Bagaimana Sapi Dikloning? Mengenal Teknologi Kloning yang Disebut Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menyinggung soal teknologi kloning untuk mendukung sektor peternakan saat menyampaikan pidato pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD. Apa itu teknologi kloning ternak?
Prabowo mengatakan pemerintah akan memanfaatkan keuntungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membeli perusahaan-perusahaan terbaik di dunia untuk mendapatkan teknologi, intellectual property (IP), manajemen, pasar, dan pengalaman.
“Saudara-saudara, sebagai contoh untuk meningkatkan hasil daging, kami perlu sapi yang banyak. Dengan itu, kami bisa mendapatkan teknologi kloning. Dengan kloning, kami bisa memperbanyak ternak,” kata Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD, Jumat (14/8).
Teknologi kloning yang dimaksud Prabowo, salah satunya dapat dilakukan dengan menggunakan metode Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT). Teknologi ini memungkinkan reproduksi hewan dengan membuat salinan genetik dari hewan yang dikloning.
Dikutip dari laman Telkom University, SCNT merupakan teknik kloning reproduktif yang dilakukan dengan mengganti inti sel telur dengan inti dari sel tubuh atau somatic cell hewan yang hendak dikloning. Sel somatik ini membawa informasi genetik lengkap dari hewan donor.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
- Ilmuwan mengambil sel somatik atau sel tubuh non-reproduktif dari hewan yang ingin dikloning (sapi A). Sel somatik bisa berasal dari kulit, otot, atau organ lain. Sel ini mengandung seluruh informasi genetik (DNA) lengkap dari sapi A.
- Ilmuwan mengambil sel telur yang belum dibuahi (oocyte) dari hewan betina lain (sapi B, yang disebut sapi penerima atau donor sel telur).
- Sel telur itu kemudian menjalani proses yang disebut enukleasi (enucleation), yaitu inti selnya diangkat dan dibuang. Inti sel telur mengandung DNA sapi B, yang tidak diinginkan dalam proses kloning ini. Hasilnya, sel telur kosong yang hanya memiliki sitoplasma dan organel lain, tetapi tanpa DNA.
- Inti sel somatik yang telah diambil dari sapi A kemudian dimasukkan ke dalam sel telur yang telah di-enukleasi dari sapi B. Maka, sel telur ini memiliki seluruh DNA dari sapi A (dari inti sel somatiknya), dan sitoplasma dari sel telur sapi B.
- Sel telur yang sudah “direkonstruksi” ini (dengan inti sapi A) kemudian diberi rangsangan listrik atau bahan kimia. Rangsangan ini bertujuan untuk mengaktifkan sel telur dan memicu pembelahan sel, seolah-olah telah terjadi pembuahan alami.
- Jika berhasil, sel telur akan mulai membelah dan membentuk embrio awal yang disebut blastokista. Embrio blastokista ini kemudian diimplantasikan ke dalam rahim seekor sapi betina pengganti (sapi C, yang disebut surrogate mother).
- Sapi pengganti ini akan membawa kehamilan hingga lahir. Jika kehamilan berhasil, sapi pengganti akan melahirkan seekor anak sapi yang secara genetik identik dengan sapi A, sapi yang sel somatiknya diambil. Anak sapi ini adalah kloningan dari sapi A.
Cina Investasi Besar-besaran untuk Kloning Sapi
Cina telah mengembangkan teknologi kloning sapi untuk memperbanyak ternak dengan karakteristik genetik unggul. Pengembangan teknologi ini bahkan diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sapi perah.
Salah satu proyek besar pernah diumumkan oleh Boyalife Group pada 2015. Perusahaan Cina ini berencana menginvestasikan 200 juta yuan atau sekitar US$31,3 juta untuk membangun fasilitas kloning hewan di Tianjin.
Menurut laporan China Daily, fasilitas itu dirancang memiliki laboratorium seluas 15.000 meter persegi, pusat pemeliharaan hewan, bank gen, serta fasilitas edukasi. Pada tahap awal, fasilitas itu ditargetkan dapat menghasilkan 100 ribu sapi kloning untuk kebutuhan daging dan susu. Kapasitasnya kemudian direncanakan meningkat hingga 1 juta sapi.
Boyalife menggandeng Sooam Biotech Research Foundation dari Korea Selatan yang menyediakan teknologi kloning, sedangkan Boyalife menyediakan investasi infrastruktur.
Pada 2023, ilmuwan dari Northwest University of Agricultural and Forestry Science and Technology berhasil mengkloning tiga sapi yang disebut sebagai “super cow”. Ketiga sapi ini dikloning dari sapi Dutch Holstein Friesian dengan produktivitas susu sangat tinggi. Para ilmuwan mengambil sel somatik dari telinga sapi donor, kemudian menggunakan teknik SCNT dan menempatkan hasil rekonstruksi tersebut ke sapi pengganti.
Anak sapi pertama lahir pada 30 Desember 2022 melalui operasi caesar dengan bobot 56,7 kilogram. Dua sapi lainnya kemudian lahir di Lingwu, Ningxia Hui Autonomous Region.
Tantangan Kloning Hewan Ternak
Dikutip dari Telkom University, SCNT merupakan proses yang sangat tidak efisien. Tingkat keberhasilannya sangat rendah, dengan banyak embrio yang gagal berkembang atau kehamilan yang berakhir dengan kegagalan. Kloning seringkali menghasilkan anak hewan yang lebih besar dari normal, dengan organ yang membesar. Ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan dan peningkatan risiko kematian saat lahir.
Ada kekhawatiran tentang kesehatan jangka panjang, umur pakai, dan ketahanan genetik hewan kloning. Apakah mereka rentan terhadap penyakit tertentu? Apakah mereka memiliki masa hidup yang lebih pendek? Jika kloning dilakukan dalam skala besar dengan hanya sedikit individu unggul, ini dapat mengurangi keragaman genetik dalam populasi ternak. Keragaman genetik penting untuk ketahanan terhadap penyakit atau perubahan lingkungan di masa depan.
Selain itu, banyak konsumen masih skeptis atau memiliki kekhawatiran etis tentang konsumsi daging atau susu dari hewan kloning. Persepsi ini sangat memengaruhi penerimaan pasar. Meskipun badan pengawas seperti FDA AS menyatakan bahwa daging dan susu dari hewan kloning aman untuk dikonsumsi, kekhawatiran publik tetap ada.
Ada juga kekhawatiran dari sisi etika. Apakah kloning melanggar hak-hak hewan? Apakah etis untuk memperlakukan hewan sebagai “mesin reproduksi” untuk keuntungan manusia? Selain itu, ada kekhawatiran bahwa kloning hewan dapat membuka pintu bagi kloning manusia, serta memunculkan pertanyaan tentang kesehatan hewan ternak.

