Program SMK 4 Tahun Mulai Berjalan, Gandeng Industri
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan pelaksanaan program SMK empat tahun telah mulai berjalan di sejumlah sekolah negeri maupun swasta.
Program ini diharapkan menjadi bagian dari penguatan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja. Pemerintah juga mengintegrasikan program tersebut dengan skema kerja sama internasional dan kebutuhan industri.
Kementerian mencatat sebagian SMK telah lebih dulu menerapkan skema empat tahun, termasuk sekolah yang menjalin kemitraan dengan program penempatan tenaga kerja luar negeri melalui Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI).
"Program SMK empat tahun sudah berjalan sebagian. Tanggal 19 saya ke Surabaya untuk 3 ribu pemberangkatan lulusan SMK yang siap ke luar negeri," kata Abdul Mu'ti di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Jakarta Pusat, pada Rabu (6/5)
Kementerian merancang program SMK empat tahun sebagai opsi yang fleksibel bagi siswa. Sekolah dapat sejak awal menetapkan kurikulum empat tahun, sementara siswa yang menempuh pendidikan tiga tahun tetap memiliki kesempatan untuk menambah masa studi satu tahun guna meningkatkan kompetensi.
Abdul Mu’ti menyatakan tidak ada ketentuan atau spesifikasi khusus terkait jurusan maupun program studi yang dapat menerapkan program SMK empat tahun. Ia menyebutkan, Kemendikdasmen mengarahkan pengembangan SMK berbasis kebutuhan pasar dan potensi daerah.
"Misalnya daerah-daerah penghasil kopi, kami dorong supaya ada SMK yang membuka program tentang perkopian. Berikutnya juga misalnya yang kelautan, perikanan, itu nanti sejalan dengan kebutuhan nasional untuk swasembada," ujarnya.
Selain itu, kementerian juga mengembangkan skema kemitraan dengan industri melalui pendekatan tailor-made. Pendekatan ini mengarahkan sekolah untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan spesifik perusahaan mitra, sehingga lulusan dapat langsung terserap ke dunia kerja dengan standar kompetensi industri.
"Jadi semacam kontrak awal, sehingga standar pekerjaannya sudah mengikuti standar industri itu. Kami sudah ada beberapa MoU dengan beberapa perusahaan," kata Abdul Mu'ti.
Pemerintah juga menyiapkan skema pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan tenaga kerja di negara tertentu. Sejumlah SMK telah merancang program yang menyiapkan siswa untuk bekerja di luar negeri, seperti di Korea Selatan, Jepang, dan negara Timur Tengah. "Sejak awal siswa tidak hanya dilatih keterampilan teknis yang diperlukan, tapi juga budaya, bahasa, dan sebagainya," ujarnya.
