Profesor NUS Ungkap Kemampuan yang Wajib Dimiliki Siswa di Era AI

Kamila Meilina
8 Oktober 2026, 08:30
nus, ai,
Katadata/Kamila Meilina
Dosen di Departemen Keuangan NUS Business School Prof. Johan Sulaeman (kanan) dan Profesor Pemegang Gelar Kehormatan Low Tuck Kwong di Bidang Keuangan, Ekonomi, dan Real Estate NUS Business School Prof. Sumit Agarwal (kiri) menjawab pertanyaan dalam diskusi bersama media di NUS Business School, Singapura, Rabu (7/10/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan membuat siswa perlu memiliki kemampuan baru. Akademisi NUS Business School menilai siswa tidak cukup hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga harus bisa menilai dan mengkritisi jawaban yang diberikan teknologi tersebut.

Department of Finance, NUS Business School and Director of the Sustainable and Green Finance Institute, NUS, Profesor Johan Sulaeman mengatakan siswa perlu memahami kemampuan sekaligus keterbatasan AI. Mereka juga harus mampu mengevaluasi kembali respons yang diberikan teknologi tersebut.

"Yang paling penting adalah pendidikan berpikir kritis," kata Johan dalam diskusi di NUS Business School, Singapura, Rabu (7/10).

Menurut Johan, siswa tidak seharusnya langsung mempercayai jawaban yang diberikan AI. Mereka perlu dilatih untuk mempertanyakan, mengevaluasi, dan mengkritisi respons tersebut.

Ia mengatakan siswa perlu belajar bagaimana "tidak setuju dengan AI" ketika menemukan jawaban yang tidak tepat. Kemampuan ini diperlukan agar siswa tidak hanya menjadi pengguna yang menerima informasi dari AI, tetapi dapat memanfaatkan teknologi secara lebih efektif.

"Bagaimana bersikap kritis, bagaimana mengevaluasi respons secara kritis, dan memasukkan semuanya ke dalam alur kerja," ujarnya.

Dengan kemampuan tersebut, siswa tidak hanya dituntut untuk memberikan pertanyaan kepada AI. Mereka juga perlu mampu menyusun pertanyaan dengan baik, memeriksa jawaban yang diberikan, serta mencari jawaban yang lebih tepat.

Johan menilai pendidikan tetap memiliki peran penting meskipun AI semakin mampu memberikan informasi dan membantu proses belajar. Menurut dia, interaksi langsung antarmanusia juga tetap diperlukan untuk membangun kemampuan berpikir kritis.

AI Bantu Guru Pahami Kesulitan Siswa

Sementara itu, Profesor Pemegang Gelar Kehormatan Low Tuck Kwong di Bidang Keuangan, Ekonomi, dan Real Estate NUS Business School Prof. Sumit Agarwal mengatakan AI dapat membantu guru memahami sumber kesulitan yang dialami setiap siswa.

Ia mencontohkan pembelajaran matematika. Dua siswa dapat memperoleh jawaban yang sama, tetapi menggunakan metode yang berbeda. Dengan mengetahui proses yang digunakan siswa, guru dapat memahami bagian yang belum dipahami oleh masing-masing siswa.

"Jika saya bisa memahami bagaimana mereka melakukannya, saya bisa memahami kebingungan individu tersebut," kata Sumit.

Menurut Sumit, informasi mengenai proses tersebut dapat membantu guru menentukan cara yang lebih tepat untuk menjelaskan materi kepada setiap siswa.

Dengan demikian, penggunaan AI dalam pendidikan tidak hanya berkaitan dengan mengajarkan siswa cara menggunakan teknologi. AI juga dapat dimanfaatkan untuk membantu guru memahami proses belajar siswa secara lebih individual.

Namun, kemampuan berpikir kritis tetap diperlukan agar siswa tidak bergantung pada jawaban AI. Siswa perlu mampu menggunakan AI sebagai alat bantu, sekaligus menilai apakah informasi yang diberikan benar dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...