Mustika Wijaya Raih Ashoka Fellow 2026, Bangun Sistem Air Bersih di 40 Desa NTT
Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Solar Chapter, Mustika Wijaya, ditetapkan sebagai Ashoka Fellow 2026 atas inovasinya membangun sistem layanan air bersih pedesaan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.
Melalui Solar Chapter, Mustika mengembangkan model layanan air bersih yang tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur. Tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat lokal, tata kelola komunitas, pembiayaan jangka panjang, serta pemanfaatan teknologi digital. Model tersebut telah diterapkan di lebih dari 40 desa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan memberikan akses air bersih yang lebih andal kepada lebih dari 38.000 warga.
Ketua Tim Venture & Fellowship Ashoka Indonesia, Rezza Brammadita mengatakan, Mustika menghadirkan pendekatan baru yang berpotensi mengubah sistem penyediaan layanan air bersih di Indonesia. “Mustika menghadirkan ide baru yang berpotensi mengubah cara penyediaan layanan air bersih dilakukan di Indonesia,” kata Rezza, Senin (5/10).
Menurut Rezza, pendekatan Mustika tidak hanya menyelesaikan persoalan akses air di tingkat komunitas, tetapi juga membangun model yang memperkuat kapasitas lokal, akuntabilitas, dan keberlanjutan sistem. “Inilah karakteristik utama dari seorang Ashoka Fellow: menghadirkan solusi yang mampu mengubah sistem, bukan hanya menyelesaikan gejala masalah,” ujarnya.
Persoalan akses air bersih di berbagai wilayah Indonesia, menurut Ashoka, tidak berhenti pada ketersediaan infrastruktur. Sejumlah sistem penyediaan air dapat berhenti berfungsi setelah beberapa tahun akibat lemahnya tata kelola, keterbatasan kapasitas pengelola, serta tidak adanya mekanisme pendanaan yang berkelanjutan.
Mustika mengatakan, persoalan tersebut membuat pembangunan infrastruktur saja tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan akses air bersih. “Selama ini kita sering menganggap tantangan air bersih sebagai persoalan infrastruktur. Padahal, tantangan yang lebih besar adalah memastikan sistem tersebut terus berfungsi dan dikelola oleh masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Mustika.
Melalui Solar Chapter, Mustika kemudian mengembangkan pendekatan yang menempatkan layanan air bersih sebagai sebuah sistem yang harus dikelola secara berkelanjutan oleh komunitas dan berbagai pemangku kepentingan.
Infrastruktur air berbasis energi surya menjadi pintu masuk untuk membangun kapasitas masyarakat, menciptakan tata kelola lokal, memperkuat akuntabilitas, sekaligus menjaga keberlangsungan layanan dalam jangka panjang.
Solar Chapter juga mengembangkan Mengalir.co, platform pemantauan digital yang memungkinkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta mengakses data kondisi layanan air secara real time. Data tersebut digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif.
“Kekuatan utama inovasi Mustika bukan semata pada penggunaan teknologi, melainkan pada kemampuannya mengubah cara masyarakat, pemerintah, dan sektor pembangunan memandang layanan air pedesaan,” kata Rezza. Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan Ashoka menetapkan Mustika sebagai Ashoka Fellow 2026.
Selain membangun infrastruktur dan tata kelola, Solar Chapter juga mengembangkan program Solar Champions untuk mencetak pemimpin muda di desa. Program tersebut telah melatih lebih dari 145 pemuda lokal untuk menjadi operator, teknisi, dan penggerak yang mendukung keberlanjutan layanan air di komunitas masing-masing.
Pendekatan tersebut turut tercermin dari tingkat keberfungsian sistem yang didampingi Solar Chapter. Tingkat keberfungsian mencapai 84,5%, jauh di atas rata-rata regional yang berada pada kisaran 37%.
Data tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan layanan air tidak hanya ditentukan oleh kualitas infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas sistem pengelolaan yang menopangnya.
Bagi Mustika, persoalan air bersih merupakan isu keadilan sosial yang membutuhkan perubahan cara berpikir dan pola kerja lintas sektor. “Kami percaya bahwa komunitas bukan penerima manfaat pasif, tetapi mitra utama yang memiliki kapasitas untuk mengelola layanan airnya sendiri. Karena itu, tujuan kami bukan hanya membangun akses air, tetapi membangun sistem yang membuat akses tersebut bertahan,” ucap Mustika.
Mustika mendirikan Solar Chapter pada 2017 saat masih menempuh pendidikan sebagai mahasiswa teknik elektro. Organisasi tersebut awalnya dibangun untuk menghadirkan akses air bersih berbasis energi terbarukan di wilayah terpencil.
Dalam perkembangannya, Solar Chapter memperluas pendekatan dengan mendorong transformasi sistem layanan air pedesaan melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, sektor swasta, dan organisasi pembangunan.
Sebagai Ashoka Fellow, Mustika akan bergabung dengan jaringan global yang terdiri atas lebih dari 4.000 Ashoka Fellow di lebih dari 90 negara. Ia juga akan memperoleh dukungan berupa koneksi strategis, peluang kolaborasi, pengembangan kepemimpinan, dan akses ke jaringan global Ashoka untuk memperluas dampak inovasinya.
