7.500 Calon Mahasiswa BINUS Kini Diverifikasi AI, Cegah Joki Ujian
BINUS University memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat sekaligus memperkuat proses verifikasi identitas calon mahasiswa. Teknologi ini digunakan dalam proses pendaftaran dan telah mendukung verifikasi identitas lebih dari 7.500 calon mahasiswa BINUS di berbagai kampus.
Sebelumnya, proses verifikasi identitas calon mahasiswa dilakukan secara manual. Setiap identitas membutuhkan waktu sekitar 8-10 menit untuk diverifikasi. Dengan jumlah peserta yang mencapai 30-40 orang, staf dapat menghabiskan hampir satu hari kerja hanya untuk proses tersebut.
Proses manual juga membuka celah terjadinya praktik joki ujian atau impersonation. Untuk mengatasi persoalan tersebut, BINUS menerapkan AI Face Recognition yang dilengkapi liveness detection dan face comparison.
Melalui sistem ini, foto yang diambil langsung dari perangkat peserta dibandingkan secara real-time dengan data referensi. Teknologi tersebut digunakan untuk memastikan orang yang mengikuti proses ujian merupakan calon mahasiswa yang terdaftar.
Sistem tersebut berjalan di atas layanan Microsoft Azure dan mampu menangani hingga 750 transaksi per detik. Implementasinya mendukung proses verifikasi identitas bagi lebih dari 7.500 calon mahasiswa di kampus BINUS yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Malang, dan Medan.
BINUS juga merancang solusi tersebut agar mudah terintegrasi dengan sistem yang sudah ada. Sistem dilengkapi mekanisme fallback, manual override, serta pemantauan secara real-time untuk menjaga keandalan operasional dan penerapan AI yang bertanggung jawab.
Penggunaan AI memangkas waktu verifikasi identitas secara signifikan. Jika sebelumnya proses tersebut membutuhkan sekitar 10 menit, kini verifikasi dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 3 detik. BINUS menyebut hal ini menghasilkan peningkatan efisiensi proses hingga 95% dibandingkan metode manual.
Kebutuhan intervensi manual juga berkurang lebih dari 90%. Sementara itu, tingkat keberhasilan verifikasi mencapai lebih dari 90% pada percobaan pertama.
Dari sisi operasional, otomatisasi tersebut menghasilkan estimasi efisiensi biaya sekitar Rp195 juta atau US$ 12.000 per tahun.
Bagi calon mahasiswa, teknologi tersebut membuat proses pendaftaran menjadi lebih cepat sekaligus memberikan aspek keamanan dalam verifikasi identitas. Sementara bagi staf, waktu kerja yang sebelumnya tersita untuk proses verifikasi dapat dialihkan ke pekerjaan lain yang dinilai lebih bernilai.
President of BINUS Higher Education Stephen Wahyudi Santoso mengatakan penggunaan AI tidak ditujukan sekadar sebagai fitur teknologi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang mendampingi mahasiswa sejak proses pendaftaran hingga mempersiapkan karier.
"Melalui kolaborasi dengan Microsoft, BINUS menghadirkan pengalaman yang lebih cepat, relevan, dan personal, dengan tetap memastikan bahwa keputusan penting berada di tangan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan," ujar Stephen dalam keterangan pers, dikutip Jumat (14/8).
Penggunaan AI untuk verifikasi identitas tersebut merupakan bagian dari konsep Student Journey AI BINUS. Rangkaian solusi AI ini dibangun di atas Microsoft Azure dan diterapkan pada empat momen utama perjalanan pendidikan mahasiswa, yakni saat mendaftar, belajar, mencari dukungan literasi, dan menyiapkan karier.
Setelah proses pendaftaran, BINUS menggunakan AI dalam aktivitas pembelajaran melalui AI Forum Summary. Sistem yang ditenagai Azure OpenAI tersebut membantu dosen merangkum diskusi daring yang panjang menjadi poin-poin utama.
Dosen tetap dapat mengedit dan memverifikasi setiap ringkasan sebelum dipublikasikan kepada mahasiswa. Dalam uji coba, waktu untuk merangkum satu forum diskusi turun dari 60-120 menit menjadi sekitar satu menit atau lebih dari 95% lebih cepat.
Implementasi itu menghemat lebih dari 30 jam per kelas dalam satu semester. Selama periode pilot, sistem menghasilkan 652 ringkasan dan 615 di antaranya dipublikasikan. Tingkat penerimaan dosen mencapai 94,33%.
Penggunaan AI juga diterapkan pada layanan perpustakaan digital BINUS. Dengan memanfaatkan Azure AI, Azure Machine Learning, dan vector database, sistem memberikan rekomendasi koleksi berdasarkan konteks akademik mahasiswa, termasuk jurusan, mata kuliah, dan riwayat baca.
Sistem tersebut dirancang untuk melayani lebih dari 2.000 pengguna secara bersamaan. BINUS menargetkan kenaikan traffic layanan perpustakaan digital sebesar 8-12% dan peningkatan akses terhadap koleksi digital sebesar 12%-18%.
Pada tahap akhir perjalanan pendidikan, AI digunakan untuk mendukung persiapan karier mahasiswa melalui AI-Driven Career Growth Recommendations. Sistem yang ditenagai Azure OpenAI (GPT-4o-mini) dan terintegrasi dengan platform BINUSMAYA tersebut menyusun ringkasan profil, analisis kesenjangan kompetensi atau career gap analysis, rekomendasi sertifikasi, serta rencana pengembangan diri berdasarkan profil, kompetensi, dan tujuan karier mahasiswa.
Layanan tersebut diharapkan dapat memperluas kapasitas bimbingan karier. BINUS memperkirakan nilai kapasitas tenaga kerja yang dapat dihemat setara sekitar Rp144 juta per tahun sebagai target cost avoidance.
BINUS menyebut rangkaian penerapan AI tersebut sebagai bagian dari transformasi pendidikan tinggi dengan menempatkan mahasiswa sebagai pusat inovasi. Kolaborasi dengan Microsoft juga menekankan penggunaan AI yang tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan penting.
Country General Manager Microsoft Indonesia Gunawan Susanto mengatakan kolaborasi dengan BINUS menunjukkan bagaimana AI yang bertanggung jawab dapat menciptakan dampak bagi pendidikan Indonesia.
"Ketika teknologi dirancang di sekitar kebutuhan manusia, hasilnya adalah pengalaman yang lebih baik bagi mahasiswa, dosen, dan seluruh komunitas kampus," ujar Gunawan.
