Nasib Startup RI: Investasi Tertinggal Jauh dari Singapura, Tanpa Unicorn Baru

Rahayu Subekti
20 Februari 2026, 18:01
investasi startup,
Katadata
Diskusi KatadataForum dengan tema "Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital" di Jakarta, pada 2018
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Investasi ke startup Indonesia jauh di bawah Singapura. Padahal pada masa kejayaannya pada 2020, perusahaan rintisan Tanah Air menarik 70% modal yang diinvestasikan di Asia Tenggara dipimpin oleh pendanaan mega-deal termasuk Gojek, Bukalapak, dan Waresix, merujuk pada data Cento dan Momentum Works.

Kini, berdasarkan laporan DealStreetAsia bertajuk Southeast Asia Startup Funding Report Full Year 2025, startup Indonesia hanya memperoleh pendanaan dari US$ 340 juta atau Rp 5,72 triliun (kurs Rp 16.844 per dolar AS). Nilai ini setara 6,3% dari total investasi startup Asia Tenggara.

Dari sisi volume transaksi, Indonesia mencatat 66 deal atau sekitar 14,3% dari total transaksi regional. Namun porsi nilainya jauh lebih kecil dibandingkan Singapura yang menyerap mayoritas pendanaan.

Singapura membukukan 283 transaksi dengan nilai mencapai US$ 4,2 miliar atau Rp 70,74 triliun sepanjang tahun lalu. Porsinya setara 61,4% dari total volume deal dan 78,1% dari total nilai investasi startup Asia Tenggara.

Negara lain di Asia Tenggara juga mencatatkan kontribusi pendanaan yang relatif mirip dengan Indonesia. Rinciannya sebagai berikut:

Investasi ke startup Asia Tenggara selama 2025
Investasi ke startup Asia Tenggara selama 2025 (Kickstart Ventures)

Data tersebut menunjukkan kesenjangan pendanaan startup yang cukup lebar antara Indonesia dan Singapura sebagai pusat investasi regional.

Indonesia Absen Melahirkan Unicorn Baru

Tekanan terhadap ekosistem startup Indonesia juga terlihat dari stagnasi pembentukan unicorn. Jika pada periode 2018 - 2022 Indonesia menjadi salah satu penyumbang unicorn terbesar di kawasan, sejak 2024 tidak ada startup nasional yang mencapai valuasi di atas US$ 1 miliar.

Pada masa keemasan pendanaan digital, Indonesia melahirkan sejumlah unicorn seperti Gojek dan Tokopedia yang kemudian merger menjadi GoTo. Selain itu, ada Traveloka, Bukalapak, OVO, Xendit hingga J&T.

Indonesia bahkan sempat disebut sebagai ekosistem startup terbesar di Asia Tenggara dari sisi jumlah unicorn.

Namun tren itu berubah dalam dua tahun terakhir. Laporan DealStreetAsia menunjukkan tidak ada startup Indonesia yang masuk daftar unicorn baru sejak 2024. Sebaliknya, pembentukan unicorn di kawasan lebih banyak terjadi di negara lain, terutama Singapura.

Tren unicorn di Asia Tenggara per 2025
Tren unicorn di Asia Tenggara per 2025 (Kickstart Ventures)
Tren unicorn di Asia Tenggara per 2025
Tren unicorn di Asia Tenggara per 2025 (Kickstart Ventures)

Pada 2024 hanya Tyme Group yang menjadi unicorn, sedangkan pada 2025 tercatat Ultra Green, Sygnum, Thunes, dan Ashita.

Merujuk pada laporan eConomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, mayoritas investor menekankan investasi pada startup perangkat lunak dan layanan, AI, dan deep technology seperti Internet of Things alias IoT dan lainnya. Tercatat lebih dari US$ 2,3 miliar telah diinvestasikan pada startup terkait AI di Asia Tenggara tahun lalu.

Startup berbasis AI kini menyerap lebih dari 30% total nilai pendanaan swasta di regional, naik dari 30% pada paruh kedua 2024 menjadi 32% pada paruh pertama 2025. 

Sebagian besar dana ini masih mengalir ke perusahaan yang menggunakan AI sebagai fitur tambahan (AI as a feature), seperti untuk meningkatkan efisiensi layanan utama, sementara porsi untuk startup yang menjadikan AI sebagai produk inti (AI as a core product) masih lebih kecil.

Asia Tenggara kini menampung lebih dari 680 startup AI aktif yang berdiri sejak 2020 dengan rincian sebagai berikut:

  • Singapura menjadi pusat utama dengan lebih dari 495 perusahaan, 
  • Malaysia 60
  • Indonesia 45
  • Vietnam 40
  • Thailand 20
  • Filipina 10

Meski investasi AI di kawasan ini baru mewakili sekitar 2% dari total global, proporsinya sudah sebanding dengan kontribusi Asia Tenggara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia yang mencapai 4%. 

Investor memperkirakan pendanaan untuk startup berbasis AI akan terus meningkat. Saat ini, sekitar 50% investor sudah menempatkan sebagian besar investasi pada startup yang menjadikan AI sebagai produk utama. Angkanya diperkirakan naik menjadi 71% dalam setahun.

Selain itu, semua investor diprediksi akan berinvestasi pada startup yang memanfaatkan AI sebagai fitur pendukung.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...