Gelombang AI Ubah Industri Drama Cina, Aktor hingga Editor Kehilangan Pekerjaan
Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah wajah industri hiburan Cina. Teknologi yang semula hanya digunakan sebagai alat bantu kini mulai mengambil alih berbagai tahapan produksi, mulai dari penulisan naskah, pembuatan adegan, penyuntingan, hingga menghasilkan drama tanpa aktor dan kamera.
Perubahan tersebut mulai terasa di seluruh rantai industri, dari aktor, figuran, editor, kru pencahayaan, hingga kru produksi. Di sisi lain, perusahaan hiburan menilai AI mampu memangkas biaya dan mempercepat produksi, meski banyak pelaku industri meyakini kreativitas manusia tetap tidak tergantikan.
Salah satu kisah yang menggambarkan perubahan itu datang dari Xu Peng, aktor berusia 30 tahun yang dikenal lewat perannya sebagai CEO di berbagai microdrama. Setelah tawaran akting menurun drastis, ia meninggalkan Hengdian, pusat produksi film dan drama Cina (dracin), dan pulang ke kampung halamannya di Shandong untuk membantu sang kakek berjualan sayur.
Lulusan Central Academy of Drama itu sebelumnya menikmati masa ketika industri microdrama berkembang pesat. Pada puncak kariernya, ia menjalani syuting hingga 15-16 jam sehari dengan jadwal yang hampir selalu penuh.
Namun, situasi berubah cepat ketika rumah produksi mulai beralih memanfaatkan AI.
Menurut laporan China Netcasting Services Association yang dikutip Channel News Asia (CNA), sekitar 128 ribu microdrama dirilis di China pada kuartal pertama 2026. Lebih dari 95% atau sekitar 122 ribu judul dibuat sepenuhnya menggunakan AI tanpa kamera maupun aktor manusia. Setahun sebelumnya, jumlahnya nyaris nol.
Xu Peng mengatakan dirinya tidak menyesali perubahan profesi tersebut.
"Menjadi aktor hanyalah sebuah profesi. Jika tidak ada pekerjaan akting, saya akan mencari cara lain untuk mencari nafkah. Selama saya memperoleh penghasilan secara jujur dari kerja keras saya sendiri, tidak ada rintangan yang tidak bisa saya lewati," ujarnya dikutip dari CNA.
Ia menambahkan dirinya belum benar-benar meninggalkan dunia hiburan. Xu Peng berencana membuka pelatihan akting dan tetap membuat microdrama live-action.
AI Pangkas Biaya Produksi
Dukungan terhadap AI datang dari para pelaku industri yang melihat teknologi tersebut mampu memangkas biaya produksi secara signifikan.
Junjun, produser di sebuah perusahaan microdrama berbasis di Beijing yang kini hanya memproduksi drama AI, mengatakan satu tim beranggotakan lima hingga sepuluh orang kini mampu menyelesaikan satu serial dalam waktu dua minggu hingga satu bulan.
Menurut dia, biaya produksi satu serial microdrama AI sekitar 100 ribu yuan sejak tahap persetujuan naskah hingga tayang. Sebagai perbandingan, produksi microdrama live-action bertema kostum membutuhkan sedikitnya 300 ribu hingga 500 ribu yuan dan waktu produksi dua hingga tiga bulan.
AI juga mengubah kebutuhan tenaga kerja.
Junjun mengatakan tim editor yang sebelumnya membutuhkan lima hingga enam orang kini cukup diisi satu orang karena sistem AI sudah menghasilkan video yang sebagian proses penyuntingannya selesai secara otomatis.
Sebagian editor pun beralih menjadi generation artists, yakni operator yang menghasilkan banyak adegan AI, kemudian memilih hasil terbaik.
"Benar-benar ada lebih sedikit peran yang bisa dimainkan aktor sekarang," katanya.
Aktor Mulai Kehilangan Pekerjaan
Dampak serupa dirasakan aktor Bi Zhiqiang yang bekerja di Hengdian sejak 2021.
Ia mengatakan dua tahun lalu hampir tidak pernah kekurangan pekerjaan. Dalam sehari bahkan beberapa rumah produksi menawarkan peran secara bersamaan.
Namun sejak libur Tahun Baru Imlek tahun ini, tawaran tersebut menurun drastis.
"Sekarang kru produksi hanya menghubungi saya sekali atau dua kali dalam sebulan," katanya dikutip dari CNA.
Bi tidak mengungkapkan besaran pendapatannya, tetapi mengakui penurunan permintaan itu terjadi bersamaan dengan lonjakan produksi microdrama berbasis AI.
Menurut CNA, perubahan tersebut diperkirakan telah memengaruhi hampir dua juta pekerjaan di industri microdrama Cina.
Gelombang AI di Industri Drama Cina
Perusahaan hiburan besar justru melihat AI sebagai masa depan industri.
CEO iQIYI Gong Yu memperkirakan film layar lebar yang sepenuhnya dibuat menggunakan AI dapat hadir pada musim panas tahun ini. Dalam lima tahun mendatang, ia memperkirakan lebih dari separuh karya film dan televisi unggulan akan diproduksi menggunakan AI.
Ketua Tencent Video Chen Yingjie juga mengumumkan perusahaan telah menyelesaikan drama panjang berkualitas tinggi yang dihasilkan AI.
Menurutnya, AI akan mengubah rantai pasok produksi konten karena tim kreatif kecil kini mampu menghasilkan karya yang sebelumnya membutuhkan kru besar.
Di ajang Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026, tren tersebut juga semakin terlihat. Festival itu meluncurkan program AI Backlot yang mempertemukan sineas konvensional dengan kreator AI untuk menghasilkan film pendek berbasis AI hanya dalam waktu satu bulan.
Sutradara Wang Ze, lulusan Shanghai Vancouver Film School, menjadi salah satu peserta program tersebut.
Dengan bantuan AI, ia mampu membuat film animasi berdurasi tujuh menit hanya dalam sekitar 10 hari.
"Dulu membuat sebuah karya membutuhkan biaya dan banyak tenaga kerja. Sekarang saya bisa memanfaatkan AI dan membuat film yang saya inginkan sendiri," katanya.
Meski demikian, Wang menilai AI tidak membuat pekerjaan sutradara menjadi lebih mudah. Justru pembuat film kini dituntut memahami sinematografi, storyboard, pencahayaan hingga tata artistik agar mampu mengarahkan AI menghasilkan gambar sesuai keinginan.
Pandangan serupa disampaikan sutradara asal Berlin, Mark Wachholz, yang mengikuti AI Backlot bersama sutradara Cina Hou Zuxin.
Menurut Wachholz, AI menurunkan hambatan masuk ke industri film karena orang yang tidak memiliki kemampuan menggambar sekalipun kini dapat menciptakan visual dari ide yang dimiliki.
Sementara Hou menilai AI hanyalah alat produksi baru.
Ia mengatakan AI dapat membantu menghasilkan gambar yang sulit diwujudkan karena keterbatasan anggaran, misalnya membuat gambar pantai tanpa harus mengirim kru ke lokasi.
"Yang paling penting adalah mengetahui apa yang ingin Anda buat," ujarnya.
Veteran sutradara Huang Jianxin juga mengingatkan agar industri tidak berlebihan menyikapi AI.
"Semakin kuat alatnya, semakin penting penilaian manusia. Jangan mendewakannya, jangan menganggapnya sebagai musuh, dan jangan takut," katanya saat SIFF.
Meski berkembang pesat, sejumlah pelaku industri menilai AI masih memiliki banyak keterbatasan.
Sun Bin, Wakil Dekan School of Drama, Film and Television di Communication University of China, mengatakan AI memang telah mengubah model produksi industri film secara permanen.
Menurut dia, pekerjaan yang paling cepat terdampak adalah figuran, kru pencahayaan dasar, kru set berbiaya rendah, dan operator penyuntingan.
Sebaliknya, profesi yang membutuhkan kreativitas dan penilaian artistik seperti sutradara maupun penulis naskah justru akan semakin bernilai.
"AI tidak memiliki kehidupan, tidak memiliki rasa senang, marah ataupun sedih. Semua emosinya hanyalah tiruan data," kata Sun.
Aktor Bi Zhiqiang juga meyakini AI tidak akan sepenuhnya menggantikan aktor.
"AI mungkin tahu apa itu jatuh cinta, tetapi AI tidak pernah benar-benar jatuh cinta," ujarnya.
Direktur studio konten AI Han Lichen juga menilai sebagian besar microdrama AI saat ini masih sebatas produksi massal.
"AI hanya membantu menghasilkan visual yang menarik. Intinya tetap ada pada manusia," katanya.
Senada, Senior Vice President sekaligus Chief AI Scientist iQIYI Xie Danming mengatakan AI saat ini masih kesulitan menjaga konsistensi adegan panjang, misalnya perubahan cuaca, pencahayaan, atau gerakan ombak ketika beberapa adegan digabungkan menjadi satu rangkaian cerita.
Menurutnya, untuk drama live-action berskala besar, tim manusia, proses syuting, dan kamera masih menjadi inti produksi. AI saat ini lebih banyak berperan sebagai alat bantu visual.
Sun Bin juga memperkirakan ledakan microdrama Cina berbasis AI saat ini merupakan fase transisi. Menurutnya, regulasi yang semakin ketat dan meningkatnya selera penonton akan menyaring konten AI berkualitas rendah.
"Teknologi mungkin mengubah cara film diproduksi. Tetapi inti seni film akan selalu tentang manusia, cerita, emosi, dan nilai," ujarnya.
