TVRI Siarkan Final Piala Dunia Gratis, Nobar Digelar di 60 Titik
Kemenangan Spanyol atas Argentina pada final Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menjadi perayaan bagi para penggemar timnas Spanyol, tetapi juga momen kebersamaan masyarakat Indonesia. Pemerintah menghadirkan tayangan final secara gratis melalui TVRI dan menggelar nonton bareng alias nobar di lebih dari 60 titik berbagai daerah.
Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid mengatakan, penyelenggaraan nobar menjadi bukti bahwa teknologi dan penyiaran publik mampu menghadirkan pengalaman yang sama bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
"Kami berterima kasih kepada Bapak Presiden yang sudah memberikan sebuah hiburan untuk rakyat melalui tayangan Piala Dunia secara gratis melalui TVRI," kata Meutya dalam pernyataan tertulisnya, Senin (20/7).
Menurutnya, final yang mempertemukan Spanyol dan Argentina bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia menilai pertandingan ini juga menjadi momentum yang menghubungkan masyarakat Indonesia dengan jutaan penonton di berbagai belahan dunia.
"Kita tidak hanya terkoneksi dengan 60 titik yang diselenggarakan Komdigi, tapi begitu banyak manusia sedunia yang melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan," ujarnya.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi komunikasi membuat masyarakat dapat menikmati momen olahraga global secara bersamaan tanpa dibatasi jarak geografis. Karena itu, menurutnya, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi perekat kebersamaan.
Meutya menilai, Piala Dunia juga membawa pesan mengenai sportivitas dan semangat perjuangan yang melampaui hasil pertandingan. "Dalam sebuah pertandingan yang dinilai adalah ikhtiarnya. Menang kalah bukan berarti pasti yang paling baik saja. Bisa jadi tahun ini yang menang satu negara, berikutnya negara lainnya," katanya.
Selain menghadirkan tayangan gratis, pemerintah memanfaatkan momentum final Piala Dunia untuk mengembalikan peran TVRI sebagai penyiar resmi turnamen sepak bola terbesar di dunia. Apalagi setelah adanya jeda selama 24 tahun.
Menurutnya, kembalinya TVRI sebagai official broadcaster menjadi tonggak penting bagi televisi publik Indonesia. "Untuk teman-teman TVRI, ini sejarah. Karena terakhir TVRI menjadi official broadcaster itu 24 tahun lalu. Jadi setelah 24 tahun, baru kali ini kembali ke titik kebanggaan kita TVRI," ujarnya.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Kementerian Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan penayangan Piala Dunia melalui TVRI juga memastikan masyarakat dapat menyaksikan pertandingan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Selama ini, hak siar Piala Dunia umumnya dimiliki televisi berbayar atau stasiun televisi swasta.
"Biasanya nonton Piala Dunia itu bayar karena TV swasta yang membayar hak siarnya. Alhamdulillah tahun ini pemerintah melalui TVRI yang mengeluarkan anggarannya agar seluruh rakyat Indonesia bisa menikmati Piala Dunia tanpa harus bayar lagi, tanpa harus sewa dekoder dan lain-lainnya," kata Edwin.
Ia mengatakan kegiatan nobar digelar serentak di lebih dari 60 titik di berbagai daerah. Nobar dilakukan mulai dari Medan, Solo, Serang, Bukittinggi, Bali hingga Balai Monitoring Spektrum Frekuensi Radio Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi.
Pemerintah berharap penyelenggaraan nobar dan penyiaran gratis Piala Dunia melalui TVRI tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap ajang olahraga dunia, tetapi juga memperkuat fungsi teknologi digital sebagai sarana yang menghubungkan masyarakat Indonesia dalam satu pengalaman bersama.
