Indosat Serius Diversifikasi Layanan AI, Siapkan Investasi Hampir Rp 900 Triliun
PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) semakin serius mengembangkan bisnis akal imitasi (AI). Perusahaan menyiapkan investasi dalam ekosistem AI yang nilainya dapat mencapai lebih dari US$ 50 miliar atau Rp 893 triliun (kurs Rp 17.860 per US$).
CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan investasi itu mencakup setidaknya dua kelompok, yakni pembangunan pabrik AI dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Langkah ini menjadi bagian dari ambisi Indosat untuk mengubah posisi Indonesia dari negara konsumen AI menjadi produsen AI. “Indonesia memiliki keunggulan dengan adanya seluruh sumber daya alam di era AI. Dan kami akan membawa sumber daya manusia,” kata Vikram di Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (13/8).
Investasi AI hingga Rp 893 Triliun
Investasi terbesar Indosat di sektor AI saat ini yakni pembangunan AI Factory di Batang, Jawa Tengah melalui Zankore.
Zankore merupakan perusahaan patungan Indosat, Ooredoo Group, Nokia, dan Nvidia Corporation. AI Factory tersebut akan mengintegrasikan ekosistem komputasi AI, mulai dari GPU berperforma tinggi, jaringan, penyimpanan data, layanan GPU-as-a-service, hingga pengelolaan beban kerja secara menyeluruh.
Tahap awal AI Factory ditargetkan beroperasi pada paruh pertama 2027 dengan kapasitas sekitar 200 megawatt (MW). Untuk tahap tersebut, investasi yang dibutuhkan mencapai US$ 9 miliar atau Rp 160 triliun.
Zankore dirancang untuk terus dikembangkan hingga mencapai kapasitas 1 gigawatt (GW). Pengembangan menuju kapasitas tersebut diperkirakan membutuhkan investasi hingga US$ 50 miliar atau Rp 894,1 triliun.
AI Factory Indosat di Batang dirancang menjadi salah satu investasi infrastruktur AI terbesar yang pernah diumumkan di Asia Tenggara. Pada kapasitas penuh, fasilitas tersebut juga akan menyediakan layanan GPU-as-a-Service dan Token-as-a-Service.
Indosat Siapkan Talenta AI
Selain membangun infrastruktur komputasi, Indosat berinvestasi pada pengembangan SDM melalui NVIDIA AI Technology Center (NVIDIATC).
Proyek itu merupakan kerja sama Indosat, Nvidia Corporation, dan UGM dengan nilai investasi Rp 105 miliar. Investasi itu terdiri dari kredit GPU senilai Rp 35 miliar dan pengembangan SDM senilai Rp 70 miliar.
Kredit GPU merupakan kupon untuk mengakses GPU milik Nvidia dari jarak jauh.
Vikram menyatakan Indosat berkomitmen menambah investasi NVIDIATC hingga Rp 100 miliar dalam bentuk kredit GPU. Komitmen ini disampaikan setelah melihat tiga produk awal yang dikembangkan NVIDIATC, yakni aplikasi pendeteksi tuberkulosis e-Nose, solusi mitigasi bencana berbasis AI Tech4Disaster, dan aplikasi pertanian pintar SmartAgri.
Indosat menargetkan investasi pengembangan SDM itu dapat meningkatkan jumlah orang yang mampu menggunakan AI hingga dua juta orang pada 2030. Menurut Nvidia, saat ini pengguna AI di Indonesia baru sekitar 500.000 orang.
Vikram mengatakan keberhasilan NVIDIATC tidak hanya akan diukur dari produk yang dihasilkan pusat tersebut. Dampaknya akan dilihat terhadap bisnis AI Indosat, khususnya layanan GPU-as-a-Service dan Token-as-a-Service yang akan disediakan melalui investasi Zankore.
