Emiten Alkes Esa Medika Mandiri Resmi IPO di BEI, Sahamnya Naik 15%
Emiten penyedia alat kesehatan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/7). Perseroan menjadi emiten kelima yang melantai di BEI pada 2026.
Pada perdagangan perdana, saham EMMI dibuka melonjak 15,96% ke level Rp 545 dari harga penawaran. Hingga pagi ini, volume perdagangan saham EMMI tercatat mencapai 300,94 ribu lot dengan nilai transaksi Rp 14,62 juta. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 20,29 kali.
EMMI menawarkan 522,85 juta saham baru dengan nominal Rp 50 per saham atau mewakili sebanyak-banyaknya 30% dari jumlah modal yang disetor penuh. Perusahaan menawarkan harga IPO dalam rentang Rp 446-515 per saham.
EMMI menetapkan harga IPO sebesar Rp 470 per saham. Dengan begitu, mereka berpotensi mengantongi dana segar mencapai Rp 245,73 miliar.
Dari dana itu, 10% akan dialokasikan untuk program employee stock allocation atau ESA. Perseroan sudah menunjuk PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek.
Dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, melakukan ekspansi fasilitas produksi, serta mendukung kebutuhan modal kerja Perseroan.
"Status perusahaan terbuka akan mendorong kami untuk semakin memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi informasi, dan mempercepat langkah kami dalam membangun ekosistem alat kesehatan yang lebih mandiri di Indonesia," ujar Direktur Utama EMMI Florian Chris Widjaja dalam pergelaran IPO di Main Hall BEI, Rabu (8/7).
Penyedia Alkes hingga Teknologi Medis
EMMI merupakan perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan dengan fokus pada perdagangan alat laboratorium, alat farmasi dan alat kesehatan untuk kebutuhan medis. Perseroan juga menyediakan solusi terintegrasi untuk berbagai fasilitas kesehatan, khususnya rumah sakit.
Untuk mendukung operasionalnya, EMMI memiliki satu kantor pusat, dua fasilitas produksi, empat kantor perwakilan, serta jaringan tenaga pemasaran yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Infrastruktur tersebut memungkinkan perseroan menjangkau kebutuhan rumah sakit dan fasilitas kesehatan secara lebih luas.
Selain mendistribusikan alat kesehatan, EMMI juga menjadi pemegang hak distribusi eksklusif sejumlah merek global di bidang teknologi medis (medtech).
Perseroan dikenal sebagai penyedia peralatan rumah sakit untuk layanan kritikal, seperti ruang operasi (operating theatre) dan unit perawatan intensif atau intensive care unit (ICU).
Ke depan, EMMI berencana memperluas portofolio bisnis ke segmen alat kesehatan habis pakai (consumables), salah satunya melalui produksi benang bedah. Pengembangan tersebut akan dilakukan, termasuk melalui kerja sama strategis (joint venture) dengan mitra global.
Penggunaan Dana IPO
Dana hasil IPO akan difokuskan untuk tiga prioritas utama: penguatan struktur permodalan, pengembangan fasilitas produksi, dan penambahan modal kerja.
Sebagian dana akan digunakan untuk pembayaran sebagian pinjaman bank, sebagian untuk pembangunan gedung pabrik baru di Cikupa, dan sisanya untuk pembelian persediaan serta kebutuhan modal kerja terkait proyek dan pengadaan alat kesehatan.
"Kami akan mempercepat pengembangan kapasitas produksi dalam negeri dan meningkatkan kemampuan kami dalam memenuhi kebutuhan alat kesehatan, baik untuk proyek pemerintah maupun swasta,” ujar Presiden Komisaris EMMI Surya Gunawan.
Perseroan akan melanjutkan strategi pertumbuhan dengan mengembangkan lini produk alat kesehatan produksi lokal, memperluas jaringan distribusi, dan memperkuat kerja sama dengan prinsipal internasional, termasuk mitra strategis yang telah bergabung dalam pengembangan fasilitas produksi di Indonesia.
