Amar Bank Bidik Petani hingga Warung Lewat Embedded Banking
PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) membidik pelaku usaha mikro mulai dari petani, pemilik warung hingga pedagang online melalui pengembangan layanan embedded banking.
Direktur Embedded Banking Amar Bank Gasim Alkaf mengatakan, perseroan saat ini menjajaki kerja sama dengan berbagai platform digital, termasuk agritech, platform digitalisasi warung, transportasi hingga fintech peer-to-peer (P2P) lending alias pinjaman daring.
"Ada agritech, teknologi untuk warung, dan transportasi (segmen mitra yang sudah bekerja sama). Kami terbuka untuk solusi perbankan," kata Gasim dalam acara temu media di Jakarta, Senin (25/5).
Salah satu mitra di sektor transportasi yang diajak kerja sama yakni PT MRT Jakarta. Kemitraan ini memungkinkan Amar Bank mengimplementasikan embedded banking pada kanal digital PT MRT Jakarta, sekaligus menghadirkan Amar Bank sebagai payment channel dalam ekosistem pembayaran MRT Jakarta, termasuk di aplikasi MyMRTJ.
Amar Bank juga menjajaki kerja sama dengan perusahaan fintech lending. “Pinjaman tetap dari fintech lending yang bersangkutan, tetapi QRIS-nya dari kami,” kata Gasim.
Melalui model embedded banking, layanan perbankan Amar Bank ditanamkan langsung ke dalam aplikasi mitra. Dengan demikian, pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi bank secara terpisah untuk mengakses fitur keuangan.
Sebagai contoh, petani yang menggunakan aplikasi agritech nantinya dapat melihat saldo tabungan, melakukan transaksi QRIS hingga mengakses pembiayaan tanpa harus keluar dari aplikasi yang sehari-hari mereka gunakan.
“Misalnya, petani bisa melihat saldo tabungan (di aplikasi agritech), padahal tabungannya ada di Amar Bank,” kata SVP Finance Amar Bank David Wirawan. Konsep serupa juga diterapkan pada ekosistem warung dan usaha mikro lainnya.
Untuk mempercepat akuisisi mitra, Amar Bank mengembangkan software development kit (SDK) yang memungkinkan perusahaan digital mengintegrasikan layanan perbankan dengan lebih cepat dibandingkan model application programming interface (API) yang umum digunakan industri.
Direktur Bisnis Ritel Amar Bank Abraham Viktor menjelaskan SDK ini sudah dilengkapi tampilan antarmuka (UI/UX) dan sistem keamanan, sehingga mitra hanya perlu menempatkan fitur itu ke dalam aplikasinya.
"Kalau pakai SDK, partner hanya perlu ‘tempel’. Dari sisi keamanan juga tidak perlu membangun lagi. Dalam satu sampai dua minggu bisa selesai," katanya.
Strategi embedded banking menjadi salah satu fokus utama Amar Bank dalam memperluas jangkauan layanan keuangan. Perseroan sebelumnya telah menggandeng berbagai mitra dari sektor e-commerce, payment gateway, fintech P2P lending, agritech hingga edutech, dan layanan telah digunakan lebih dari 10.000 pengguna.
Selama ini perseroan telah memiliki sekitar 1 juta nasabah dari aplikasi Amar Bank. Namun, untuk mempercepat pertumbuhan, Amar Bank masuk ke berbagai ekosistem digital yang sudah memiliki basis pengguna besar, seperti agritech, platform digitalisasi warung, transportasi, hingga fintech.
Dengan model ini, layanan tabungan, pembayaran QRIS, maupun pembiayaan dapat diakses langsung dari aplikasi mitra, sehingga pengguna tidak perlu berpindah ke aplikasi bank lain. Strategi ini memungkinkan Amar Bank menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani optimal oleh perbankan konvensional.
