Kementerian Lingkungan Anggap AI Jadi Ancaman Penurunan Emisi Nasional

Andi M. Arief
16 September 2026, 17:15
Foto udara pembangunan pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (16/6/2026).
ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/YU
Foto udara pembangunan pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (16/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengatakan akal imitasi atau AI merupakan ancaman untuk target penurunan emisi nasional. Sebab, industri tersebut membutuhkan volume air dan listrik yang besar.

Diaz menjelaskan daya maupun air yang dibutuhkan AI saat digunakan konsumen cukup rendah. Menurutnya, kebutuhan air dan listrik akan melonjak saat AI berada dalam tahap belajar seiring berkembangnya teknologi.

"Dalam proses belajar, daya dan air yang digunakan luar biasa besar. Kalau tidak menggunakan sumber energi baru terbarukan, semua energi tersebut akan berasal dari bahan bakar fosil," kata Diaz dalam Urban Climate Forum 2026 di Jakarta, Rabu (16/9).

Diaz menyampaikan teknologi AI tahap awal diperkirakan membutuhkan energi hingga 1.157 terawatt pada 2030. Dengan kata lain, penggunaan AI secara global setara dengan negara keempat terbesar dunia dari sisi konsumsi listrik.

Diaz menilai perkembangan teknologi AI dinilai dapat meningkatkan proyeksi tersebut secara signifikan. Menurutnya, teknologi AI terbaru sudah dapat menyelesaikan satu dari tujuh masalah matematika yang belum dapat dipecahkan sejauh ini, yakni Persamaan Navier-Stokes.

Perusahaan yang menyelesaikan masalah tersebut adalah OpenAI dengan teknologi terbarunya, AI Agentik bernama GPT-6 Astra. Walaupun klaim OpenAI masih melalui sengketa, Diaz menekankan emisi yang dikeluarkan oleh penggunaan AI akan terus bertambah.

"Kalau kita membicarakan keberlanjutan, kita juga harus bicara terkait pembangunan pusat data AI yang lebih berkelanjutan," katanya.

Sebelumnya, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno P. Marsudi mengungkap ancaman ketersediaan air di tengah pengembangan ekonomi digital dan akal imitasi (AI).

Hal ini karena 40% pusat data di dunia berada di wilayah dengan tingkat water stress tinggi atau wilayah dengan kebutuhan air bersih lebih banyak dari ketersediaannya. Sementara, kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI).

Retno menjelaskan, ekspansi teknologi kecerdasan buatan dan AI mendorong peningkatan kebutuhan air hingga 129% di seluruh rantai pasoknya.

“Tantangan untuk pusat data AI, yang mana masa depan perekonomian kita, adalah bagaimana menggunakan air secara efisien, lebih efisien. Dan tentunya teknologi banyak sekali berperan dalam hal ini,” kata Retno, dalam sambutannya di Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (1/8).

Di sisi lain, Professor of Mechanical Engineering di National University of Singapore (NUS) Lee Poh Seng mengungkapkan penggunaan model AI terbaru dapat memicu lonjakan daya listrik hingga empat kali lipat hanya dalam 200 milidetik atau 0,2 detik. Oleh karena itu, stabilitas energi kini menjadi perhatian utama.

Lonjakan daya listrik disebabkan oleh pola konsumsi energi yang ekstrem pada model AI dengan miliaran parameter, seperti Llama 3.1 (8 miliar parameter).

Ketika beban komputasi mengaktifkan seluruh jaringan dalam hitungan 200 milidetik, arus yang dibutuhkan dapat empat kali lipat lebih tinggi daripada penggunaan normal, menciptakan burst workload yang mendadak. Karena kecepatan eksekusi sangat tinggi, sistem penyedia energi tidak semata-mata dapat menyesuaikan diri, sehingga terjadi ketidakstabilan bila tidak diantisipasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, fokus pengembangan AI banyak diarahkan pada inovasi perangkat keras, mulai dari GPU NVIDIA RTX 4090 hingga cip generasi terbaru seperti X200 dan Blackwell. Namun, menurut Lee, tantangan terbesar justru ada pada penopang infrastruktur energi.

“Penggunaan AI dengan miliaran parameter menimbulkan lonjakan listrik besar dalam milidetik. Artinya, infrastruktur daya harus benar-benar dirancang untuk mendukung reliabilitas sistem, bukan hanya mengandalkan kecepatan cip,” katanya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...