Chatib Basri: Hal Penting Era AI Bukan Cari Jawaban, Tapi Kemampuan Bertanya
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau AI seperti ChatGPT, Claude, dan berbagai platform generatif lainnya dinilai akan mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Ekonom senior Chatib Basri mengingatkan hal yang paling berharga di era AI bukan lagi mencari jawaban, melainkan mengajukan pertanyaan yang tepat.
Menurut mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, AI kini mampu memberikan jawaban atas hampir semua pertanyaan dengan cepat. Karena itu, sistem pendidikan harus mulai bergeser dari sekadar menghafal informasi menjadi melatih kemampuan berpikir kritis dan merumuskan pertanyaan yang berkualitas.
"Karena Google, ChatGPT itu akan memberikan jawaban yang more or less bisa salah, tapi dia kasih jawaban yang baik. Yang paling baik adalah bagaimana mengajarkan mahasiswa untuk membuat pertanyaan yang AI nggak punya jawabannya. Jadi pelajarannya adalah Pelajaran bertanya," kata Chatib dalam cara Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6).
Menurutnya, kemampuan menyusun pertanyaan yang tepat akan menjadi pembeda utama. Khususnya di antara mereka yang mampu memanfaatkan AI secara maksimal dan mereka yang tidak.
AI Berisiko Perlebar Kesenjangan
Chatib juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa perkembangan AI justru dapat memperlebar kesenjangan produktivitas di masyarakat. Hal ini apabila penggunaan AI tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menilai tidak semua orang memiliki kemampuan memahami konteks dan memanfaatkan AI secara efektif. Padahal, kualitas hasil yang diberikan AI sangat bergantung pada kualitas instruksi atau pertanyaan yang diberikan pengguna.
"Persoalannya begini, tidak semua orang punya kemampuan bertanya. Kalau Anda gunakan Claude atau ChatGPT, Anda nggak ngerti konteksnya, maka risikonya akan sangat besar," ujarnya.
Menurut dia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki pemahaman kuat terhadap suatu bidang akan memperoleh manfaat jauh lebih besar dari AI. Hal ini jika dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan teknologi tanpa memahami substansi persoalan.
"Orang yang ngerti mengenai sebuah topik dan menggunakan AI dengan yang nggak ngerti, itu hasilnya luar biasa berbeda," kata Chatib.
Ancaman K-Shaped Recovery
Lebih jauh, Chatib mengingatkan potensi munculnya fenomena K-shaped recovery dalam era AI. Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika satu kelompok masyarakat mengalami peningkatan produktivitas dan kesejahteraan secara signifikan, sedangkan kelompok lain justru tertinggal.
Menurutnya, mereka yang memiliki kemampuan berpikir, pemahaman konteks, dan literasi teknologi akan mampu menghasilkan karya yang lebih baik dengan bantuan AI. Sebaliknya, kelompok yang tidak memiliki kemampuan tersebut berisiko semakin tertinggal.
"Kekhawatiran saya adalah mereka yang pintar menguasai persoalan akan menghasilkan karya yang luar biasa. Sebaliknya mereka yang nggak ngerti persoalan akan menghasilkan karya yang kacau. Maka yang terjadi adalah K-shaped recovery,” katanya.
Karena itu, Chatib menilai peningkatan kualitas pendidikan menjadi faktor krusial. Hal ini agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang AI. Ini sekaligus mengurangi risiko kesenjangan yang ditimbulkannya.
