Cek Data: Kontroversi Sound Horeg, Kebisingan Ekstrem yang Membahayakan

Muhammad Almer Sidqi
16 Juni 2025, 12:50
Unjuk rasa Battle Sound di Banyuwangi
ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/Spt.
Ilustrasi sound horeg
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Fenomena sound horeg—sistem bunyi raksasa yang diarak di atas truk—semakin marak di Jawa Timur (Jatim). Dalam bahasa Jawa, “horeg” berarti berguncang atau bergetar. Sesuai namanya, ciri utama sound horeg adalah bunyi musik yang menggelegar dan menghasilkan getaran kuat di sekitarnya

Pada akhir April lalu, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jatim berencana memberikan Hak Kekayaan Intelektual atau HAKI kepada sound horeg. Kepala Kanwil Kemenkum Jatim Haris Sukamto bahkan mengatakan sound horeg sebagai karya anak bangsa.

Kontroversi

Sound horeg merupakan sistem audio dengan tingkat kekerasan yang tinggi. Dalam berbagai rekaman video di internet, misalnya, bunyi musik yang dihasilkan sound horeg sanggup memecahkan kaca jendela di rumah-rumah warga.

Pada Oktober 2024 lalu, dalam sebuah video yang tersebar di X, seorang perempuan lansia memprotes bunyi bising yang diputar sekelompok pegiat sound horeg. Perempuan itu sesekali tampak memegangi dada dan telinganya.

Adapun Sam Brewog, salah satu pegiat sound horeg, mengklaim semakin keras bunyi sound horeg, semakin senang para pendengarnya. “Kaca rumahnya pecah mereka malah ketawa,” katanya, dikutip dari siniar KapanLagiDotCom, 26 Mei lalu. “Belum ada sejarahnya telinga rusak gara-gara sound horeg.”

Faktanya

Sound horeg berada dalam kategori kebisingan ekstrem dan sangat berbahaya, jauh di atas tingkat kenyamanan untuk telinga manusia. Laporan Kompas.com menyebut sound horeg punya tingkat kekerasan hingga mencapai 135 desibel (dB).

Jika bersandar pada data yang dibuat Decibel Pro, pengembang perangkat lunak pengukur desibel, kekuatan bunyi sound horeg nyaris setara bunyi tembakan senjata api berkaliber tinggi (140 dB), sekaligus lebih keras dari bunyi palu pembongkar (jack hammer) (130 dB) atau pesawat jet saat lepas landas (120 dB).

Adapun bunyi sebesar 140 dB sudah dikategorikan sebagai ambang batas rasa sakit untuk manusia. Ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada indera pendengaran, dikenal sebagai noise-induced hearing loss (NIHL).

Dampak NIHL macam-macam. Yang paling utama adalah kemampuan mendengar yang turun sehingga menyebabkan masalah komunikasi. Ini juga bisa berdampak pada gangguan non-auditori. Misalnya, perasaan terisolasi, lebih cepat lelah, hingga stres dan depresi. 

Menurut Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (NIOSH) di Amerika Serikat (AS), bunyi di atas 85 dB sudah masuk kategori berbahaya buat manusia dalam jangka panjang.

The Hearing Journal pada 2021 menerbitkan hasil riset yang menyimpulkan paparan bunyi di atas 70 dB secara konsisten bahkan dapat menyebabkan kerusakan pendengaran permanen. Seperempat orang dewasa di seluruh AS, misalnya, mengalami NIHL yang justru diakibatkan kebisingan di dalam kehidupan modern. Misalnya, penggunaan alat-alat rumah tangga, sistem stereo bertenaga besar di kelab malam atau konser musik, hingga penggunaan perangkat audio pribadi di telepon pintar.

Situasi ini berbeda dengan kondisi pada masa lalu. Menurut Daniel Fink dan Jan Mayes, dua periset NIHL itu, di masa sebelum Perang Dunia Kedua, gangguan pendengaran akibat kebisingan lebih identik dengan pekerjaan di pabrik atau lokasi industri.

Kebisingan di tempat kerja memang punya risiko yang lebih tinggi lagi. Riset Decible Pro juga menunjukkan bahwa seseorang yang bekerja di tempat kebisingan di atas 85 dB sudah semestinya menggunakan alat pelindung telinga agar kupingnya tak rusak.

Data di atas menunjukkan bagaimana batas aman durasi paparan semakin menurun seiring meningkatnya tingkat kebisingan. Misalnya, pada 106 dB, batas durasi paparannya adalah 3,7 menit. Durasi amannya berkurang menjadi 112 detik ketika desibelnya mencapai 109 dB. Jika kebisingan mencapai 112 dB, waktu paparan amannya turun menjadi hanya 56 detik. Artinya, setiap kenaikan 3 dB mengurangi durasi paparan hingga setengahnya.

Semakin tinggi desibelnya, dengan demikian, semakin singkat waktu paparan maksimal yang diperbolehkan tanpa menimbulkan risiko kerusakan pendengaran. Jika menggunakan estimasi ini, bunyi sound horeg harus segera dihindari persis setelah 1 detik.

Di Indonesia beberapa riset memotret masalah serupa. Sebuah studi di Medan, Sumatera Utara, mendapati 3 dari 8 pekerja sebuah pabrik es di Medan Belawan menderita NIHL. Sebabnya, mereka terpapar kebisingan hingga 90 dB selama 12 jam setiap hari tanpa alat pelindung pendengaran.

Paparan bunyi keras juga punya dampak yang signifikan terhadap kesehatan ibu hamil dan janinnya. Jurnal Indian Pediatrics pada 2016 pernah menyimpulkan bahwa kebisingan yang intens dapat mengganggu ibu hamil secara serius. Selain gangguan pendengaran, dampaknya juga mencakup gangguan tidur hingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Di sisi lain, bayi di dalam kandungan juga terancam. Menurut studi itu, paparan bunyi bising di atas 85 dB secara terus-menerus saat kehamilan dapat menyebabkan kerusakan koklea di dalam telinga bayi, bayi lahir prematur, berat lahir rendah, sampai cacat bawaan.

Referensi:

Decibel Pro. “Comprehensive Decibel Chart of Common Sound Sources” (diakses 11 Juni 2025)

Fink, D., & Mayes, J. 2021. “Too Loud: Noise Exposure in Everyday Life is Causing Hearing Loss” (diakses 11 Juni 2025)

KapanLagiDotCom. 2025. “Fenomena Sound Horeg, Kaca Pecah Malah Senang” (diakses 11 Juni 2025)

Kompas.com. 2025. “Bahaya Suara Sound Horeg Capai 135 Desibel, Telinga Bisa Tuli Permanen” (diakses 11 Juni 2025)

Tahir, A., & Utami, T. N. 2022. “Studi Kualitatif Gangguan Pendengaran Akibat Bising di Pabrik Es Perum Perikanan Indonesia, Medan Belawan” (diakses 11 Juni 2025)

Thakur dkk. 2016. “Noise as a Health Hazard for Children: Time to Make a Noise about it” (diakses 11 Juni 2025)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...