Menlu Jelaskan Isi Pertemuan Prabowo-Macron: Transfer Teknologi dan Alutsista

Muhamad Fajar Riyandanu
23 April 2026, 10:26
prabowo, prancis, macron
ANTARA FOTO/HO/Bakom RI/app/YU
Presiden Prabowo Subianto (kanan) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kiri) melambaikan tangan saat bertemu di Istana Élysée, Paris, Prancis, Selasa (14/4/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menceritakan hasil kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto saat bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée pada 14 April lalu.

Hasil pembicaraan Prabowo dan Macron salah satunya menyepakati kerja sama pertahanan, terutama dalam aspek transfer teknologi dan pengadaan persenjataan militer.

Sugiono menjelaskan, pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis dari Prancis harus diikuti dengan peningkatan penguasaan teknologi dalam negeri.

Pembelian tersebut memiliki konsekuensi lanjutan berupa kebutuhan untuk memperdalam kemampuan Indonesia dalam memahami dan mengelola teknologi yang digunakan dalam sistem pertahanan tersebut.

“Kita tidak hanya sebatas membeli saja, tetapi juga melakukan transfer teknologi dan penguasaan teknologi dari barang-barang yang kita beli,” kata Sugiono di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, pada Rabu (22/4).

 Indonesia sebelumnya telah mengunci kesepakatan pembelian 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation. Tiga pesawat tempur Rafale dari pengiriman pertama untuk Indonesia tiba di Tanah Air pada 27 Januari 2026.

Jet tempur Dassault Rafale milik Angkatan Udara Prancis di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (24/7). Foto: Wahyu Dwi Jayanto/Katadata
Jet tempur Dassault Rafale milik Angkatan Udara Prancis di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (24/7). Foto: Wahyu Dwi Jayanto/Katadata (Katadata)

Sugiono mengatakan proses pengadaan Rafale telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu ketika Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan era Presiden RI ke-7 Joko Widodo. Dia menyebut Indonesia telah memesan pembelian pesawat tempur Rafale sekitar empat tahun lalu.

“Yang namanya alutsista itu tidak seperti beli barang di supermarket. Begitu butuh, kita ingin punya, itu tidak bisa. Jadi prosesnya panjang," katanya. 

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra itu menilai situasi global yang semakin tidak pasti menjadi alasan bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas pertahanan nasional saat ini.

“Melihat situasi dunia yang seperti ini, ketidakpastian begitu tinggi, konflik bisa terjadi sewaktu-waktu oleh berbagai alasan, kita harus juga bisa menempatkan diri sebagai bangsa yang kuat secara ekonomi, kuat juga secara pertahanan,” kata Sugiono.

 Prabowo bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée pada 14 April lalu. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas peningkatan kerja sama di berbagai sektor prioritas serta bertukar pandangan mengenai dinamika global dan upaya menjaga stabilitas serta perdamaian dunia.

Dikutip dari keterangan media sosial @prabowo pada Rabu (15/4), pertemuan dengan Macron membahas penguatan kerja sama Indonesia-Prancis di lintas sektor, antara lain pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) dan penguatan industri pertahanan. RI dan Prancis juga akan memacu kerja sama sektor transisi energi, infrastruktur, transportasi, hingga pendidikan dan ekonomi kreatif.

"Sebagai salah satu mitra penting di kawasan Eropa, Indonesia terus mendorong kerja sama berkelanjutan dengan Prancis guna membuka peluang baru yang semakin konkret dan saling menguntungkan bagi kedua negara," tulis @prabowo.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...