Kemenristek Buat Robot Raisa untuk Tangani Pasien Positif Corona

Cindy Mutia Annur
5 Mei 2020, 09:45
Kemenristek Kembangkan Robot Raisa untuk Tangani Pasien Positif Corona
ANTARA FOTO/REUTERS/Flavio Lo Scalzo/hp/dj
Ilustrasi, robot membantu tim medis merawat pasien yang terinfeksi virus corona (Covid-19), di Rumah Sakit Circolo, di Varese, Italia, Rabu (1/4/2020).

Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) bakal mengembangkan sejumlah teknologi untuk mengatasi pandemi corona. Salah satunya, robot Raisa untuk membantu para tenaga medis menangani pasien terinfeksi virus corona.

"Robot RAISA akan melayani pasien dengan mengantarkan obat dan lainnya," ujar Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro dikutip dari siaran pers, kemarin (4/5).

Saat ini, tim riset dan inovasi Universitas Airlangga (UNAIR) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tengah mendesain robot Raisa. Mereka pun sudah membuat prototipe robot Raisa.

Dalam waktu dekat, pemerintah juga akan meluncurkan 10 ribu alat uji Covid-19 secara massal (rapid test kit). "Ditargetkan pekan depan rapid test kit itu selesai diproduksi,” ujar Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN) tersebut.

(Baca: ITS Kembangkan Robot Ventilator Seharga Rp 20 Juta untuk Hadapi Corona)

Rapid test kit sudah memasuki tahap produksi massal yang dikerjakan oleh konsorsium riset BPPT dengan UNAIR dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Alat uji ini diklaim dapat mendeteksi virus menggunakan antibodi IgG dan IgM yang ada di dalam darah.

Selain itu, pengembangan obat dan vaksin untuk virus corona terus dilakukan oleh Biofarma, Litbangkes, dan Lembaga Eijkman. Saat ini, pengembangan sudah memasuki tahapan uji klinis.

Tim konsorsium juga melakukan penelitian terkait pemanfaatan plasma darah orang yang sembuh dari Covid-19, sebagai terapi bagi pasien dengan kondisi berat. "Kami harap upaya ini dapat meningkatkan angka kesembuhan pasien corona di Indonesia," ujar dia.

(Baca: BPPT Sebut Robot AI Belum Siap Gantikan Pejabat Eselon III dan IV)

Tak hanya itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Univeristas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), serta mitra swasta PT Dharma mengembangkan ventilator. Pengembangan ini sudah masuk tahap uji ketahanan oleh Badan Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan. 

“Setelah uji ketahanan akan diuji secara klinis sebelum bisa diproduksi massal oleh mitra industri. Diharapkan dapat selesai pertengahan Mei,” ujar Bambang.

Bambang juga menyebutkan, ada empat program/kelompok inovasi teknologi dari Tim Konsorsium Riset dan Inovasi untuk penanggulangan corona, yaitu pencegahan, skrining dan diagnostik, alat kesehatan dan pendukungnya, dan terapi.

(Baca: Kemenristek Target Pelayanan Publik di RI Pakai Teknologi AI pada Juli)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Cindy Mutia Annur

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...