Menyelami Makna Filosofi Legiun Mangkunegaran Dalam Jamuan Royal Dinner 2026

Rahayu Subekti
3 Mei 2026, 18:04
Mangkunegaran, Pura Mangkunegaran, Adeging Mangkunegaran
Katadata/Fauza Syahputra
Pramusaji membawa makanan untuk disajikan kepada tamu undangan pada Royal Heritage Dinner di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (2/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Royal Dinner selalu menjadi salah satu rangkaian dari peringatan Ulang Tahun Pura Mangkunegaran ke-269 di Solo. Dalam perayaan yang kerap disebut sebagai Adeging Mangkunegaran itu, jamuan yang dihidangkan dalam royal heritage dinner selalu menyimpan filosofi.

Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo atau kerap disapa Gusti Sura mengatakan Adeging Mangkunegaran tahun ini digelar pada Tahun Dal, artinya merupakan tantangan.

“Ini kita wujudkan dalam tema keprajuritan yang bisa teman-teman lihat di sini. Mangkunegaran melambagkan ini semua dengan ikon kuda,” kata Gusti Sura di di Pamedan Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (1/5).

Royal Dinner kali ini dihelat pada Sabtu (2/5) malam. Acara ini menjadi salah satu rangkaian Ulang Tahun Mangkunegaran yang dihadirkan melalui kolaborasi Katadata dan Yayasan CNC dengan menggandeng mitra strategis atau sponsor utama Permata Bank.

Dalam siklus Windu Jawa, Tahun Dal bukan sekadar penanggalan, melainkan fase penempaan diri. Ibarat seekor kuda pilihan, ketangkasan tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk melalui disiplin dan latihan yang teguh.

Melalui tujuh rangkaian hidangan, sekitar 150 tamu undangan khusus diajak menyelami filosofi Legiun Mangkunegaran yang merupakan simbol manusia yang tahu kapan harus melesat cepat dan kapan harus tenang mengamati tujuan.

Pembuka: Ketangkasan dan Ketekunan

Perjalanan dimulai dengan makanan bernama canape savory yaitu Sosis Solo Deconstructed. Sebagaimana kavaleri yang melesat cepat, hidangan ini hadir lugas dengan crispy crepe hasil teknik dehidrasi yang membungkus ayam rempah santan kental, melambangkan langkah awal yang terarah.

Sebagai penyeimbang, Pura Mangkunegaran juga menjamu tamunya dengan canape sweet yaitu Madumongso Sphere. Melalui teknik spherification yang modern, bahan dasar tape ketan hitam ini mengingatkan kita bahwa kemenangan tidak pernah instan. karena membutuhkan kesabaran proses fermentasi, selayaknya waktu yang mematangkan jiwa manusia.

Appetizer: Api Penempaan

Memasuki menu pembuka, Dendeng Age Buntel hadir dengan rupa menyerupai tapal kuda besi yang sedang dipanaskan. Daging cincang berempah yang dibungkus lemak jala ini adalah simbol disiplin dan batasan ketat bagi prajurit Legiun.

Proses pembakaran di atas arang menjadi api penempaan yang meneguhkan arah perjuangan mereka. Dendeng age dimasak perlahan dengan divakum untuk melunakkan daging.

Santapan daging ini dipadukan dengan saus glaze dari karamelisasi gula jawa dan ketumbar sangrai yang kental. Untuk membuat cita rasa semakin lengkap, sambal rujak nanas terasi juga dihadirkan.

Makanan ini disajikan bersama-sama Herbal Salad Urap Udang yang merupakan cerminan ketangguhan fisik prajurit. Udang sebagai simbol kelincahan dipadukan dengan granita bumbu urap dan ramuan herbal kencur serta daun pepaya. Ini adalah penghormatan bagi bahan lokal sederhana yang diangkat menjadi sajian agung.

Jamuan berlanjut pada Pindang Ayam Bening. Kuah kuning keemasan yang diklarifikasi hingga jernih melambangkan kemurnian niat. Sebuah hidangan yang meresap, seperti semangat Legiun yang tak pernah padam di tengah dinginnya malam perjuangan.

Royal Dinner Adeging Mangkunegaran 269 (Foto: Katadata/Fauza Syahputra)
Royal Dinner Adeging Mangkunegaran 269 (Foto: Katadata/Fauza Syahputra) (Katadata/Fauza Syahputra)

 

Inti Perjamuan: Konsistensi Langkah

Puncak dari narasi malam ini tertuang dalam hidangan utama yakni Slow Cooked Beef Sauce Kluwek. Beef Short Ribs yang dimasak sous-vide selama 48 jam ini adalah metafora penempaan yang sempurna.

Daging yang semula keras menjadi lembut karena waktu dan suhu yang tepat, konsisten seperti langkah kuda yang terarah menuju tujuan bermakna. Saus kluwek yang hitam dan pekat melambangkan fase penempaan diri yang keras namun kaya akan makna.

Penutup: Refleksi dan Kerendahan Hati

Sebagai penutup siklus, hadir Mousse Tape Singkong. Menggunakan bahan dasar rakyat yang naik kelas, hidangan ini melambangkan kerendahan hati seorang ksatria.

Tekstur mousse yang ringan dipadukan dengan meringue jahe dan coulis nangka memberikan ruang tenang untuk refleksi atas segala ketekunan yang telah dijalani.

Royal Dinner Mangkunegaran merupakan sebuah perjamuan yang bukan sekadar tentang rasa, melainkan penghormatan terhadap sejarah, disiplin, dan langkah yang tak pernah goyah.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...