Dino Patti Djalal Kritik Mantan Mendag Lutfi yang Terus Menyerang Singapura

Mela Syaharani
29 Oktober 2026, 14:39
Presiden Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyampaikan pidato sambutannya dalam pembukaan Conference on Indonesia Foreign Policy (CIFP) 2025, di Kasablanka Hall, Jakarta, Sabtu (29/11).
Youtube FPCI
Presiden Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyampaikan pidato sambutannya dalam pembukaan Conference on Indonesia Foreign Policy (CIFP) 2025, di Kasablanka Hall, Jakarta, Sabtu (29/11).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri 2014 Dino Patti Djalal mengkritik mantan Menteri Perdagangan 2020-2022 Muhammad Lutfi yang terus melontarkan serangan kepada Singapura sejak 10 hari lalu.

“Serangan mantan Menteri Perdagangan M. Lutfi yang obsesif dan tidak henti-hentinya terhadap Singapura benar-benar mencengangkan,” kata Dino dikutip dari akun x pribadinya, Kamis (29/10).

Dalam cuitannya Dino juga menyinggung bahwa mereka berdua pernah bekerja sama dalam satu dekade di bawah kepemimpinan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia menyebut kala itu mereka bekerja sama untuk memajukan perdagangan serta investasi antara Indonesia dan Singapura.

“Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya, dan mengapa tiba-tiba ia berubah sikap hingga merusak banyak kontribusinya terhadap hubungan Indonesia dan Singapura, sesuatu yang sangat tidak seperti dirinya. Namun, saya sungguh berharap ia baik-baik saja,” ujarnya.

Dalam 10 hari terakhir, Lutfi telah mengunggah beberapa video kritikan terhadap Singapura. Video pertama menyoroti terkait keputusan Singapura yang menyurati 7 perusahaan terkait masalah kebakaran hutan dan lahan.

“Kalau buktinya mengarah ke para pengambil keputusan yang berbasis di Singapura, apakah pemerintah Anda bakal mengusut kasus ini dengan ketegasan yang sama, tanpa pandang bulu soal seberapa kaya, berpengaruh, atau kuatnya koneksi mereka?” kata Lutfi dalam unggahan Instagram pribadinya, Senin (19/10).

Lutfi juga kembali mengkritik Singapura yang menurutnya turut andil dalam turunnya posisi bursa Indonesia dalam MSCI dari emerging market ke standalone market. Dia menyebut jatuhnya IHSG pekan lalu merupakan puncak dari skenario yang dirancang dengan sangat rapi.

“Tujuannya satu: menciptakan kepanikan pasar agar harga terkoreksi tajam, lalu menyerok kembali aset-aset strategis kita di harga diskon. Dari isu kabut asap hingga jatuhnya indeks saham, ini bukan sekadar soal kepatuhan atau lingkungan, melainkan soal siapa yang memegang kendali atas aset bangsa,” tulis Lutfi dalam instagram pribadinya, Senin (19/10).

Lutfi juga turut mengkritik salah satu pengusaha batu bara Indonesia yang menyumbang dana pendidikan di Singapura. Terakhir, Lutfi juga turut mengkritisi Singapura melalui pernyataan mantan Perdana Menteri mereka pada 2015 yang menurutnya seperti meludah di ruang tamu rumah Indonesia.

Dia menyebut bagaimana mungkin Singapura yang tidak punya sumber daya alam dan 50 kali lebih kecil merasa menghidupi Indonesia.

“Kalau mereka sengaja mendesain sistem Transfer Pricing, Round-Tripping, dan Family Office bebas pajak untuk memarkir Rp3.000 hingga Rp4.000 triliun uang hasil keringat dan bumi Indonesia? Ketika bisnisnya untung, Singapura yang ambil keuntungannya. Giliran terbukti merusak hutan dan korupsi di Indonesia, mereka ikut menginjak kita dan uangnya diambil Singapura juga!” tulis Lutfi pada Selasa (27/10).

Di akhir postingannya dia mengatakan unggahan tersebut dibuat hanya untuk menggerakkan jiwa patriotisme masyarakat sebagai bangsa yang berdaulat, bukan sebagai pecundang atau pengkhianat bangsa yang selalu dibayar untuk berpihak ke negara luar.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...