Dominasi Drakor Mulai Tergeser, Konten Indonesia Melesat di Aplikasi Streaming
Konten serial drama maupun film Indonesia mulai menyamai popularitas drama Korea Selatan alias drakor di aplikasi streaming video, seperti Netflix, VIU hingga Vidio.
Laporan terbaru dari Media Partners Asia (MPA) melalui platform pengukurannya, AMPD, menunjukkan langganan video on demand atau VOD premium di Asia Tenggara tumbuh 19% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi lebih dari 61 juta pelanggan berbayar di Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura.
Perubahan terbesar terjadi pada pola konsumsi konten. Untuk pertama kalinya, pada kuartal IV 2025, konten lokal Indonesia mencapai tingkat penonton yang setara dengan drama Korea Selatan atau drakor di layanan streaming premium.
Keduanya masing-masing mencatat pangsa sekitar 30% dari total penonton, dengan jangkauan mencapai 47% – 48% pengguna. Pencapaian ini menandai pergeseran struktural dalam preferensi penonton di Asia Tenggara, sekaligus menunjukkan meningkatnya daya tarik cerita lokal.
Sejumlah konten orisinal Indonesia bahkan masuk daftar tayangan paling banyak ditonton, terutama melalui platform Vidio. Tren ini memperlihatkan kekuatan komersial penceritaan domestik dalam mendorong pertumbuhan pelanggan dan keterlibatan pengguna.
Analis utama MPA Dhivya T menyebut fenomena ini sebagai perubahan besar dalam industri streaming di Asia Tenggara.
Menurut dia, meskipun drama Korea atau drakor masih menjadi daya tarik utama di Asia Tenggara, produksi lokal kini memainkan peran yang jauh lebih penting dalam menarik pelanggan baru dan meningkatkan loyalitas penonton. Indonesia menjadi contoh paling menonjol karena judul lokal mampu bersaing langsung dengan drakor puncak peringkat layanan streaming premium.
Indonesia menjadi pasar terbesar dan pendorong utama pertumbuhan streaming Asia Tenggara sepanjang 2025. Jumlah pelanggan layanan premium mencapai 26,9 juta, menyumbang sebagian besar pelanggan baru dan total jam menonton di kawasan.
Pertumbuhan ini didukung oleh berbagai platform global dan regional, termasuk Netflix, Viu, Vidio, dan iQIYI.
Secara regional, Netflix masih memimpin dalam jumlah pelanggan, pengguna aktif bulanan, dan total jam tontonan berkat kekuatan waralaba global serta konten Korea dan produksi lokal. Viu berada di posisi kedua dengan basis pelanggan besar yang ditopang drama Korea, drama Tiongkok, dan konten lokal pilihan.
Namun di Indonesia, Vidio tetap menjadi platform lokal terbesar dan bahkan menempati posisi kedua di Asia Tenggara dalam jumlah penonton dan pangsa pendapatan setelah Netflix. Keberhasilan ini didorong oleh investasi pada konten orisinal lokal dan siaran olahraga.
Persaingan Platform Makin Ketat
Di tengah pertumbuhan industri, pasar streaming Asia Tenggara semakin terkonsentrasi. Tiga hingga empat platform utama kini menguasai sekitar 70% langganan dan keterlibatan pengguna.
Sementara itu, konten dari Thailand menunjukkan daya tarik lintas-negara yang kuat, khususnya film dan serial horor yang berhasil menjangkau lebih dari 11 juta penonton di luar negeri. Drama Cina atau dracin juga tetap menjadi pendorong keterlibatan penting di platform freemium dan hybrid.
Namun, kenaikan popularitas konten lokal Indonesia menjadi sorotan utama karena menandai perubahan preferensi penonton regional dari dominasi konten impor menuju produksi domestik.
Kinerja konten Indonesia yang mampu menyamai drama Korea atau drakor menunjukkan kematangan industri kreatif nasional, mulai dari kualitas produksi hingga distribusi digital. Perubahan ini menandai era baru industri streaming Asia Tenggara, di mana konten lokal semakin berperan sebagai pendorong utama pertumbuhan pasar.
Jika tren ini berlanjut, Indonesia berpotensi menjadi pusat produksi konten digital terbesar di kawasan sekaligus pemain penting dalam industri hiburan global.
