Booming AI Jadi Bumerang Nintendo, Harga Memori Naik hingga Switch 2 Lebih Mahal

Rahayu Subekti
12 Mei 2026, 09:52
AI
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/agr
Pengunjung mencoba memainkan gim karya peserta dalam Global Game Jam di Gedung Malang Creative Centre, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (1/2/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perkembangan pesat industri kecerdasan buatan atau AI mulai memberi dampak ke industri gim. Salah satu yang terkena imbas adalah perusahaan gim asal Jepang, Nintendo yang terpaksa menaikkan harga konsol Switch 2 akibat lonjakan biaya chip memori global.

Kondisi tersebut langsung memukul kepercayaan investor. Saham Nintendo ditutup turun 8,4% di Tokyo pada perdagangan Senin (11/5) menjadi 7.020 yen atau sekitar US$ 44,64 yang setara Rp 777,8 ribu per dolar AS (kurs Rp 17.415 per dolar AS), terendah sejak Agustus 2024. Sepanjang tahun ini, saham perusahaan sudah melemah sekitar 34%.

Nintendo sebelumnya mengumumkan kenaikan harga Switch 2 di berbagai negara. Di Amerika Serikat, harga konsol naik sebesar US$ 50 atau Rp 870.750 per dolar AS. Sementara di Jepang naik 10.000 yen atau sekitar US$ 64 yang setara Rp 1,11 juta.

Perusahaan mengatakan lonjakan harga memori menjadi faktor utama di balik keputusan tersebut. Permintaan chip memori yang meningkat drastis untuk kebutuhan infrastruktur AI membuat biaya produksi perangkat elektronik ikut terdorong naik, termasuk konsol game.

Tidak hanya menaikkan harga, Nintendo juga memperkirakan penjualan Switch 2 akan melambat. “Nintendo memperkirakan penjualan perangkat keras Switch 2 akan turun pada tahun fiskal ini (Maret 2027) daripada naik seperti yang biasanya terjadi pada konsol baru,” kata CEO Kantan Games Serkan Toto kepada CNBC Global, Senin (11/5).

Perusahaan memproyeksikan penjualan konsol itu mencapai 16,5 juta unit. Angka ini turun dibanding capaian 19,86 juta unit sejak peluncurannya pada Juni 2025. Toto menilai kenaikan harga menjadi faktor terbesar yang dapat menekan permintaan konsumen.

Meski begitu, sejumlah analis menilai Nintendo terlalu konservatif dalam membuat proyeksi. Direktur Morningstar Kazunori Ito mengatakan kenaikan harga sebenarnya masih tergolong moderat dan pasar terlalu fokus pada hambatan jangka pendek.

Menurut Ito, basis pengguna Switch yang sudah mencapai lebih dari 100 juta orang masih menjadi kekuatan besar bagi Nintendo untuk mendorong migrasi ke platform baru. Pasar terlalu fokus pada hambatan jangka pendek dan panduan konservatif.

“Kami percaya kenaikan harga konsol tidak dapat dihindari mengingat inflasi yang berkepanjangan dalam biaya memori. Meskipun panduan pengiriman yang lemah kemungkinan mencerminkan kehati-hatian yang berlebihan terhadap permintaan, kenaikan itu sendiri tetap moderat, dan kami memperkirakan pengiriman akan bertahan lebih baik daripada yang diantisipasi perusahaan,” ujar Ito.

Morningstar bahkan memperkirakan penjualan Switch 2 bisa mencapai 19 juta unit pada tahun fiskal ini. Prediksi ni lebih tinggi dibanding proyeksi resmi Nintendo.

Selain hardware, pasar juga menyoroti proyeksi penjualan gim Nintendo yang diperkirakan turun sekitar 11% secara tahunan menjadi 165 juta unit hingga Maret 2027.

Meski demikian, Switch 2 sebenarnya sudah mencatat awal yang cukup positif. Beberapa gim baru seperti Mario Kart World dan Pokemon Pokopia berhasil menjadi hit viral dan terjual lebih dari empat juta unit hanya dalam lima minggu setelah peluncuran.

Kini investor menunggu langkah berikutnya dari Nintendo, terutama terkait pengumuman game baru dari waralaba andalannya seperti Super Mario dan The Legend of Zelda yang diyakini bisa menjadi penentu momentum Switch 2 ke depan.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...