Indosat Targetkan Melatih 2 Juta Talenta AI hingga 2030
PT Indosat Tbk menargetkan dapat melatih hingga 2 juta talenta Indonesia di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hingga 2030. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan produk dan talenta AI sendiri.
SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Ovidiana Nomia mengatakan pengembangan talenta menjadi salah satu kunci untuk membangun ekosistem AI di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak talenta, tetapi masih membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
“Indonesia sangat banyak memiliki talenta. Yang kita (masih) kekurangan adalah kesempatan,” kata Ovidiana dalam sesi diskusi IdeaFest 2026 di Jakarta, Jumat (4/9).
Ovidiana mengatakan Indosat bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dan Adobe menyiapkan program pelatihan AI dengan target awal 27 ribu orang hingga akhir 2026. Jumlah tersebut kemudian akan diperluas sehingga mencapai 2 juta talenta Indonesia pada 2030.
“Karena pada akhirnya semua ini harus dipimpin oleh orang Indonesia. Kalau kita ingin menjadi produsen AI, maka harus dilakukan oleh orang Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan talenta menjadi penting karena Indonesia perlu meningkatkan posisi dari sekadar pengguna menjadi pembuat teknologi. Selama ini, masyarakat Indonesia dinilai lebih banyak mengonsumsi berbagai produk teknologi, termasuk AI.
Selain pengembangan talenta, Ovidiana mengatakan Indosat juga melihat AI sebagai teknologi yang tidak lagi dapat dihindari. Industri telekomunikasi memiliki posisi penting karena penggunaan AI membutuhkan teknologi dan jaringan sebagai fondasi.
“AI ini sudah tidak bisa dihindari. Ke sinilah kita menuju,” ujarnya.
Indosat juga tengah membangun ekosistem AI yang mencakup berbagai lapisan teknologi. Ovidiana menyebut perusahaan bekerja sama dengan sejumlah pemain teknologi global seperti Nokia dan INVIDIA untuk mengembangkan ekosistem tersebut, sekaligus membangun kapasitas talenta di Indonesia.
Menurutnya, pengembangan AI tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman terhadap pekerjaan manusia. Justru, kemampuan menggunakan AI dapat menjadi faktor yang meningkatkan daya saing seseorang di dunia kerja.
Ia mencontohkan profesi dokter. Menurut dia, seorang dokter yang memiliki kemampuan menggunakan AI berpotensi lebih unggul dibandingkan dokter yang tidak memiliki kemampuan tersebut.
“Seorang dokter nanti bisa kalah dengan dokter yang punya capability AI,” ujar Ovidiana.
Karena itu, peningkatan keterampilan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan akibat AI. Ovidiana mengatakan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut perlu dibuka lebih luas agar masyarakat Indonesia dapat mengambil manfaat dari perkembangan teknologi.
Beda Generasi, Beda Interaksi dengan AI
Di sisi lain, Co-Founder IdeaFest Ben Subiakto menyoroti perubahan cara generasi muda berinteraksi di tengah semakin intensifnya penggunaan AI. Menurutnya, generasi 20-an kini semakin terbiasa menggunakan AI dalam bekerja dan berinteraksi dengan teknologi.
Padahal menurutnya, teknologi seharusnya digunakan secara bijak. “Ini harus digunakan tanpa menghilangkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi dan membangun hubungan dengan sesamanya,” ujar Ben.
Penggunaan AI juga mulai masuk dalam proses kreatif IdeaFest. Ben mengatakan dirinya dan tim menggunakan AI sebagai bagian dari proses brainstorming untuk mencari ide dan mengembangkan tema acara.
Menurut Ben, AI bahkan telah menjadi semacam teman dalam proses bertukar gagasan. Namun, ide yang dihasilkan AI tidak serta-merta digunakan. Tim IdeaFest tetap melakukan penyaringan dan mengembangkan kembali ide tersebut dengan perspektif manusia.
