BoP sampai konflik di Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel mereda. Jimly menilai Presiden AS Donald Trump sangat mengapresiasi peran Indonesia di BoP sehingga mundur dari keanggotaan organisasi itu belum menjadi keputusan yang tepat.
"Saya rasa dua hal yang membuat Donald Trump senang sekali sama Indonesia itu, kan bisa kita kurangin separuh. Misalnya, yang BoP itu, kita menyatakan menangguhkan kewajiban keanggotaan kita sampai dua hal. Satu, sampai perang Iran versus Amerika dan Israel ini reda," kata Jimly saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3).
Jimly mengatakan eskalasi konflik di Iran setelah serangan sepihak dari militer Amerika Serikat dan Israel itu membuat publik mengaitkan bahwa organisasi yang dibentuk Presiden Trump bukanlah Board of Peace atau Dewan Perdamaian, melainkan Board of Power atau Dewan Kekuasaan. Oleh sebab itu, ia menyarankan agar Pemerintah Indonesia menangguhkan keanggotaan di BoP hingga konflik di Iran mereda.
"Yang kedua, sampai ada kepastian jadwal pengakuan Israel kepada kemerdekaan Palestina. Nah, kalau sudah ada kepastian, baru kita aktif lagi. Saran saya begitu," kata Jimly.
Ia menambahkan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia juga sudah saatnya berperan untuk menjembatani potensi konflik dan politik adu domba dari Israel kepada negara-negara Islam.
