Menkeu: Perlu Dana 247 Miliar Dolar AS untuk Capai Net Zero Emisi

Indonesia perlu dana pembiayaan dari swasta dan juga luar negeri untuk merealisasikan target net zero emission pada 2060 sesuai Komitmen Paris.
Image title
Oleh Doddy Rosadi - Tim Publikasi Katadata
26 Agustus 2021, 12:41
Katadata SAFE 2021 #14|Sri Mulyani Indrawati
Katadata

Pembiayaan menjadi hal yang sangat krusial dalam merealisasikan Komitmen Paris (Paris Agreement) yaitu mencapai net zero emission. Penurunan emisi karbon tidak bisa dibiayai oleh APBN tapi juga perlu pendanaan dari Lembaga keuangan global seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, biaya yang diperlukan untuk mengurangi emisi 1.081 juta ton karbon diperkirakan mencapai 247 miliar dolar Amerika. “Bahkan, hingga 2030 biaya yang diperlukan bisa mencapai 266 miliar dolar Amerika. Ini berarti belanja mitigasi kementerian Lembaga selama ini baru menutup 21 persen dari kebutuhan pembiayaan untuk bisa capai Komitmen Paris yaitu net zero emission pada 2060. Kita perlu mobilisasi dana yang berasal darii swasta baik domestic dan global. Karena itu perlu formulasi kebijakan di bidang iklim investasi yang mampu menarik lebih banyak lagi investasi untuk bangun sektor energi dan transportasi hijau,” kata Sri Mulyani Indrawati saat menjadi keynote speaker di SAFE Forum 2021 yang diselenggarakan Katadata, Kamis (26/8/2021) di sesi Financing Sustainability.

Sri Mulyani menambahkan, omnibus law yang sudah disahkan pemerintah mengubah secara radikal kebijakan tentang investasi. Kata dia, pemerintah memberikan kemudahan unryk investasi di bidang sustainable development seperti green project atau juga proyek mitigasi dan adaptasi.
Selain itu, pemerintah juga menggunakan instrument fiskal seperti tax holiday, tax allowance dan juga fasilitas APBN lain untuk memberikan insentif kepada green project yang bisa membantu Indonesia menurunkan emisi karbon.

“Komitmen untuk mencapai net zero emission pada 2060 harus terus dilakukan secara konsisten. Dibutuhkan tidak hanya kerja keras dan policy tapi juga pendanaan. Yang paling besar pada strategi energi dan transportasi yang kontribusinya 11 persen terhadap penurunan emisi karbon namun memakan dana yang paling besar. Harus mulai disiapkan perpindahan dari non renewable energy menjadi renewable energy dan dari trasnportasi kotor menjadi clean transportation,” jelas Sri Mulyani.

Dia menambahka ada lima sektor yang memberikan kontribus besar terhadap penurunan emisi karbon. Pertama kehutanan dengan kontribusi 17 persen: kedua sektor energi dan transportasi dengan kontribusi 11 persen; ketiga sektor limbah dengan kontribusi 0,38 persen; keempat pertanian dengan kontribusi 0,32 persen dan terakhir sektor industri dengan kontribusi 0,1 persen.

Sementara itu, Vice President Asian Development Bank Bambang Susantono mengatakan, Bank Pembangunan Asia menyiapkan dana sebesar 80 miliar dolar Amerika untuk pembiayaan perubahaan iklim. Kata Bambang, proyek pendanaan untuk perubahan iklim tidak harus komersial tapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan.
“Jadi, ADB akan membantu negara yang mempunyai kebutuhan untuk pembiayaan perubahaan iklim dengan sejumlah stakeholder dengan menerapkan pertimbangan salah satunya adalah keberlanjutan,” kata Bambang.
Selain itu, ADB juga tengah melakukan kampanye “ADB will facilitate early retirement power plant. Kata Bambang, upaya ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap pembangkit listrik batu bara dan mulai beralih ke pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan.

“Namun, yang menjadi kendala adalah apabila power plant itu baru bisa ditutup 30 tahun lagi, apa iya kita harus menunggu selama itu. Jadi kita mengusulkan untuk menutup Sebagian pada 15 tahun dan memberikan pendanaan untuk membangun pembangkit listrik dengan energi terbarukan,” jelasnya.

Kata Bambang, ADB tidak ingin proses pengurangan ketergantungan terhadap pembangkit listri batubara mengganggu pembangunan yang sedang dilakuka oleh negara itu. Karena itu, solusinya adalah dengan menggurangi penggunaan pembangkit listrik baru bara secara bertahap.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait