Delapan Startup Indonesia Masuk Forbes Asia 100 to Watch: AI hingga Atasi Sampah

Rahayu Subekti
27 Agustus 2026, 13:37
Forbes 100 to Watch 2026, startup indonesia masuk forbes
Forbes
Forbes 100 to Watch 2026
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Delapan startup Indonesia masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2026, yang menyoroti perusahaan kecil dan rintisan dengan prospek pertumbuhan di kawasan Asia-Pasifik. Mereka di antaranya Cekat.AI, Durianpay, Grouu, Loluna, Satu Dental, Sirka, Soul Parking, dan Waste4Change.

Kedelapan startup itu bergerak di sektor yang beragam, mulai dari teknologi berbasis kecerdasan artifisial (AI), infrastruktur pembayaran, e-commerce, kesehatan, teknologi parkir hingga pengelolaan sampah.

Indonesia menempati posisi yang sama dengan Australia, yakni negara dengan jumlah wakil terbanyak kelima dalam daftar Forbes Asia tahun ini. Indonesia berada di bawah India dengan 19 perusahaan, Singapura 15, Cina 10, serta Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing memiliki sembilan perusahaan.

Forbes menyebut inovasi berbasis AI menjadi tema dominan dalam daftar 2026. Hampir seperempat perusahaan yang masuk merupakan perusahaan teknologi enterprise yang menawarkan layanan berbasis AI. Di sisi lain, teknologi hijau juga menjadi salah satu sektor yang mendapat sorotan, dengan 10 perusahaan dalam daftar bergerak di bidang solusi lingkungan.

Berikut profil delapan startup Indonesia yang masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026:

  • Cekat.AI: otomatisasi customer service dan penjualan dengan AI

Cekat.AI masuk kategori Enterprise Technology. Startup yang didirikan pada 2022 ini dipimpin CEO dan co-founder Bryan Wilianto.

Cekat.AI mengembangkan platform AI agent untuk customer service dan sales. Berdasarkan laman resmi, platform ini menggabungkan AI agent, omnichannel customer relationship management (CRM), sistem pemesanan otomatis dan marketing automation dalam satu platform.

AI agent Cekat.AI dapat digunakan untuk menangani percakapan pelanggan, mengelola leads, melakukan follow-up serta membantu proses penjualan secara otomatis. Platform ini juga memungkinkan bisnis mengelola percakapan dari berbagai kanal, termasuk WhatsApp dan Instagram.

Perusahaan menyebut produknya ditujukan mulai dari UMKM hingga perusahaan yang membutuhkan CRM omnichannel. Cekat.AI juga tercatat sebagai Meta Business Partner resmi.

Forbes memasukkan Cekat.AI ke dalam daftar karena perusahaan tersebut berada di sektor teknologi enterprise yang menjadi salah satu tema utama daftar 2026.

  • Durianpay: infrastruktur pembayaran untuk bisnis

Berbeda dengan Cekat.AI, Durianpay masuk kategori Finance. Startup yang berdiri pada 2020 ini mengembangkan infrastruktur pembayaran B2B untuk perusahaan di Indonesia dan Asia Tenggara.

Dikutip dari laman resmi, startup ini menyediakan platform full-stack yang mencakup payment acceptance, payout, rekonsiliasi dan pelaporan. Durianpay juga berizin sebagai penyelenggara jasa pembayaran Bank Indonesia.

Untuk penerimaan pembayaran, Durianpay menghubungkan bisnis dengan lebih dari 20 metode pembayaran lokal, termasuk virtual account, e-wallet, kartu dan QRIS melalui satu integrasi.

Perusahaan juga menyediakan layanan payout yang memungkinkan bisnis mengirim dana ke lebih dari 130 bank dan e-wallet di Indonesia.

Forbes mencatat Durianpay telah memproses lebih dari US$ 5,5 miliar transaksi pada 2025 dan untuk pertama kalinya membukukan laba pada tahun tersebut. Forbes juga menyebut perusahaan berencana memperluas layanan ke luar Indonesia.

  • Grouu: makanan bayi dan anak

Grouu masuk kategori E-commerce & Retail. Startup yang didirikan pada 2020 dan dipimpin CEO Jessica Marthin ini awalnya bergerak sebagai penyedia katering makanan bernutrisi yang dibuat untuk bayi.

Seiring perkembangan bisnis, Grouu memperluas produknya ke makanan siap santap dan camilan untuk anak yang lebih besar serta bahan-bahan untuk memasak.

Dikutip dari laman resmi perusahaan, Grouu masuk kategori bisnis yang mencakup catering MPASI, catering anak, ready-to-eat, cooking, utensils, bundling serta merchandise.

Forbes mencatat Grouu telah memiliki lebih dari 3.000 titik ritel di supermarket seperti Lottemart dan kanal online seperti Shopee. Startup ini juga memiliki jaringan lebih dari 190 mompreneurs di 50 kota yang berfungsi sebagai titik pengambilan produk di lingkungan sekitar.

Grouu telah menghimpun pendanaan lebih dari US$ 1 juta dari investor, antara lain Teja Ventures dan Selera Kapital

  • Loluna: produk perawatan kulit bayi

Loluna juga masuk kategori E-commerce & Retail. Startup yang didirikan pada 2022 ini dipimpin CEO Bianca Belnadia Lie.

Forbes menyebut Loluna sebagai merek perawatan kulit bayi asal Indonesia. Produk utamanya mencakup bodywash, krim dan sunscreen yang ditujukan sebagai alternatif dengan harga terjangkau di pasar yang didominasi merek global.

Dikutip dari laman remsi, Loluna membagi kategori produknya menjadi skincare, fragrance dan relief. Perusahaan mengusung nilai merek “Safe Premium Affordable”.

Salah satu produknya adalah Face & Body Baby Lotion, yang menurut laman resmi Loluna diformulasikan dengan lima jenis ceramide dan squalane untuk membantu melembapkan serta memperkuat skin barrier bayi dan anak.

Dengan demikian, bisnis Loluna bukan perusahaan teknologi dalam arti pengembang perangkat lunak, melainkan consumer brand yang tumbuh melalui kanal digital dan e-commerce.

  • Satu Dental: jaringan layanan kesehatan gigi

Satu Dental masuk kategori Biotechnology & Healthcare. Startup yang didirikan pada 2021 ini dipimpin CEO Satria Situmorang.

Satu Dental mengembangkan jaringan klinik kesehatan gigi dengan layanan mulai dari perawatan dasar hingga estetika dan ortodonti.

Dikutip dari laman resmi, Satu Dental menyediakan berbagai jenis perawatan gigi dan gusi, termasuk scaling, tambal gigi, pencabutan, crown, veneer, behel, clear aligner, perawatan saluran akar, bedah serta perawatan gigi anak.

Hingga Juni 2026, Forbes mencatat Satu Dental memiliki 56 klinik di Jabodetabek dan dua kota lain di Jawa serta bekerja sama dengan jaringan sekitar 500 dokter gigi dan dokter umum. Perusahaan menargetkan lebih dari 60 klinik pada akhir 2026.

Data terbaru di laman lokasi Satu Dental menunjukkan jaringan perusahaan telah berkembang menjadi 57 lebih lokasi yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Semarang dan Surabaya.

  • Sirka: layanan kesehatan berbasis manajemen berat badan dan penyakit metabolik

Sirka masuk kategori Biotechnology & Healthcare dan didirikan pada 2021. CEO perusahaan adalah Rifanditto Adhikara.

Forbes menjelaskan Sirka pada awalnya diluncurkan sebagai aplikasi wellness yang memberikan pendampingan pola makan dan konsultasi profesional. Bisnisnya kemudian berkembang melalui kemitraan dengan klinik kesehatan sebelum Sirka membuka klinik wellness sendiri pada 2024.

Dikutip dari laman resmi, startup ini berfokus pada obesitas dan kesehatan metabolik, termasuk layanan pengelolaan berat badan, diabetes, kolesterol dan PCOS. Perusahaan juga menyediakan layanan kesehatan pria dan konsultasi yang dilakukan secara terpandu oleh tenaga medis.

Model Sirka menggabungkan konsultasi dengan rencana kesehatan yang dipersonalisasi. Dalam alur layanan yang ditampilkan di laman resminya, pengguna menyampaikan keluhan dan tujuan kesehatan, kemudian mendapatkan rekomendasi personal dari tim Sirka.

  • Soul Parking: teknologi manajemen parkir

Soul Parking masuk kategori Consumer Technology. Startup ini didirikan pada 2020 dan dipimpin CEO Kenneth Darmansjah.

Soul Parking mengembangkan teknologi manajemen parkir untuk membantu mengoptimalkan pemanfaatan ruang parkir dan mengurangi ketergantungan terhadap intervensi manusia.

Dikutip dari laman resmi perusahaan, solusi Soul Parking digunakan untuk berbagai jenis properti, termasuk rumah sakit, apartemen, perkantoran, pusat perbelanjaan, area wisata, perumahan dan pasar modern.

Perusahaan juga memiliki aplikasi yang terintegrasi dengan sistem parkir. Pengguna dapat melakukan check-in melalui QR code, melakukan early check-out, membayar menggunakan e-wallet dan mengakses keanggotaan premium.

Forbes mencatat Soul Parking telah mengelola 150 lokasi di Indonesia dalam profilnya untuk daftar 2026.

  • Waste4Change: pengelolaan dan daur ulang sampah

Waste4Change menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam kategori Energy & Green Tech. Startup ini didirikan pada 2014 dan dipimpin CEO Mohamad Bijaksana Junerosano.

Waste4Change menyediakan berbagai layanan pengelolaan sampah dengan tujuan mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Dikutip dari laman resmi, perusahaan mencantumkan layanan Reduce Waste to Landfill, Waste Collection Services, Residential Waste Collection, Community-Based Implementation, Personal Waste Management dan Send Your Waste.

Perusahaan juga menyediakan layanan lain seperti material and document destruction, event waste management, in-store recycling, digital extended producer responsibility (EPR), responsible packaging recovery, program 3R untuk sekolah serta layanan engineering, procurement and construction (EPC) untuk black soldier fly. (W4C)

Forbes mencatat Waste4Change telah mengelola lebih dari 90.000 ton sampah sejak didirikan, termasuk sekitar 38.000 ton sepanjang 2025 melalui program seperti daur ulang material dan pengomposan sampah organik.

Secara keseluruhan, 100 perusahaan yang masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026 telah menghimpun US$ 2,4 miliar pendanaan, termasuk hampir US$ 1 miliar yang diperoleh sepanjang 2026. Forbes menilai perusahaan berdasarkan antara lain dampak terhadap industri dan kawasan, market fit, model bisnis, inovasi, pertumbuhan pendapatan yang konsisten serta kemampuan menarik pendanaan. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...