Menko Djamari Ancam Mutasi Kapolda dan Pangdam yang Gagal Cegah Titik Api

Andi M. Arief
10 Agustus 2026, 18:17
Personel Pemadam Kebakaran Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyemprotkan air ke lahan gambut yang terbakar di belakang Komplek Arwana Indah, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (5/8/2026). Karhutla yang te
ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/foc.
Personel Pemadam Kebakaran Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyemprotkan air ke lahan gambut yang terbakar di belakang Komplek Arwana Indah, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (5/8/2026). Karhutla yang telah berlangsung selama 12 hari dengan luas diperkirakan lebih dari 10 hektare tersebut semakin mendekati permukiman warga, namun perambatan api ke kawasan perumahan berhasil dicegah oleh tim gabungan pemadam kebakaran dari unsur pemerintah dan swasta.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengingatkan pemerintah masih akan memutasi kepala aparat penegak hukum tingkat daerah jika timbul titik api.

Aturan tersebut pertama kali dimunculkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2015. Djamari menyampaikan kebijakan tersebut tetap berlaku dan telah mengingatkan setiap Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) dan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) setiap melakukan kunjungan ke daerah.

"Ukuran keberhasilan pengendalian titik api diukur dari ada atau tidaknya titik api. Kalau tidak berhasil punya konsekuensi mutasi. Aturan itu tetap berlaku sampai sekarang," kata Djamari di kantornya, Senin (10/8).

BMKG menyatakan ancaman kemarau kering diperburuk dengan munculnya 5.019 titik panas hingga akhir Juli 2026. Mayoritas titik panas berada di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Djamari mengumumkan saat ini ada enam provinsi dengan status darurat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Menurutnya, penanganan kerawanan di enam daerah saat ini hanya dapat bergantung pada munculnya awan hujan.

Keenam provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Awan hujan menjadi penting lantaran mayoritas daratan dalam keenam provinsi tersebut merupakan lahan gambut yang sangat mudah terbakar.

"Wilayah hutan yang terbakar di dalam negeri sampai hari ini mencapai 107.000 hektare. Operasi udara adalah upaya yang paling tepat, namun harus ada awan hujan agar operasi berjalan," katanya.

Djamari mengatakan pihaknya telah menyiapkan 43 helikopter dan hingga 15 pesawat bersayap tetap untuk melakukan operasi udara tersebut. Namun operasi udara untuk melakukan rekayasa hujan buatan akan sangat bergantung pada keberadaan awan hujan.

Sebab, teknologi modifikasi cuaca atau TMC hanya mempercepat proses hujan dengan menaburkan garam pada awan hujan. Menurutnya, penurunan hujan di enam provinsi menjadi penting lantaran musim kemarau yang dimulai bulan ini diperburuk dengan timbulnya El Nino kuat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendata suhu indeks bulanan Nino 3,4 telah menembus angka 1,56 pada akhir Juni 2026. Dengan kata lain, intensitas El Nino berada dalam kategori kuat karena telah menembus ambang batas 1,5.

Otoritas memprediksi tingkat kebakaran hutan dan lahan akan memuncak pada Agustus-September 2026 di enam provinsi rawan karhutla. Djamari mencatat awan hujan di keenam provinsi tersebut hanya akan muncul selama 3-4 hari hingga 18 Agustus 2026 pada bulan ini.

Karena itu, Djamari menyampaikan pemerintah menyiapkan mitigasi karhutla melalui operasi darat. "Kami masih akan menggunakan flexible tank untuk diisi dengan air. Kami bahkan bisa membuat sumur buatan yang secara langsung dapat mengeluarkan air di titik-titik rawan karhutla," ujarnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...