Hashim Djojohadikusumo Usul Internet Rakyat Sepaket dengan Program 3 Juta Rumah
Surge Board of Stakeholders Hashim Djojohadikusumo mengusulkan agar Internet Rakyat , layanan yang disediakan oleh Telemedia anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE), bisa terhubung dengan program tiga juga rumah.
“Kalau bisa, ini semua (program tiga juta rumah) tersambung dengan internet murah, dan unit-unit apartemen yang dibangun nanti semua dengan unit dan infrastruktur karena internet murah adalah infrastruktur,” kata adik Presiden Prabowo Subianto itu dalam acara Grand Launching Internet Rakyat (IRA) di Jakarta, Selasa (26/5).
Internet murah yang dimaksud Merujuk pada Internet Rakyat, layanan internet fixed broadband berkecepatan tinggi hingga 100 Mbps. Internet Rakyat ini dibanderol dengan harga terjangkau Rp 100 ribu untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, ekonomi digital, layanan publik, hiburan, serta berbagai peluang baru di era digital.
Menurut Hashim, kombinasi antara internet murah, pembangunan perumahan, dan hilirisasi industri dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi. Terlebih lagi, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,9% hingga 7,5% pada tahun 2027.
“Saya yakin kita bisa mencapai hampir 7% pertumbuhan dengan internet murah, apalagi nanti perumahan, hilirisasi, dan sebagainya,” ujar Hashim.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah menilai layanan internet murah sangat relevan untuk mendukung proyek pembangunan dan merefleksikan rumah nasional.
“Nanti dengan unit-unit rumah yang diproduksi, baik produksi rumah baru yang ditargetkan sekitar satu juta per tahun, dan mempertimbangkan sekitar dua juta per tahun, di dalamnya kalau ada internet murah, saya sudah hitung-hitung,” ujar Fahri.
Menurut Fahri, konektivitas internet kini sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat, sehingga di masa depan memiliki peluang untuk mengakses proyek perumahan rakyat.
Ia menilai tarif Internet Rakyat yang ditawarkan SURGE, diterbitkan dengan kode WIFI, jauh lebih kompetitif dibandingkan rata-rata biaya internet rumah tangga saat ini.
"Bayangkan, rata-rata pembayaran internet nasional Rp 300 ribu per bulan. Dengan ini menjadi Rp 100 ribu. Artinya, dia sangat kompetitif. Oleh karena itu, wajar untuk diajak untuk kerja sama karena harganya paling murah," ujarnya.
Meski belum ada kerja sama resmi antara program tiga juta rumah dan layanan internet rakyat, Fahri menyebut mekanisme pasar akan membuka peluang kolaborasi tersebut.
Fahri juga menyoroti besarnya dampak internet murah terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional. Ia bahkan menyebut biaya penyediaan internet gratis secara nasional sebenarnya tidak terlalu besar dibandingkan manfaat ekonominya.
“Kalau setiap desa dan kelurahan aja di Indonesia dikasih internet gratis, hanya Rp 8 miliar per bulan,” kata Fahri.
Ia menambahkan, internet gratis untuk seluruh sekolah dari tingkat SD hingga SMA di Indonesia diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp 826 miliar per bulan.
“Inisiatif ini (Internet Rakyat) sejalan dengan visi perusahaan untuk mendukung transformasi digital nasional sekaligus menyamakan akses internet fixed broadband di berbagai wilayah Indonesia,” ujarnya.
Direktur Utama PT Telemedia Komunikasi Pratama Shannedy Ong menambahkan, Internet Rakyat didukung oleh lebih dari 550 situs aktif per 26 Mei 2026 dan 3.189 unit radio yang telah terinstal dan beroperasi di lebih dari 82 kota dan kabupaten di Jawa, Maluku, dan Papua.
Infrastruktur itu dinilai menjadi landasan penting dalam perluasan akses internet fixed broadband berkecepatan tinggi ke berbagai wilayah yang sebelumnya keterbatasan menghadapi pilihan layanan broadband yang terjangkau.
Pencapaian tersebut merupakan hasil kolaborasi erat antara WIFI dan Telemedia bersama berbagai mitra strategis perusahaan. Ini termasuk vendor teknologi, mitra implementasi lokal, kontraktor jaringan, lembaga pembiayaan, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki visi yang sama untuk memperluas akses digital di Indonesia.
