Arrmanatha Nasir jadi Menlu, Posisi Wamen Diisi Anis Matta dan Havas Oegroseno
Presiden Prabowo Subianto mengubah struktur Kabinet Merah Putih melalui pergantian sejumlah pejabat serta pergeseran pejabat ke posisi strategis lainnya. Salah satunya yakni menggeser posisi Sugiono sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Adapun posisi Menteri Luar Negeri yang sebelumnya diduduki oleh Sugiono beralih ke Arrmanatha Christiawan Nasir. Arrmanatha Nasir sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu).
Arrmanatha mengatakan Kementerian Luar Negeri saat ini tetap memiliki dua Wamenlu dan belum menerima informasi mengenai rencana penambahan wakil menteri. Struktur Wamenlu saat ini terdiri atas Muhamamad Anis Matta dan Arif Havas Oegroseno.
“Sampai saat ini masih tetap dua Wamenlu. Belum ada informasi terkait dengan tambahan Wakil Menteri Luar Negeri,” ujarnya setelah seremoni pelantikan di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (1/10).
Anis Matta merupakan Wamenlu dengan fokus pada dunia Islam. Ia adalah Ketua Umum DPN Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Partai Gelora) dan pernah menjadi Wakil Ketua DPR periode 2009-2013.
Anis Matta meraih gelar licentiate (Lc.) setara dengan sarjana dalam syariah Islam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta. Lembaga ini merupakan cabang dari Universitas Imam Mohammad Ibn Saud di Riyadh, Saudi Arabia. Ia juga mengikuti kursus singkat Lemhanas (2001) dan American Council for Young Political Leaders (ACYPL) di Amerika Serikat pada 2000.
Sementara itu, Wamenlu Havas sebelumnya merupakan Duta Besar Indonesia untuk Jerman pada 2018 – 2024, Deputi Kedaulatan Maritim pada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada 2015-2018, serta Duta Besar Indonesia untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa pada 2010-2015.
Havas adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dan Harvard Law School yang telah memiliki karier diplomatik selama lebih dari 30 tahun, dengan penugasan antara lain di Jenewa dan Lisbon.
Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional pada 2008–2010, serta Direktur Politik, Keamanan, dan Perjanjian Kawasan pada 2002–2008. Pada tahun 2010, beliau menjadi putra Indonesia pertama yang memimpin Konferensi UNCLOS di PBB.
