J&T Express Tanggapi Kabar Jadi Unicorn Baru Indonesia

Perusahaan logistik J&T Express masuk daftar unicorn versi CB Insights. Valuasinya US$ 7,8 miliar atau mendekati status decacorn, seperti Gojek.
Desy Setyowati
13 April 2021, 16:14
J&T Express Tanggapi Kabar Jadi Unicorn Baru Indonesia
J&T Express
Armada J&T Express saat menggelar konvoi di Jakarta pada 10 September 2017.

Berdasarkan laporan CB Insights bertajuk The Complete List of Unicorn Companies, J&T Express masuk dalam daftar unicorn. Namun CEO J&T Express Indonesia Robin Lo belum mengetahui status tersebut.

“Kami belum update, karena biasanya penilaiannya dari pihak luar seperti modal ventura dan lainnya,” kata Robin kepada Katadata.co.id, Selasa (13/4).

Meski begitu, ia sangat senang dengan kabar tersebut. “Ini menunjukkan banyak pihak menilai baik performa kami,” ujar dia.

Ia berharap, J&T bisa segera berstatus decacorn atau memiliki valuasi minimal US$ 10 miliar. Berdasarkan data CB Insights, valuasi perusahaan logistik ini mencapai US$ 7,8 miliar.

Advertisement

Valuasinya mengalahkan Tokopedia (US$ 7 miliar), Bukalapak (US$ 3,5 miliar), Traveloka (US$ 3 miliar), dan OVO (US$ 2,9 miliar). Sejauh ini, baru Gojek yang berstatus decacorn di Indonesia.

Sebelumnya, sumber The Information melaporkan bahwa J&T Express mendapatkan pendanaan lebih dari US$ 2 miliar pada pekan lalu (5/4). Investor yang berpartisipasi yakni PE China Hillhouse Capital, Boyu Capital, dan Sequoia Capital China.

J&T Express merupakan perusahaan logistik pengiriman barang yang didirikan oleh Jet Lee dan Tony Chen pada 2015. Beberapa pemegang sahamnya yakni Formation Group, Sequoia Capital India, dan Warburg Pincus.

Sebelumnya, Alpha JWC Ventures dan Kearney memperkirakan, Indonesia memiliki tiga unicorn baru dalam lima tahun ke depan. Ketiganya akan berasal dari sektor e-commerce, finansial teknologi (fintech), serta digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Perkiraan itu merujuk pada riset bertajuk ‘Unlocking Next Wave of Digital Growth: Beyond Metropolitan Indonesia’. Ini berdasarkan survei terhadap 2.100 lebih konsumen akhir dan 1.100 retailer di 23 kota. Selain itu, wawancara dengan stakeholder di 13 kota di tingkat (tier) dua dan tiga.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait