CEO Intel dan CEO Broadcom Kompak Ramal Booming AI Berlanjut hingga 2028

Desy Setyowati
12 Oktober 2026, 20:13
CEO Broadcom Hock Tan dan CEO Intel Lip-Bu Tan, dbs, ai,
Katadata/Desy Setyowati
CEO Broadcom Hock Tan dan CEO Intel Lip-Bu Tan
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

CEO Intel Corporation Lip-Bu Tan dan CEO Broadcom Hock Tan memperkirakan booming industri akal imitasi (AI) masih akan berlanjut setidaknya dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Keduanya menilai permintaan terhadap infrastruktur komputasi AI masih jauh melampaui kapasitas pasokan.

Dalam diskusi bersama CEO DBS Bank Tan Su Shan, Hock Tan mengatakan permintaan infrastruktur komputasi akan lebih besar daripada kemampuan industri untuk memasoknya pada 2027 dan 2028. Kondisi tersebut bahkan berpotensi berlanjut hingga 2029 dan 2030.

"Saya tahu apa yang kemungkinan terjadi dalam dua tahun ke depan, yakni 2027 dan 2028. Permintaan infrastruktur komputasi akan jauh lebih besar daripada yang bisa kami pasok," kata Hock Tan dalam acara DBS Asia Future Forward 2026 di Singapura, Senin (12/10).

Menurut dia, keberlanjutan pertumbuhan itu bergantung pada seberapa cepat model AI terdepan atau frontier AI models diadopsi oleh perusahaan dan masyarakat.

Jika adopsi teknologi itu berlangsung cepat, kebutuhan komputasi AI berpotensi terus meningkat secara eksponensial selama lima tahun ke depan. Sebaliknya, pertumbuhan bisa melambat jika penyebaran teknologi AI terhambat atau kemampuan pengembangan model AI tidak lagi meningkat secara eksponensial.

Lip-Bu Tan sependapat. Ia menilai industri AI belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan dalam dua hingga tiga tahun mendatang. "Jadi, saya setuju dengan Hock. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kami tidak melihat perlambatan," ujar dia.

Pasokan Memori dan Listrik Jadi Tantangan

Meski permintaan AI masih kuat, Lip-Bu Tan menyoroti sejumlah kendala yang berpotensi memperlambat perkembangan industri. Tantangan ini mencakup pasokan memori, keterbatasan rantai pasok, serta kebutuhan energi untuk menjalankan infrastruktur komputasi.

Menurut dia, perkembangan AI yang berlangsung cepat telah menciptakan tekanan terhadap rantai pasok industri. Kebutuhan energi juga menjadi persoalan karena pengoperasian infrastruktur AI memerlukan daya yang besar.

Hock Tan menambahkan, persoalan pasokan sejumlah komponen berpotensi membaik seiring waktu. Ia mencontohkan kelangkaan wafer dan memori yang menurutnya dapat berubah dalam satu hingga beberapa tahun mendatang.

Namun, ia mengingatkan bahwa ketersediaan modal justru dapat menjadi salah satu kendala terbesar bagi perkembangan infrastruktur AI. "Hal yang mungkin menjadi kendala terbesar adalah modal," kata Hock Tan.

Ia menjelaskan, kemampuan perusahaan AI menghasilkan pendapatan akan memengaruhi keberlanjutan investasi infrastruktur. Perusahaan yang mampu menghasilkan pendapatan dari pengembangan model AI dan berbagai produknya akan memiliki kemampuan lebih besar untuk membiayai kebutuhan komputasi.

Model AI Harus Hasilkan Nilai Ekonomi

Di sisi lain, Hock Tan menilai keberlanjutan pertumbuhan industri AI tidak cukup hanya mengandalkan penjualan perangkat keras, seperti cip dan memori.

Menurut dia, perusahaan pengembang model AI harus mampu menghasilkan nilai ekonomi dari teknologi yang mereka kembangkan. Nilai tersebut menjadi faktor penting untuk menopang pertumbuhan industri dalam jangka panjang.

Ia mencontohkan perusahaan AI seperti Anthropic dan OpenAI, serta pengembangan model Gemini oleh Google, yang berpotensi mendorong pertumbuhan apabila mampu menciptakan nilai melalui model AI mereka.

Lip-Bu Tan juga menekankan pentingnya adopsi AI oleh perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan model bisnis baru. Ia menilai perusahaan yang mampu menghasilkan nilai nyata dan memperluas penggunaan AI di kalangan korporasi berpeluang menjadi pemain yang sukses.

Dengan demikian, pertumbuhan industri AI ke depan tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan teknologi tersebut menghasilkan manfaat ekonomi bagi penggunanya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...