Makin Banyak Rumah Sakit Indonesia Pakai Robot Bedah, Kemenkes Siapkan 40 Unit
Rumah sakit di Indonesia mulai mempercepat adopsi teknologi robotik. Sejumlah rumah sakit swasta hingga pemerintah, seperti RS Bunda Jakarta hingga Siloam Hospitals, kini telah menggunakan sistem bedah robotik, sementara Kementerian Kesehatan menyiapkan pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit pemerintah.
Kemenkes mengumumkan akan mempercepat adopsi robot bedah secara nasional, termasuk pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit pemerintah, pengembangan AI kesehatan, serta pelatihan dokter.
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri peringatan pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik di Rumah Sakit Bunda Jakarta sekaligus peluncuran kolaborasi strategis antara Kementerian Kesehatan, Rumah Sakit Bunda, dan Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, robotik merupakan salah satu dari tiga teknologi kesehatan prioritas Kementerian Kesehatan bersama kecerdasan artifisial dan bioteknologi.
"Robotik adalah tren global. Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau," kata Menkes Budi dalam keterangan pers, Senin (27/7).
Berikut daftar rumah sakit yang mulai mengadopsi robot:
| Organisasi | Jenis robot | Kegunaan |
| RS Bunda Jakarta | Robot bedah | Operasi robotik berbagai spesialisasi; menjadi lokasi hampir 1.000 tindakan robotik yang disebut Kemenkes |
| Siloam Hospitals Kebon Jeruk | da Vinci Xi | Operasi robotik minimal invasif (urologi, digestif, ginekologi, dll) |
| Mandaya Royal Hospital Puri | da Vinci Xi generasi kelima | Operasi tumor hati, transplantasi ginjal, kanker rahim, dan operasi kompleks lainnya |
| RSUP Dr. Hasan Sadikin | Robot bedah | Salah satu Pusat Bedah Robotik Indonesia bentukan Kemenkes |
| RSUP Dr. Sardjito | Robot bedah | Salah satu Pusat Bedah Robotik Indonesia |
Siloam International Hospitals menggunakan tujuh sistem robotik yang beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar. Studi internal menunjukkan, teknologi ini memungkinkan sayatan yang lebih kecil, nyeri pascaoperasi yang lebih ringan, masa rawat inap yang lebih singkat, serta risiko komplikasi yang lebih rendah dibandingkan pendekatan konvensional.
Pada penggunaan sistem bedah robotik Da Vinci Xi, penelitian menunjukkan lama rawat inap hampir dua hari lebih singkat, risiko komplikasi pascaoperasi 44% lebih rendah, dan risiko kematian dalam 30 hari hingga 46% lebih rendah.
Dibandingkan laparoskopi konvensional, Da Vinci Xi juga menurunkan risiko konversi ke bedah terbuka 56% dan komplikasi pascaoperasi 10%.
Da Vinci Xi dikembangkan oleh Intuitive Surgical, perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai pionir dalam sistem pembedahan robotik di dunia. Selama lebih dari dua dekade, sistem Da Vinci telah digunakan dalam jutaan prosedur di berbagai negara, khususnya untuk operasi dengan tingkat kompleksitas tinggi.
Selain itu, Siloam Hospitals Asri berkolaborasi dengan Asan Medical Center melaksanakan transplantasi ginjal robotik, yang diklaim pertama di Indonesia, pada 5 Juni. Pasien penerima erupakan pria berusia 57 tahun yang didiagnosa mengalami penyakit ginjal stadium akhir akibat hipertensi. Pasien memiliki gangguan ginjal sejak Juli 2025 dan sebelumnya menjalani hemodialisis rutin dua kali per minggu.
Meski begitu, Menkes mengungkapkan bahwa pemanfaatan bedah robotik di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara, termasuk Singapura, Thailand, Malaysia, bahkan Vietnam. Oleh karena itu, pemerintah mengambil langkah agresif untuk mempercepat adopsinya melalui kebijakan nasional.
Salah satu langkah yakni pembentukan Komite Robotik Kemenkes yang bertugas menyusun arah pengembangan teknologi robotik di Indonesia, mulai dari kebutuhan teknologi, standar pelayanan, hingga strategi agar layanan dapat diakses masyarakat dengan biaya yang lebih efisien.
Di sisi pembiayaan, Kemenkes juga sedang mengevaluasi skema pembayaran melalui BPJS Kesehatan agar tindakan bedah robotik dapat masuk ke dalam sistem pembiayaan nasional sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut.
Sebagai fondasi menuju pemanfaatan robotik secara luas, Kementerian Kesehatan terlebih dahulu memperkuat layanan bedah minimal invasif melalui program nasional pelatihan operasi laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota. Program ini diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap operasi modern, seperti operasi hernia, usus buntu, kantung empedu, dan berbagai tindakan bedah digestif lainnya.
"Kami ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar," ujar Menkes.
Menkes menjelaskan bahwa pengembangan robotik tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan AI kesehatan Indonesia.
Indonesia saat ini membangun tiga basis data nasional yang saling terintegrasi, yaitu data kependudukan, data klinis, dan data genomik. Ke depan, data tindakan bedah robotik juga akan dihimpun secara nasional, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan AI yang membantu dokter meningkatkan ketepatan tindakan operasi. "AI bukan menggantikan dokter, tetapi menjadi augmented intelligence yang membantu dokter mengambil keputusan berdasarkan pembelajaran dari ribuan hingga jutaan data klinis," ujar Menkes.
Ia menambahkan, keterbukaan data operasi robotik akan memungkinkan Indonesia mengembangkan sistem pembelajaran berbasis AI yang dapat meningkatkan standar mutu tindakan bedah sekaligus tetap mempertahankan keputusan klinis di tangan dokter.
Dalam pengadaan robot bedah, Kemenkes juga akan mewajibkan adanya transfer teknologi, terutama untuk produksi komponen habis pakai (consumables) di dalam negeri. Kebijakan ini diharapkan mampu menurunkan biaya tindakan bedah robotik, sehingga semakin terjangkau bagi masyarakat sekaligus memperkuat industri alat kesehatan nasional.
Selain itu, Kemenkes akan memperluas pusat pelatihan bedah robotik di berbagai wilayah Indonesia agar akses pendidikan tidak terpusat di satu daerah maupun institusi tertentu.
Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara mengatakan Indonesia memiliki kapasitas riset yang kuat di bidang teknik biomedis, biomekanika, robotika, dan AI. Namun, keberhasilan inovasi sangat bergantung pada kolaborasi erat antara akademisi dan tenaga medis. "Fasilitasi ini sangat penting agar peneliti dan dokter dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan kolaborasi ini, kami optimistis Indonesia mampu menghasilkan inovasi alat kesehatan yang berdaya saing global," ujarnya.
Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk dr. Ivan Rizal Sini menyampaikan bahwa pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik merupakan hasil konsistensi lebih dari satu dekade dalam mengembangkan layanan bedah minimal invasif di Indonesia.
Ia menegaskan Rumah Sakit Bunda siap mendukung program pemerintah melalui pengembangan pusat pelatihan, berbagi pengalaman, serta memperluas transfer pengetahuan kepada dokter dari berbagai daerah. "Kami percaya pengalaman harus dibagikan. Semakin banyak dokter Indonesia yang menguasai bedah robotik, semakin besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat," kata Ivan.
Melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan industri, Kementerian Kesehatan menargetkan Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi bedah robotik di kawasan sekaligus memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional demi menghadirkan layanan kesehatan yang lebih berkualitas, merata, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Kehadiran robot di ruang operasi menandai babak baru layanan kesehatan di Indonesia. Dari rumah sakit swasta hingga fasilitas milik pemerintah, teknologi ini mulai dimanfaatkan untuk meningkatkan presisi tindakan medis sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan bedah modern.
