Ericsson Nilai RI Masih Butuh Spektrum Lanjutan untuk Ekspansi 5G
Ericsson menilai dimulainya pemanfaatan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz menjadi langkah penting dalam mempercepat pembangunan jaringan 5G di Indonesia. Meski demikian, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara dan membutuhkan tambahan spektrum untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby mengatakan alokasi spektrum terbaru merupakan awal yang baik. "Menurut saya ini merupakan langkah awal yang baik. Sesuatu memang harus dimulai dan ini merupakan titik awal yang tepat," kata Nora dalam wawancara eksklusif dengan Katadata.co.id, Kamis (16/7).
Nora menjelaskan setiap pita frekuensi memiliki fungsi yang berbeda dalam pengembangan jaringan 5G. Spektrum 700 MHz berperan memperluas jangkauan jaringan sehingga layanan dapat menjangkau wilayah yang lebih luas. Sementara itu, pita 2,6 GHz dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas jaringan, terutama di dalam ruangan, sekaligus mendukung layanan yang membutuhkan kecepatan tinggi dan latensi rendah.
Meski demikian, pembangunan jaringan tidak boleh berhenti pada dua pita frekuensi tersebut.
"Ini bukan langkah akhir. Ke depan, spektrum mid-band lainnya juga perlu tersedia agar kapasitas jaringan dapat terus berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan di masa depan," ujarnya.
Indonesia Masih Tertinggal dari Negara ASEAN
Ericsson mengakui implementasi 5G Indonesia masih berada di belakang sejumlah negara Asia Tenggara. Nora mengatakan Indonesia baru memulai proses penyediaan spektrum sehingga perjalanan menuju implementasi 5G secara luas masih panjang.
"Betul, Indonesia membutuhkan spektrum untuk siap, baru kita bisa mulai proses monetisasi," katanya.
Meski demikian, ia optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan digital di kawasan. Menurutnya, Indonesia didukung sumber daya alam yang melimpah, talenta digital yang besar, serta posisi geografis yang strategis.
Selain itu, investasi di sektor digital juga terus meningkat, mulai dari pembangunan pusat data hingga kabel komunikasi bawah laut.
"Semua elemen tersebut perlu berkembang secara seiring dan saling mendukung agar Indonesia dapat mencapai potensi terbaiknya dan menempati posisi yang semestinya dalam peta ekonomi digital kawasan," ujarnya.
Operator Masih Membutuhkan Investasi Besar
Nora menambahkan pemanfaatan spektrum baru juga memerlukan investasi yang tidak sedikit dari operator telekomunikasi. Menurutnya, penyediaan spektrum harus dibarengi dengan strategi alokasi yang tepat agar operator dapat membangun jaringan secara bertahap sekaligus menjaga keberlanjutan investasi.
Ia memastikan Ericsson akan terus bekerja sama dengan pemerintah dan operator untuk memastikan pembangunan jaringan 5G berjalan sesuai kebutuhan pasar. Perusahaan juga akan terus mendorong penyediaan spektrum lanjutan, termasuk pita mid-band dan 3,5 GHz, agar kapasitas jaringan mampu mengikuti pertumbuhan layanan digital dan AI di Indonesia.
Peta Sebaran Spektrum RI 2026
Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi Adis Alifiawan mengatakan sebelum lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, total spektrum yang digunakan layanan mobile broadband mencapai 452 MHz. Ini terdiri dari pita 800 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, dan 2,3 GHz.
Setelah pemerintah menambahkan spektrum baru dari pita 700 MHz sebesar 70 MHz dan 2,6 GHz sebesar 190 MHz, total spektrum seluler nasional meningkat menjadi 712 MHz.
Saat ini komposisi spektrum masing-masing operator menjadi sebagai berikut:
Telkomsel
- Spektrum sebelum lelang: 165 MHz
- Tambahan pita 700 MHz: 20 MHz
- Tambahan pita 2,6 GHz: 80 MHz
- Total spektrum setelah lelang: 265 MHz
XLSmart
- Spektrum sebelum lelang: 152 MHz
- Tambahan pita 700 MHz: 30 MHz
- Tambahan pita 2,6 GHz: 50 MHz
- Total spektrum setelah lelang: 232 MHz
Indosat
- Spektrum sebelum lelang: 135 MHz
- Tambahan pita 700 MHz: 20 MHz
- Tambahan pita 2,6 GHz: 60 MHz
- Total spektrum setelah lelang: 215 MHz
Dengan tambahan tersebut, total spektrum yang dikuasai ketiga operator mencapai 712 MHz, terdiri atas:
- Telkomsel: 265 MHz atau sekitar 37,2% dari total spektrum seluler nasional
- XLSmart: 232 MHz atau sekitar 32,6%
- Indosat: 215 MHz atau sekitar 30,2%
Meski total spektrum meningkat signifikan, Adis menilai Indonesia masih kekurangan amunisi untuk memasuki era 6G.
Berdasarkan laporan GSMA, setiap operator idealnya membutuhkan sekitar 200 MHz spektrum yang bersebelahan untuk menggelar layanan 6G secara optimal. Sementara pita terbesar yang baru dilelang di Indonesia, yakni 2,6 GHz hanya menyediakan 190 MHz secara keseluruhan.
“Nggak sampai ke 200 MHz. Jadi kalau buat 6G, nggak sampai buat satu operator,” kata Adis dalam acara siskusi Masyarakat Telematika Indonesia atau Mastel, Kamis (9/7).
Adis mengatakan Indonesia pada akhirnya harus membuka pita frekuensi baru, terutama di mid-band. Hal ini karena low-band memiliki bandwidth terbatas, sedangkan high-band memiliki jangkauan pendek.
Menurut dia, pelepasan spektrum mid-band tidak hanya penting untuk menghadirkan layanan 6G, tetapi juga menopang perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Perkembangan AI diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan kapasitas jaringan secara drastis.
Adis mengatakan, kebutuhan untuk AI dengan 6G sangat berdampingan. “Kalau kita ingin AI kita terus berkembang penggunanya ya kita butuh 6G. Jadi 6G sama AI itu kayaknya sudah setali tiga uang, sudah satu bagian satu bundling,” ujarnya.
