Abu Erupsi Anak Krakatau Menyebar, Laptop Bisa Overheat hingga Ganggu USB
Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra, termasuk Jakarta. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas udara dan jarak pandang, tetapi juga perlu diwaspadai terhadap perangkat elektronik seperti laptop.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan intensitas dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Senin pagi (7/9) belum berubah signifikan dari pengamatan sebelumnya.
Abu vulkanik diperkirakan menyebar dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,5 kilometer. Abu bergerak menuju barat dengan kecepatan sekitar 15 knot atau 28 kilometer per jam.
BMKG menyebut sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra masih berpotensi terdampak sebaran abu tersebut. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi sebagian Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Selat Sunda, serta Samudera Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Hingga pukul 07.00 WIB, BMKG mengidentifikasi pergerakan abu vulkanik menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau pada lapisan ketinggian dan arah sebaran yang berbeda.
Pada lapisan rendah, yakni dari permukaan hingga 15.000 kaki, abu bergerak ke arah tenggara hingga barat laut. Abu tersebut menutupi sebagian Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, serta wilayah perairan di sekitarnya.
“Pada ketinggian ini, sebaran abu berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah terdampak,” demikian dikutip dari unggahan Instagram resmi BMKG, Senin (7/9).
Abu Vulkanik Bisa Rusak Laptop
Di tengah sebaran abu tersebut, perangkat elektronik seperti laptop dapat mengalami gangguan apabila abu masuk ke bagian sensitif perangkat.
Mengutip laman U.S. Geological Survey (USGS), perangkat elektronik modern umumnya terlindungi dengan baik dari kontaminan udara. Oleh karena itu, paparan abu dalam jangka pendek kecil kemungkinannya menyebabkan kerusakan.
Namun, fungsi perangkat dapat berkurang apabila abu menembus area sensitif, termasuk keyboard.
USGS menjelaskan partikel abu dapat menyumbat kisi-kisi ventilasi dan mengganggu kipas pendingin. Kondisi ini dapat meningkatkan suhu operasional perangkat dan pada akhirnya memicu penghentian operasi akibat panas berlebih atau overheating.
Laptop dinilai lebih tahan terhadap kerusakan dibandingkan komputer desktop. Hal ini karena laptop memiliki lebih sedikit lubang ventilasi dan kebutuhan pendinginan yang lebih rendah.
Selain sistem pendingin, abu dapat memengaruhi fungsi dan pengoperasian sejumlah komponen komputer, seperti keyboard, mouse, drive CD, dan port USB. Kondisi tersebut dapat membuat perangkat membutuhkan pembersihan lebih sering.
USGS juga menyebut hard disk drive relatif kecil kemungkinannya mengalami kerusakan akibat abu karena memiliki sistem penyaringan yang kuat.
Risiko lain muncul ketika abu vulkanik dalam kondisi basah. USGS menyebut abu basah dapat menyebabkan korsleting pada kontak listrik yang terbuka.
Abu basah yang halus memang lebih sulit berpindah dibandingkan abu kering, sehingga kemungkinan masuk ke kompartemen elektronik lebih kecil. Namun, abu basah dapat menghantarkan listrik dan menimbulkan bahaya bagi peralatan elektronik yang berada di luar bangunan.
Peralatan tersebut antara lain layar sistem keamanan, kunci pintu kartu gesek, alarm, dan panel listrik.
Sementara itu, paparan abu dalam jangka panjang, yakni berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, dapat menyebabkan kerusakan yang lebih signifikan. Salah satunya berupa korosi akibat reaksi kimia pada permukaan abu vulkanik.
Komunikasi Juga Bisa Terganggu
USGS juga mencatat komunikasi radio dan telepon rentan mengalami gangguan selama hujan abu vulkanik dan dapat berhenti berfungsi sementara di wilayah yang terdampak.
Gangguan komunikasi dapat terjadi karena interferensi gelombang radio akibat kondisi atmosfer, kelebihan beban sistem telepon karena peningkatan permintaan, maupun kerusakan langsung pada fasilitas komunikasi.
Dampak tidak langsung juga dapat muncul akibat gangguan pasokan listrik atau ketika pekerja pemeliharaan tidak dapat melakukan perjalanan ke lokasi terpencil.
USGS menyebut sejumlah besar abu yang bermuatan listrik dapat terbentuk di dalam kolom erupsi. Abu bermuatan tersebut dapat menyebabkan gangguan pada gelombang radio dan membuat sistem radio serta telepon tidak berfungsi.
Namun, USGS menegaskan fenomena itu sangat jarang diamati. Terdapat banyak contoh komunikasi radio dan telepon yang tetap berfungsi di sekitar gunung berapi yang sedang meletus maupun wilayah yang mengalami hujan abu.
Selain itu, abu yang masuk ke sentral telepon dapat menyebabkan abrasi, korosi, atau kerusakan konduktivitas pada sistem listrik dan mekanik. Sistem pendingin udara pada sentral telepon juga rentan mengalami gangguan akibat hujan abu, yang kemudian dapat menyebabkan peralatan mengalami panas berlebih.
Cara Melindungi Laptop dari Abu Erupsi
USGS menyebut cara mitigasi paling efektif adalah menghindari paparan peralatan elektronik terhadap abu. Hal ini dapat dilakukan dengan menyegel peralatan atau bangunan tempat perangkat tersebut berada.
Peralatan elektronik yang berada di luar ruangan, jika memungkinkan, sebaiknya dipindahkan ke dalam ruangan sebelum hujan abu. Perlengkapan pelindung seperti terpal plastik dan lakban juga perlu disiapkan.
Saat abu masih berjatuhan, pembersihan sebaiknya dihindari. Namun, dalam kondisi tertentu, tindakan segera dapat diperlukan untuk mencegah hilangnya fungsi peralatan penting.
Jika memungkinkan, perangkat elektronik sebaiknya dimatikan sebelum dibersihkan untuk menghindari kemungkinan korsleting. Perangkat dapat dibersihkan secara hati-hati menggunakan udara bertekanan rendah atau sikat lembut.
USGS juga mengingatkan agar tidak menggosok permukaan secara berlebihan karena dapat menyebabkan goresan. Untuk ruangan, penyedot debu dapat digunakan guna menghindari kontaminasi ulang pada area yang telah dibersihkan.
Sementara itu, BMKG menyebut sebaran abu pada lapisan tinggi, yakni dari permukaan hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer, bergerak ke arah barat daya hingga barat. Sebaran ini mencakup Samudera Hindia di sebelah barat daya dan barat Bengkulu, Lampung, dan Banten serta menjauhi wilayah Indonesia.
“Pada ketinggian ini, sebaran abu terutama berdampak pada penerbangan karena berada pada jalur lintasan pesawat udara,” demikian keterangan BMKG.
