Orang Kaya Baru AI Hamburkan Uang untuk Beli Batu Meteorit hingga Tim Olahraga

Desy Setyowati
10 Juli 2026, 09:54
Ilustrasi miliuner baru di bidang AI
ChatGPT, Katadata/Desy Setyowati
Ilustrasi miliuner baru di bidang AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ledakan industri kecerdasan buatan (AI) dan teknologi melahirkan kelompok orang kaya baru di Amerika Serikat. Namun, cara mereka membelanjakan kekayaan berbeda dibandingkan kelompok kaya lama.

Alih-alih menghabiskan uang untuk pakaian dan tas mewah, para miliuner baru dari industri teknologi memilih untuk membeli batu luar angkasa atau meteorit, mobil pemadam kebakaran, tim olahraga hingga jam tangan pintar.

Reuters melaporkan, fenomena tersebut salah satunya terlihat dari kehidupan Chip, mantan ilmuwan data di perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX. Ia memiliki saham SpaceX senilai US$ 3,5 juta.

Setelah kekayaannya meningkat seiring pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) SpaceX pada Juni 2026, Chip membeli meteorit seharga US$ 10 ribu dan mobil pemadam kebakaran US$ 5.000.

Pria berusia 50 tahun itu bahkan belum mengetahui secara pasti akan digunakan untuk apa mobil pemadam kebakaran itu. Salah satu kemungkinan, kendaraan ini akan dijadikan atraksi dalam pesta ulang tahun anaknya yang berusia tiga tahun.

Kekayaan baru dari saham SpaceX memberinya kebebasan untuk membeli barang-barang yang dianggapnya menyenangkan.

Chip juga mengincar jam tangan TAG Heuer Carrera Calibre 1887 SpaceX Chronograph dengan harga sekitar US$ 8.000. Jam tangan ini terinspirasi dari misi astronaut NASA John Glenn yang mengorbit Bumi pada 1962.

Fenomena munculnya kelompok orang kaya baru bukan hanya didorong oleh SpaceX. Reuters melaporkan, kenaikan pasar saham pada tahun lalu dan pencatatan saham perusahaan-perusahaan AI telah melahirkan kelompok miliuner baru di AS.

Diperkirakan sekitar 440 ribu miliuner baru muncul di Amerika Serikat akibat kenaikan pasar saham pada tahun lalu, dan belakangan, pencatatan saham perusahaan AI.

Kemunculan kelompok orang kaya baru tersebut menjadi perhatian industri barang mewah global yang tengah menghadapi tekanan akibat lemahnya pasar Cina dan ketidakpastian konsumen global.

"Industri ini semakin bersaing dengan industri lain dan kategori pengeluaran serta pembelian lainnya," kata mitra perusahaan konsultan Bain & Company, Federica Levato, dikutip dari Reuters, Kamis (9/7).

Menurut studi Bain & Company pada bulan lalu, pasar barang mewah pribadi yang bernilai 358 miliar euro atau US$ 406 miliar pada 2025 telah mengalami kontraksi selama dua tahun terakhir.

Meski demikian, Amerika Utara menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat bagi sejumlah perusahaan barang mewah, seperti LVMH, Richemont, Hermès, dan Gucci milik Kering pada kuartal yang berakhir 31 Maret 2026.

CEO Richemont Nicolas Bos pada Mei mengatakan kepada analis bahwa tingginya tingkat kepercayaan konsumen di Amerika berkontribusi terhadap kuatnya penjualan.

Miliuner AI Pilih Beli Tim Olahraga

Namun, perusahaan barang mewah menghadapi tantangan baru. Para miliuner teknologi memiliki selera dan prioritas pengeluaran yang berbeda dibandingkan kelompok kaya lama.

Mantan pimpinan unit go-to-market OpenAI Zack Kass misalnya, menggunakan keuntungan yang diperolehnya dari perusahaan pembuat ChatGPT itu untuk membeli tim olahraga profesional.

"Saya benar-benar menggunakan keuntungan OpenAI saya dan membeli tim olahraga profesional," kata Kass.

Kass yang pernah bermain bola voli saat SMA dan kuliah membeli sebuah tim bola voli profesional. Ia juga memiliki saham SpaceX yang nilainya tidak diungkapkan.

Selain membeli barang unik dan tim olahraga, kelompok kaya baru dari industri teknologi semakin tertarik pada pengalaman dan kesehatan.

Pendiri Harrison Lifestyle Concierge, Harrison Colcord, mengatakan pekerja teknologi tertarik menggunakan jam tangan pintar yang dapat memantau jumlah langkah dan kalori harian.

Robert, mantan engineer SpaceX yang memiliki saham perusahaan senilai sekitar US$ 4 juta, mengatakan dirinya dan sang istri baru-baru ini membeli Apple Watch baru.

Keduanya ingin semakin berfokus menjaga kebugaran. Mereka juga merencanakan perjalanan menggunakan kapal pesiar mengelilingi Alaska, meski sebagian besar kekayaan baru itu akan kembali diinvestasikan.

Meski jam tangan pintar semakin diminati, peluang pasar masih terbuka bagi produsen jam tangan mewah seperti Rolex dan Cartier milik Richemont.

Selain sebagai barang mewah, jam tangan dari merek ternama dianggap memiliki nilai investasi karena harga jual kembali sejumlah model sering kali lebih tinggi dibandingkan harga ritelnya.

Amerika Serikat merupakan pasar tujuan utama jam tangan Swiss pada 2025 dengan kontribusi 17% terhadap total ekspor global, menurut Federasi Industri Jam Tangan Swiss.

Miliuner Baru Lebih Jarang Beli Baju Mewah

Perbedaan paling mencolok antara kelompok kaya baru dan pemilik kekayaan lintas-generasi terlihat dari pengeluaran untuk pakaian.

Filippo Bianchi yang memimpin tim barang mewah global Boston Consulting Group mengatakan kelompok orang kaya baru membelanjakan uang sekitar sepertiga lebih sedikit untuk pakaian formal dan barang berbahan kulit dibandingkan mereka yang memiliki kekayaan lintas generasi.

Kelompok miliuner baru justru memprioritaskan pembelian aset tahan lama seperti properti, kapal pesiar, dan mobil.

Meski demikian, sejumlah merek seperti Chanel dan Hermès masih memiliki daya tarik berkat logo yang dikenal luas dan bersedia dikenakan oleh konsumen kaya.

Chip misalnya, tidak berencana membeli pakaian mewah, kecuali kemungkinan meningkatkan koleksi pakaian untuk aktivitas luar ruang.

Jaket terakhir yang dibelinya bahkan berasal dari Goodwill, jaringan toko barang bekas di Amerika Serikat.

"Saya sudah bertahun-tahun mengenakan kaus dan celana pendek," kata Chip. "Itulah yang membuat saya nyaman. Saya tidak melihat hal itu akan berubah."

Fenomena tersebut menunjukkan ledakan kekayaan dari industri AI dan teknologi belum tentu menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri barang mewah tradisional. Para miliuner baru memiliki pola konsumsi berbeda: dari membeli meteorit dan tim olahraga hingga memilih jam tangan pintar untuk menjaga kesehatan.

Bagi industri barang mewah, tantangannya kini bukan hanya menarik orang-orang kaya baru, tetapi juga meyakinkan mereka bahwa pakaian, tas, dan aksesori mewah layak mendapat bagian dari kekayaan yang dihasilkan boom teknologi.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...