Analis Sebut XLSmart Jadi Pemenang Terbesar Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz
XLSmart, Telkomsel, dan Indosat menang lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi bulan ini. Meski begitu, analis saham menilai XLSmart menjadi operator seluler yang memperoleh manfaat paling besar, sementara kesenjangan penguasaan spektrum dengan Telkomsel dan Indosat kini semakin menyempit.
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, distribusi spektrum yang lebih merata menjadi perubahan struktural yang signifikan bagi industri telekomunikasi.
"XLSmart adalah pemenang relatif terbesar karena spektrum tambahan langsung memperkuat kapasitas yang dibutuhkan untuk integrasi jaringan pascamerger EXCL-Tri," kata Wafi kepada Katadata.co.id, Selasa (28/7).
Pembagian frekuensi kepada ketiga perusahaan sebagai berikut:
700 MHz:
- XLSmart menempati peringkat pertama dengan penawaran Rp 35,34 miliar per MHz untuk alokasi 30 MHz (2x15 MHz), atau total Rp 1,06 triliun.
- Telkomsel dengan penawaran Rp 32,125 miliar per MHz untuk alokasi 20 MHz (2x10 MHz) atau Rp 642,5 miliar.
- Indosat dengan penawaran Rp 25,374 miliar per MHz untuk alokasi 20 MHz (2x10 MHz) atau Rp 507,48 miliar.
2,6 GHz:
- Telkomsel menjadi peserta dengan penawaran tertinggi untuk memperoleh alokasi 80 MHz senilai Rp 545,84 miliar.
- Indosat berada di posisi kedua dengan alokasi 60 MHz senilai Rp 372 miliar
- XLSmart menempati posisi ketiga dengan alokasi 50 MHz senilai Rp 231,6 miliar
Sebelum lelang frekuensi 2026, total spektrum yang digunakan layanan mobile broadband mencapai 452 MHz, terdiri atas pita 800 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, dan 2,3 GHz. Setelah pemerintah menambahkan spektrum baru pada tahun ini, total spektrum seluler nasional meningkat menjadi 712 MHz.
Dengan tambahan tersebut, total spektrum yang dikuasai ketiga operator mencapai 712 MHz, terdiri atas:
- Telkomsel: 265 MHz atau sekitar 37,2% dari total spektrum seluler nasional
- XLSmart: 232 MHz atau sekitar 32,6%
- Indosat: 215 MHz atau sekitar 30,2%
Wafi menilai Indosat juga memperoleh keuntungan karena selisih penguasaan spektrum dengan Telkomsel semakin mengecil. Kondisi ini membuat daya saing Indosat meningkat, terutama untuk layanan data berkecepatan tinggi.
Sementara itu, Telkomsel masih mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar. Namun, keunggulan penguasaan spektrumnya tidak lagi sebesar sebelumnya. “Ini pertama kalinya distribusi frekuensi nasional sekompetitif ini,” ujarnya.
Persaingan Mulai Bergeser
Equity Research Analyst Sukarno Alatas menilai hasil lelang frekuensi akan mengubah pola persaingan operator seluler. Jika sebelumnya kompetisi didominasi perang tarif, kini persaingan diperkirakan bergeser ke kualitas jaringan.
Penguasaan spektrum saat ini menjadi lebih seimbang. “Maka, ruang diferensiasi akan lebih ditentukan oleh kualitas jaringan, efisiensi belanja modal dan kemampuan operator memonetisasi trafik data," katanya.
Ia menambahkan, XLSmart juga menjadi operator dengan keuntungan paling besar setelah memperoleh tambahan 30 MHz pada pita frekuensi 700 MHz. Tambahan spektrum ini dinilai mampu memperluas cakupan jaringan dengan biaya pembangunan yang lebih efisien sekaligus mempercepat realisasi sinergi pascamerger.
Di sisi lain, Telkomsel tetap mempertahankan keunggulan melalui kapasitas jaringan yang besar. Sementara Indosat memperoleh tambahan spektrum yang cukup untuk menjaga daya saing sekaligus memperluas layanan 5G.
Tambahan Spektrum Belum Tentu Dongkrak Permintaan
Meski demikian, kedua analis sepakat tambahan spektrum tidak otomatis meningkatkan permintaan layanan telekomunikasi.
Wafi menjelaskan spektrum merupakan instrumen untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas jaringan, bukan menciptakan permintaan baru. Sebaliknya, operator yang memiliki spektrum lebih besar akan mampu memberikan pengalaman jaringan yang lebih baik sehingga dapat menekan perpindahan pelanggan atau churn dan membuka peluang menawarkan layanan premium dengan harga lebih tinggi.
Ia menambahkan, bagi XLSmart, tambahan spektrum menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas layanan selama proses integrasi jaringan pascamerger. “Karena network integration pascamerger butuh spektrum sufficient untuk avoid degradasi layanan,” ujarnya.
Sementara bagi Indosat, tambahan kapasitas membuka peluang bersaing lebih agresif dengan Telkomsel di segmen enterprise dan business-to-business (B2B). Selam aini, segmen ini didominasi Telkomsel berkat keunggulan kualitas jaringannya.
Adapun bagi Telkomsel, menurut Wafi, prospek bisnis perusahaan tetap lebih banyak ditopang pengembangan pusat data dan layanan digital B2B dibanding sekadar penguasaan spektrum.
"Hasil lelang ini tidak mengubah tesis ini, tetapi memperkuat argumen bahwa persaingan industri telekomunikasi Indonesia akan semakin intensif dalam jangka pendek sebelum pada akhirnya menuju struktur industri yang lebih stabil," katanya.
Sukarno juga menilai manfaat tambahan spektrum baru akan terlihat secara bertahap. Dampaknya antara lain berupa peningkatan kualitas layanan, perluasan cakupan jaringan, penurunan biaya per gigabyte (cost per GB), serta potensi kenaikan average revenue per user (ARPU), dan retensi pelanggan dalam jangka menengah.
Namun, menurutnya, kemampuan operator memonetisasi spektrum baru tetap bergantung pada percepatan pembangunan jaringan. Selain itu juga adopsi layanan digital oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Karena itu, Sukarno mengatakan dampak terhadap kinerja keuangan operator diperkirakan tidak terjadi secara instan. "EXCL berpotensi mencatat peningkatan daya saing terbesar, sementara TLKM dan ISAT memperoleh manfaat melalui penguatan kualitas layanan dan efisiensi operasional," ujarnya.
