Serunya Pameran Creativillage WCCE 2026, dari Wastra Nusantara hingga Gim
World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 mengadakan pameran ekonomi kreatif bertajuk "Creativillage" di kawasan SCBD, Jakarta. Acara ini berlangsung dari 21–25 Oktober 2026.
Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mengatakan pameran ini terbagi dalam tiga zona utama yaitu Village One bertempat di Ashta District 8, Village Two di MGP Space, dan WCCE Weekland di SCBD Park.
Village pertama berada di dalam pusat perbelanjaan Ashta dan mengusung konsep open space atau bisa dijangkau oleh seluruh pengunjung mal. Terdapat 6 jenis pameran yang disajikan di sini, mulai dari Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI); Ikatan Arsitek Indonesia (IAI); perancang busana seperti Adrie Basuki, Amotyamsurimuda, dan Poppy Dharsono; jenama lokal seperti Akisa, Boemi dan Bell Living Lab; hingga studio desain seperti Floorstudio
Berkat konsep open space, seluruh pengunjung mal bisa menikmati dan menyaksikan karya-karya tersebut lebih leluasa, tanpa harus melakukan registrasi. Seorang pengunjung bernama Sekar mengatakan, ia awalnya tak sengaja melihat-lihat instalasi pameran yang berada di lantai koridor ashta.
“Iya, lihat-lihat saja,” katanya kepada Katadata, Sabtu (24/10).
Perempuan itu akhirnya menyempatkan diri untuk berkeliling di area pameran. Dia menyebut lokasi event itu mudah dijangkau.
Pada bagian ADGI Design Week, terdapat lima tema yang diusung. Mulai dari reformasi dan ledakan media; cara baru untuk terhubung; konsumsi dan budaya pop; alat dan estetika baru, serta; ADGI designer response.
“Pameran ini mengumpulkan karya-karya dari tahun 90-an sampai sekarang. Contohnya seperti masa reformasi dan ledakan media,” kata petugas setempat.
Dia menyebut pameran ini memang tidak hanya berpaku pada satu aspek. Selain ADGI, dia menyebut sejumlah karya yang masuk dalam Creativillage juga tersedia di bagian lain Ashta.
Bergeser dari ADGI, di Ashta juga ditampilkan belasan kain wastra nusantara yang digantung di tengah-tengah bangunan tradisional. Di sana juga ada seorang perempuan yang memeragakan proses tenun kain.
Tak hanya kain, di lantai ini Creativillage juga turut menampilkan pameran tiga mobil, yang salah satunya mobil kertas. Spot ini merupakan salah satu yang paling ramai sebab banyak pengunjung yang berhenti dan melakukan swafoto di sana.
Bergeser ke lantai dua, pameran di Astha menampilkan puluhan pakaian kain, batik, tenun yang dipajang pada patung-patung. Salah yang dipamerkan dari APPMI adalah motif kain dari tumbuhan dan bunga-bunga.
Di lantai dua ini, pengunjung pun dapat berkesempatan untuk mencoba melukis batik di atas kain putih yang sudah disiapkan tenant. Secara keseluruhan, pengunjung yang menikmati pameran di Ashta didominasi oleh masyarakat dewasa dan anak-anak muda.
Village Kedua
Berbeda dengan Ashta, pameran Creativillage yang kedua konsepnya lebih ketat sebab untuk masuk ke instalasi ini, pengunjung harus melakukan registrasi dan menunjukkan QR.
Tak hanya soal itu, di Village kedua ini juga mengusung tema yang berbeda dari yang pertama. Instalasi kedua ini terdiri atas simulasi gim, pameran karya film Visinema, hingga sesi lomba. Ada 10 mitra industri global dan nasional seperti Apple Academy, organisasi WIPO, UniPin, Visinema, Tencent, dan Shopee yang mengisi pameran di Village kedua.
Pengunjung yang mendatangi Village kedua cukup beragam, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Tersedia pula kesempatan bagi pengunjung yang ingin mencoba bermain gim balapan namun duduk langsung di unit mobil pembalap. Saat Katadata berkunjung pada pukul 15.00 WIB, juga sedang berlangsung pertandingan game yang bisa diikuti langsung oleh pengunjung.
Perluas Jangkauan Dampak Ekonomi Kreatif
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar mengatakan, Creativillage diselenggarakan untuk memperluas jangkauan dampak melalui pameran ekonomi kreatif.
"Melalui Creativillage, kita ingin menghadirkan best of the best dari Indonesia dan membuktikan kepada dunia bahwa pelaku industri kreatif kita sudah sekeren ini. Ini bukan sekadar pameran, tetapi langkah nyata untuk menemukan hidden gems di seluruh pelosok negeri sekaligus menggerakkan roda perekonomian bangsa,” ungkap Irene dalam siaran pers, dikutip pada Sabtu (24/10).
Dia menyebut Creativillage mengusung semangat A Journey Through Indonesian Creative Economy yang berfokus pada tiga pilar utama, yaitu showcase, collaboration, dan promotion.
Ketiganya diwujudkan melalui pameran produk, aktivasi jenama, serta pengalaman interaktif yang memperkenalkan karya lintas subsektor kepada masyarakat luas sekaligus mempertemukan pelaku industri dengan calon investor dan mitra strategis. Sebagai wadah strategis, Creativillage bertujuan mengubah karya-karya kreatif menjadi eksposur, koneksi, peluang pasar, dan nilai ekonomi berkelanjutan.
"Pemerintah berupaya menjembatani agar pasar terbuka lebih luas, Karena Indonesia is not here just for Indonesia, tapi for a better world. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mendorong terciptanya transaksi, diplomasi, serta kolaborasi,” ucapnya.
Dia menyebut masing-masing zona Creativillage memberikan manfaat ekonomi langsung bagi para pelaku kreatif yang tampil. Salah satunya dirasakan oleh FUGUKU, brand fashion lokal berbasis teknik kerajinan tangan unik yang berpartisipasi di Village One.
Melalui instalasi seni di Creativillage, FUGUKU memamerkan karya wearable art berbasis polyester daur ulang serta teknik jumputan yang melibatkan sekitar 70 perajin perempuan di Jabodetabek.
“Kami ingin memperlihatkan karakter FUGUKU yang penuh warna, ceria, dan playful melalui instalasi ini, sekaligus memperkenalkan pendekatan kami terhadap material berkelanjutan dan proses pembuatan secara handmade. Dan buat kami ajang seperti Creativillage memberikan kami panggung nyata untuk memperluas jangkauan brand,” ujar Business Development Executive untuk FUGUKU, Rauf.
Dampak positif serupa dirasakan oleh pengembang gim lokal Running Train, Rizky Nova asal Surabaya, yang memanfaatkan Creativillage sebagai sarana validasi karya dan perluasan jejaring industri. Gim simulator kereta api semi-arcade berlatar Nusantara dan Jepang ini mengusung visual fotorealistik untuk menghadirkan pengalaman masinis imersif.
“Menjadi bagian dari Creativillage membuat gim kami dicoba langsung oleh pengunjung maupun pemangku kepentingan internasional. Peluang ini sangat berharga untuk mendapatkan masukan, membangun kesadaran publik, serta membuka potensi kolaborasi dengan pemain industri global,” kata Rizky.

