Investasi Robotika ASEAN Melonjak 13 Kali Lipat, Singapura Jadi Motor Utama

Desy Setyowati
11 September 2026, 13:31
robot, amerika serikat, singapura,
ANTARA FOTO/Moch Asim/sg
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy (kanan) mendengarkan penjelasan dari Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Pramujati (tengah) tentang inovasi robot RISSA saat peluncuran awal Sains Techno Park (STP) ITS di Surabaya, Jawa Timur, Senin (13/4/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Investasi pada sektor robotika di Asia Tenggara melonjak hampir 13 kali lipat tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini terutama didorong oleh pendanaan besar yang mengalir ke perusahaan robotika di Singapura.

Berdasarkan laporan Robotics – SEA Report yang dirilis Tracxn Technologies Limited pada September 2026, sektor robotika Asia Tenggara telah menghimpun pendanaan ekuitas US$ 1,1 miliar atau Rp 19,4 triliun (kurs Rp 17.608 per US$) sepanjang sejarah.

Pendanaan sejak awal tahun hingga saat ini alias year-to-date (ytd) mencapai US$ 696 juta atau Rp 12,3 triliun, meningkat signifikan dibandingkan US$ 52 juta atau Rp 915,6 miliar pada 2025. Dengan demikian, pendanaan sektor robotika Asia Tenggara pada 2026 telah meningkat sekitar 13,4 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Tracxn mencatat pendanaan sektor robotika Asia Tenggara sebelumnya mencapai US$ 10,2 juta (Rp 180 miliar) pada 2021, kemudian naik menjadi US$ 94 juta (Rp 1,7 triliun) pada 2022. Nilainya turun menjadi US$ 19,9 juta (Rp 350,4 miliar) pada 2023 dan US$ 36,6 juta (Rp 644,5 miliar) pada 2024, sebelum kembali meningkat menjadi US$ 52 juta (Rp 915,6  miliar) pada 2025.

Singapura menjadi pusat utama pendanaan sektor robotika di Asia Tenggara. Negara ini menyumbang 91,7% dari total pendanaan robotika di kawasan, dengan nilai mencapai US$ 986 juta (Rp 17,4 triliun) yang dihimpun melalui 58 putaran pendanaan.

Dari 242 perusahaan robotika yang dilacak Tracxn di Asia Tenggara, sebanyak 108 perusahaan berada di Singapura, termasuk 37 perusahaan yang telah memperoleh pendanaan.

Perusahaan robotika dengan pendanaan terbesar di Singapura antara lain Sharpa, Fourier Intelligence, dan Neptune Robotics.

Sharpa menjadi perusahaan dengan pendanaan terbesar setelah memperoleh US$ 670 juta atau Rp 11,8 triliun dalam putaran Series D pada Agustus 2026. Sementara itu, Fourier Intelligence telah menghimpun US$ 83 juta atau Rp 1,5 triliun dan Neptune Robotics US$ 69,5 juta atau Rp 1,2 triliun.

Tracxn mencatat, pendanaan Sharpa senilai US$ 670 juta atau Rp 11,8 triliun bahkan lebih besar dibandingkan total pendanaan sektor robotika Asia Tenggara pada setiap tahun sebelumnya.

Di luar Singapura, aktivitas pendanaan robotika di Asia Tenggara jauh lebih kecil. Malaysia mencatat pendanaan antara lain melalui perusahaan di Seri Kembangan sebesar US$ 5 juta atau Rp 88 miliar dan Johor Bahru sebesar US$ 3,7 juta atau Rp 65 miliar).

Sementara di Vietnam, perusahaan di Chukai dan Tan Binh masing-masing mencatat pendanaan sebesar US$ 281 ribu atau Rp 4,9 miliar dan US$ 120 ribu atau Rp 2,1 miliar.

Belum Ada Unicorn Bidang Robot di ASEAN

Besarnya pendanaan yang masuk belum menghasilkan perusahaan robotika dengan status unicorn di Asia Tenggara. Tracxn mencatat belum ada perusahaan robotika di kawasan tersebut yang mencapai status unicorn.

Aktivitas keluar (exit) juga masih terbatas. Hingga saat ini, sektor robotika Asia Tenggara baru mencatat satu akuisisi dan belum mencatat IPO.

Satu-satunya akuisisi yang tercatat adalah Zimplistic, perusahaan di balik Rotimatic, yang sebelumnya telah menghimpun US$ 48,5 juta atau Rp 854 miliar. Perusahaan tersebut diakuisisi Light Ray Holdings pada Oktober 2020 dengan nilai transaksi yang tidak diungkapkan.

Tracxn menyebut terbatasnya aktivitas exit sejalan dengan kondisi mayoritas perusahaan robotika yang masih berada pada tahap awal pendanaan dan belum mencapai banyak putaran pendanaan tahap lanjut.

Meski nilai investasi melonjak, ekosistem robotika Asia Tenggara masih berada pada tahap awal. Dari 242 perusahaan yang dilacak Tracxn, hanya 51 perusahaan atau 21% yang telah memperoleh pendanaan institusional.

Sebanyak 22 perusahaan telah mencapai Series A atau lebih tinggi, sembilan perusahaan mencapai Series B atau lebih tinggi, dan hanya lima perusahaan yang mencapai Series C atau lebih tinggi.

Sementara itu, hanya tiga perusahaan yang telah mencapai Series D atau lebih tinggi.

Tracxn mencatat perusahaan di sektor ini rata-rata membutuhkan 4,1 tahun sejak memperoleh pendanaan pertama untuk mencapai Series A atau lebih tinggi, serta rata-rata 5,5 tahun untuk mencapai Series B atau lebih tinggi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...