Indosat Ungkap Cara Integrasikan AI ke Bisnis Telekomunikasi
Director and Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Buldansyah membeberkan strategi dalam memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk memperkuat bisnis dan meningkatkan efisiensi di berbagai lini operasional.
Indosat kini memiliki tiga visi besar dalam transformasi digitalnya. Pertama, menjadi AI Native Telco, perusahaan telekomunikasi yang menjadikan AI sebagai bagian dari setiap proses kerja.
“Apapun yang dikerjakan semua karyawan, dari manajemen sampai level staf paling bawah, menggunakan AI sebagai bagian dari pekerjaan. Oleh karena itu, kami disebut AI native telco,” ujar dia dalam Energy Insights Forum: Harnessing Artificial Intelligence to Unlock Mining’s Next Frontier di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (14/10).
Visi kedua menjadi AI Telco, yakni tidak hanya menggunakan AI secara internal, tetapi juga menyediakan layanan berbasis kecerdasan buatan bagi industri lain, termasuk sektor pertambangan.
“Kami menyediakan solusi AI dan berkolaborasi dengan pemain global seperti McKinsey untuk membantu berbagai industri menerapkan teknologi ini,” kata Buldansyah.
Visi ketiga, menjadi AI Nation Shaper, yaitu berperan aktif membentuk ekosistem dan talenta AI di Indonesia. “Kami ingin berkontribusi bukan hanya untuk Indosat, tetapi juga Indonesia,” ujarnya.
Buldansyah menuturkan, penerapan konsep AI Native Telco telah memberikan banyak manfaat nyata bagi perusahaan. Salah satunya melalui program Know Your Customer (KYC) berbasis AI.
Dengan lebih dari 100 juta pelanggan, Indosat kini menerapkan hyper personalization, memecah segmen pelanggan menjadi jutaan kategori. Dengan begitu, setiap penawaran bisa disesuaikan secara lebih spesifik dan cepat.
“Kalau dulu kami hanya punya maksimal 100 segmen pelanggan, sekarang dengan AI kami bisa punya jutaan segmen. Penawaran yang tadinya butuh waktu berminggu-minggu, kini bisa kami dihasilkan dalam hitungan hari, bahkan hampir real time,” kata dia.
Selain meningkatkan personalisasi layanan, AI membantu Indosat mengoptimalkan pembangunan infrastruktur. Teknologi ini digunakan untuk menentukan lokasi menara BTS alias base transceiver station secara lebih presisi agar investasi tidak sia-sia.
“Dengan AI, kami bisa tahu di mana lokasi terbaik menempatkan BTS, sehingga bisa menghemat biaya operasional secara signifikan,” kata Buldansyah.
Sebagai bagian dari komitmen menjadi AI Nation Shaper, Indosat aktif mengembangkan pusat riset dan pelatihan AI di berbagai daerah, termasuk di Papua dan Jakarta. Perusahaan bekerja sama dengan pemerintah dan universitas untuk mencetak satu juta talenta AI bersertifikasi di Indonesia.
“Penting bagi kami memastikan Indonesia punya cukup SDM yang memahami dan bisa mengembangkan AI. Sebab, pada akhirnya, teknologi ini tidak bisa berdiri sendiri. Yang membuatnya berhasil yakni manusia di baliknya,” ujar Buldansyah.
Ia menambahkan, Indosat mulai menawarkan layanan AI bagi sektor industri, termasuk pertambangan. Namun, ia menegaskan bahwa AI bukan produk plug and play. “AI itu bukan sesuatu yang langsung dipasang dan berfungsi. Diperlukan proses adaptasi dan pemahaman yang kuat terhadap kebutuhan bisnis,” katanya.
