Prabowo Soroti Kontradiksi Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan RI
Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan kondisi perekonomian domestik yang terus mencatat pertumbuhan positif dalam tujuh tahun terakhir. Namun, tren tersebut beriringan dengan angka kemiskinan yang justru meningkat dan jumlah kelas menengah kian menyusut.
Prabowo mengatakan hal itu saat menyampaikan pidato di Rapat Paripurna DPR pada Rabu (20/5). Ia mengatakan, kondisi ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem ekonomi Indonesia.
“Pertumbuhan kita dalam tujuh tahun terakhir memang baik, 5% tiap tahun. Harusnya kita tambah kaya 35%. Tapi apa yang terjadi? saya mengajak kita jujur kepada diri kita sendiri dan kepada rakyat kita,”kata Prabowo.
Ia mengaku terkejut setelah menerima sejumlah data ekonomi, antara lain dari International Monetary Fund dan Bank Dunia. Prabowo mengatakan pertumbuhan ekonomi yang konsisten seharusnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Prabowo menyebut jumlah masyarakat miskin meningkat dari 46,1% pada 2017 menjadi 49,5% pada 2024. Sementara itu, proporsi kelas menengah turun dari 22,1% pada menjadi 17,4%.
“Saya bertanya kepada majelis yang terhormat ini, semua partai politik, semua ormas, semua pakar dan guru besar. Bagaimana bisa pertumbuhan 35% tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat,” ujarnya.
Anggap Sistem Ekonomi Indonesia Keliru
Prabowo menduga jawaban atas persoalan tersebut yakni arah sistem ekonomi nasional selama ini berjalan keliru. Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan perbedaan Indonesia dengan sejumlah negara lain seperti Meksiko, India, dan Filipina kemungkinan terletak pada persoalan sistemik.
“Kalau kita teruskan sistem yang seperti ini untuk sekian tahun lagi, saya yakin bahwa tidak mungkin kita jadi bangsa makmur. Tanpa kemakmuran, kita tidak mungkin bisa menjaga kedaulatan kita,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Prabowo turut mengingatkan Indonesia berpotensi menjadi bangsa yang lemah apabila terus dihantui ketakutan terhadap gejolak kurs dolar, pasokan bahan bakar minyak, hingga berbagai tekanan ekonomi lainnya.
Prabowo juga menyinggung sikap elite bangsa yang dinilainya terlalu mudah merasa takut, padahal Indonesia memiliki sumber daya dan karunia yang melimpah.
“Bahwa kemungkinan besar kita akan menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang selalu takut kurs dolar, takut BBM tidak cukup, takut ini dan itu. Bangsa yang elitnya takut padahal kita diberi karunia yang luar biasa oleh yang maha kuasa,” kata Prabowo.
