PM Lawrence Wong Ungkap Cara Singapura Lindungi Pekerja dari Tren PHK Imbas AI

Desy Setyowati
13 Oktober 2026, 08:05
ai, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong
DBS
CEO DBS Tan Su Shan dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menegaskan pemerintah dan perusahaan perlu memprioritaskan perlindungan pekerja dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurut dia, tantangannya bukan sekadar mempertahankan pekerjaan, melainkan memastikan pekerja dapat beradaptasi ketika teknologi mengubah kebutuhan tenaga kerja.

Lawrence mengatakan, penerapan AI berpotensi menghilangkan pekerjaan rutin yang selama ini menjadi bagian dari proses belajar karyawan, terutama mereka yang baru memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, perusahaan perlu memikirkan kembali cara melatih dan membimbing pekerja muda di tengah otomatisasi.

Dalam diskusi bersama CEO DBS Tan Su Shan, Lawrence menilai pendekatan yang berfokus pada penggantian pekerja dengan teknologi mungkin terlihat lebih mudah dalam jangka pendek. Namun, langkah ini berisiko menimbulkan persoalan yang lebih besar dalam jangka panjang.

"Ini jalan yang lebih sulit, tetapi saya percaya ini juga jalan yang lebih berkelanjutan," kata Lawrence dalam acara DBS Asia Future Forward 2026 di Singapura, Senin (12/10).

Ia menjelaskan, otomatisasi yang mengesampingkan pekerja dapat memicu semakin banyak orang kehilangan posisi dalam perekonomian dan meningkatkan penolakan terhadap AI serta teknologi.

Lawrence menekankan pentingnya menjaga hubungan yang kuat antara perusahaan, pekerja, dan pemerintah agar proses transisi teknologi dapat dikelola bersama.

Menurut dia, Pemerintah Singapura tidak mengabaikan kemungkinan terjadinya kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Namun, perusahaan perlu memberikan pemberitahuan kepada pekerja yang terdampak agar mereka memiliki kesempatan mengikuti pelatihan dan mencari pekerjaan baru.

Pemerintah, lanjutnya, juga perlu hadir melalui berbagai program dukungan untuk membantu pekerja menghadapi perubahan itu. "Saya pikir jika kita semua bekerja bersama, kita bisa mengelola transisi dan dampak perubahan teknologi," ujarnya.

AI Berisiko Menghilangkan Proses Belajar Pekerja Muda

Lawrence juga menyoroti dampak AI terhadap proses pembelajaran di tempat kerja. Menurut dia, sejumlah pekerjaan rutin yang biasanya dikerjakan karyawan baru memiliki nilai penting karena menjadi bagian dari proses mereka memahami pekerjaan dan membangun kompetensi.

Ia mencontohkan sejumlah tugas yang pernah dilakukannya ketika masih menjadi pegawai muda, seperti melakukan riset, mencatat hasil rapat, menyiapkan pidato, dan membuat presentasi untuk atasannya.

Saat ini, sebagian pekerjaan tersebut berpotensi diambil alih oleh AI. Namun, Lawrence mengingatkan perusahaan agar tidak menghilangkan proses pembelajaran yang selama ini diperoleh karyawan melalui tugas-tugas tersebut.

"AI akan menggantikan semua pekerjaan rutin itu. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak memotong pelajaran yang datang dari proses tersebut," katanya.

Oleh karena itu, perusahaan perlu lebih sengaja dalam merancang pelatihan dan pendampingan bagi karyawan muda. Menurut Lawrence, pendekatan ini perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap profesi, termasuk dokter, pengacara, bankir, dan engineer.

Ia juga menyoroti perlunya memikirkan kembali program pelatihan dan keterampilan baru agar pekerja muda tetap memiliki kesempatan mengembangkan kompetensi di tengah perubahan teknologi.

Lawrence menilai pekerja tetap perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan membuat penilaian yang baik. Kemampuan menggunakan alat AI saja tidak cukup untuk menggantikan kompetensi tersebut.

Pekerja Perlu Beradaptasi di Era AI

Lawrence mengatakan, penerapan AI yang berlangsung terlalu cepat berisiko memicu disrupsi tenaga kerja dalam skala besar. Menurut dia, perubahan perlu dikelola dengan memberikan waktu bagi pekerja untuk menyesuaikan diri.

Ia menilai transformasi ekonomi akibat AI tidak harus berlangsung selama puluhan tahun. Namun, jika proses penerapannya berlangsung selama sekitar satu dekade, pekerja akan memiliki lebih banyak waktu untuk beradaptasi, mengikuti pelatihan, dan mencari peluang pekerjaan baru.

"Jika terjadi selama 10 tahun, akan ada waktu untuk semua orang menyesuaikan diri, terkait pekerjaan dan melatih pekerja, mengidentifikasi di maan peluang pekerjaan, dan menyesuaikan pekerja dengan peluang-peluang ini. Itu yang kami lakukan di Singapura," kata dia.

Lawrence berharap pendekatan tersebut dapat membantu dunia mengelola dampak AI terhadap tenaga kerja. Ia menegaskan, pemerintah, perusahaan, dan pekerja perlu bekerja sama agar manfaat teknologi dapat dirasakan tanpa mengabaikan kebutuhan manusia yang terdampak perubahan.

Menurut dia, pendekatan yang mengutamakan pekerja mungkin lebih sulit dalam jangka pendek, tetapi penting untuk menjaga hubungan antara perusahaan, pekerja, dan pemerintah serta mendukung keberlanjutan transformasi teknologi dalam jangka panjang.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...